Anakku Bukan Anak Suamiku

Aku melahirkan seorang anak yang bukan anak suamiku. Anak ini adalah buah hasil perselingkuhanku dengan pria lain. Sungguh menyesal rasanya hati ini jika mengenang segala kebaikan suamiku.

Kisah nyata anakku bukan anak suamiku

Kisah nyata anakku bukan anak suamiku

Aku dan suamiku terpaut umur yang jauh, kami berbeda 20 tahun, namun itu bukan suatu penghalang bagi kami. Suamiku sudah pernah menikah dan bercerai karena suamiku divonis mandul.

Suamiku menikahi aku karena ingin sekali memiliki keturunan. Pernikahan kami sangat bahagia, ditambah lagi saat aku dinyatakan hamil setelah 2 tahun menikah, alangkah senangnya suamiku.

Namun kebahagian kami hanya sebentar, karena aku mengalami keguguran dan pada saat itu aku belum berani mengatakan pada suami ku, karena aku takut hancur hatinya.

Pada saat 1 bulan jadwal melahirkan aku baru jujur pada suamiku bahwa anak kami telah tiada.

Betapa emosinya dia saat itu. Ketika aku keguguran di usia 3 bulan dia tidak mengetahuinya, sangat marah, kesal dan hampir aku diceraikannya.

Tetapi bukan tanpa alasan aku menyembunyikan pada suamiku, karena aku takut hatinya hancur.

Setelah kejadian itu kami pisah rumah, akan tetapi sesekali kami masih berhubungan layaknya suami istri.

Namun suamiku jarang sekali menemuiku, bisa 3 bulan sekali dan bertemu hanya ketika berhubungan badan saja.

Bahkan lebaran saja kita masing masing, aku mulai merasa kesepian, gundah, merasa seperti janda, seperti tidak punya suami.

Dan….
Suatu ketika aku kuliah di S2 ku, aku bertemu pria 1 kampus denganku. Dia juniorku di kampus namun umur nya lebih tua 2 tahun diatasku.

Lama lama kami sering sekali bertemu, bahkan setiap hari kami jumpa, akhirnya kami pacaran meskipun dia tau aku sudah bersuami.

Baca juga:  Sifat Asli Suamiku Baru Kusadari Setelah Tujuh Tahun Hidup Bersama

Aku lebih sering bertemu pacarku ketimbang suamiku, bertemu suamiku paling cepat 2 bulan sekali, walau begitu dihatiku masih tetap suamiku.

Sampai ahirnya aku melakukan hubungan suami istri dengan pacarku, sangat hina perbuatanku.

Di malam sebelum kami berhubungan, aku dan pacarku datang ke sebuah club ternama di Jakarta karena teman 1 kampus kami berulang tahun, pada saat itu kami mabuk parah dan pada ahirnya terjadilah kecelakaan itu.

Dibulan yang sama suamiku mengajak bertemu. Seperti biasa dia hanya menemuiku ketika ingin berhubungan badan, lalu aku layani dia sebagai seorang istri walau rumah tangga kami sudah tidak normal lagi.

Di bulan berikutnya aku merasa sudah akhir bulan tapi aku tidak datang bulan, lalu aku membeli testpek dan setelah aku gunakan hasilnya positif.

Betapa kagetnya ketika kudapati garis itu ada dua, aku sungguh binggung, senang bercampur sedih.

Karena…. Aku tidak mengetahui siapa ayah pasti anak ini… suamiku atau pacarku.

Aku binggung antara aku gugurkan atau aku biarkan.
Keputusan yang sangat sulit.
Kalau aku gugurkan aku berfikir bagaimana kalau ini benar anak suamiku.

Lalu aku memutuskan untuk membiarkan anak ini lahir.

Bulan berikutnya aku memberi tahu kabar bahagia ini, namun suamiku tidak bahagia, dia tidak percaya tentang kehamilanku ini karena dia berfikir dirinya mandul.

