Penyesalan Terdalam

Salah satu penyesalan terdalam yang aku rasakan adalah ketika duduk di bangku SMA dan berpacaran dengan teman kelas. Kini aku harus menganggung risiko menjadi anak gadis tak perawan. Takut dan cemas menggelayut di pikiranku setiap hari.

Penyesalan terdalam

Penyesalan terdalam

Semenjak aku masuk SMA, aku berpacaran dengan teman sekelasku. Namanya Dio.

Ya, dia laki-laki tampan diantara teman-temanku yang lainnya. Dia baik, pengertian, menomor satukan aku di dalam hidupnya.

Awalnya aku berpacaran dengannya itu tidak memakai perasaan, karena aku mencintai kakak kelasku yang bernama Arul.

Setiap aku meminta putus, Dio selalu menolak dan memintaku untuk tetap bersamanya. Walau aku sudah menyakitinya berkali-kali.

Karena kak Arul tidak kunjung mendekatiku akhirnya aku pasrah saja bersama Dio. Meski aku tidak begitu mencintainya, setidaknya dia selalu ada untukku.

Beberapa bulan membina hubungan, kami ke warnet. Biasa anak jaman itu kalau pacaran ya di warnet. Mumpung banyak warnet yang menyediakan bilik-bilik yang tertutup.

Katanya untuk menjaga privacy tapi nyatanya warnet dijadikan tempat pacaran dan melakukan hubungan terlarang.

Dan begitulah yang aku alami. Terjadilah kejadian yang membuatku sangat menyesal!! Ya, aku kehilangan keperawananku. Di warnet bersama Dio.

Aku bingung. Aku gelisah. Dan aku ketakutan. Tapi Dio menenangkanku, berjanji akan terus bersamaku dan akan menikahiku kelak.

Aku yang tak punya pilihan selain mempercayainya hanya mengiyakan semua perkataannya sambil membesarkan hati bahwa dia akan menepati janjinya.

Tapi apa lacur. Sebulan kemudian Dio mendiamkanku.

Kita sekelas, tapi kita seperti yang tidak saling mengenal. Kami status pacaran tapi dia tidak menggubrisku sama sekali. Aku kirim sms pun tidak pernah dia balas. Aku telepon tidak pernah dia angkat! Jahat!

Baca juga:  Banyak Dosa, Sadarkan Hamba Ya Allaah

Aku pun emosi, dan aku bertengkar dengannya. Aku caci-maki dia, nama binatang sudah aku lontarkan dan aku memutuskan hubungan ini.

Aku pikir dengan putus itu adalah jalan keluar dari kerumitan hubungan kami, tapi ternyata aku salah. Aku gagal move on. Aku selalu menangisinya.

Bahkan sekarang dia semakin keren, dan eksis. Ya, aku menyesal! Mah, pah. Maapin dede yah. Maapin dede.

Kisah cinta yang menyedihkan, semoga tidak ada wanita lain yang mengalami seperti yang aku rasakan.

***
Punya pengalaman hidup untuk dishare ke pembaca ceritacurhat.com yang lain? Tulis dan kirim cerita Anda di sini!

Loading...

Leave a Reply