Dan pada saat itu suamiku menyuruhku untuk mengakui anak siapa yang di dalam kandunganku, aku mengelak dan aku bilang anak suamiku.

Hari hari kehamilanku aku tidak ditemani suamiku, suamiku tak percaya itu adalah anaknya sampai aku memutuskan untuk USG 4 dimensi.

Benar saja wajahnya sangat mirip dengan pacarku dan disaat itu aku yakin ini bukan anak suamiku.

Baca juga:  Suami Selingkuh Saat Aku Hamil

Aku tetap mempertahankan anak ini dengan harapan suamiku tidak mengetahui akan hal ini. Suamiku akan bahagia dan kembali seperti suami ku yang dulu, suami yang baik dan memiliki waktu untukku, suami yang sangat mencintaiku bukan yang seperti sekarang yang butuh untuk berhubungan suami istri saja.

Tibalah pada saat aku mau melahirkan. Aku melihat ada raut bahagia dari wajah suamiku. Dengan setia dia menemani persalinanku sampai dia adzankan anak itu ketika lahir, aku diciumi dan dibelai manja.

Bahagia sekali suamiku pada saat itu, aku pun turut senang karena aku sangat mencintainya dan sangat… sampai detik ini… bukan karena harta yang ia miliki… tapi memang aku sangat mencintainya.

Lanjut cerita….

Hasil golongan darah.

Pada saat itu keluarlah hasil golongan darah di hari terahirku di rumah sakit.

Suamiku bertanya dengan tegas, kenapa hasil golongan darah anak kita berbeda. Aku menjawab memang golongan darah anak dan orangtua tidak harus sama.

Suamiku menjawab.. sayang golongan darah kita sama sama O tidak mungkin anak kita berubah menjadi A. Seharusnya anak kita O, kalau lain dari itu berarti bukan anakku.

Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan?

Aku tak tega dengan suamiku, tapi akhirnya aku mengakui perbuatanku.

Alangkah marahnya dia, kecewa, dan sedih. Harapannya selama ini sirna. Pada saat itu dia belum berkata talak padaku.

Suamiku setelah kejadian itu lebih sering menghubungiku, walau selalu memarahiku, tapi dia selalu berkata sangat menyayangiku. Dia sangat berat untuk melepasku karena memang dia sudah terlanjur mencintaiku.

Namun dia tidak bisa menerima bayi ini. Dia meminta bayi ini diberikan di panti asuhan, tapi hatiku berat bagaimanapun itu adalah anaku dan akan lebih baik aku berikan kepada pacarku saja karena memang dia ayah kandungnya.

Baca juga:  Karma Hidupku Menjadi Istri Kedua

Namun suamiku menolak karena dia tidak rela jika suatu saat aku memiliki komunikasi lagi dengan pacarku.

Suamiku selalu menangis karena ulahku ini… maafkan aku suamiku… aku baru menyadari kalau dia sangat mencintaiku.

Aku menyesal sekali, aku berfikir suamiku hanya ingin badanku saja, namun nyatanya aku salah menilai, dia sangat mencintaiku.

Diam diam suamiku sudah menyiapkan rumah baru sebesar istana dan apartemen untuk menyambut buah hatinya.

Aku tak menyesal kehilangan itu semua tapi aku menyesal jika aku kehilangan sebuah berlian dan berlian itu adalah suamikuuuu yang berhati mulia, dan aku menukar sebuah berlian dengan kerikil, sangat aku menyesal.

Kisahku ini menjadi pelajaran untuk orang orang banyak untuk tidak mengkhianati suami yang terlihat cuek dan tak banyak waktu. Komunikasi sangatlah penting didalam.suatu hubungan…

Maafkan aku suamikuu

***
Punya pengalaman hidup untuk dishare ke pembaca ceritacurhat.com yang lain? Tulis dan kirim cerita Anda di sini!

Loading...

Leave a Reply