Kecewa, Ternyata Aku Menikahi Suami Orang

Aku menuntut kekasihku bertanggung jawab setelah aku hamil. Tapi yang kudapatkan adalah kenyataan pahit kalau ternyata dia berstatus suami orang. Sungguh kecewa hati ini.

Menikahi suami orang

Menikahi suami orang

Saya seorang ibu berusia 24 tahun, saat ini telah mempunyai satu anak. Awal kisah dimulai beberapa tahun lalu saat saya meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Tangerang dimana saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana.

Hari demi hari saya bekerja untuk kelangsungan hidup saya di kota besar, suatu hari rekan kerja saya yang berinisial A, yang saat ini telah menjadi suami saya, mulai melakukan pendekatan ke saya.

Tiap hari kami bertambah dekat dan mempunyai perasaan yang sama. Dia sering ke kontrakan saya untuk membawakan makanan dan menjenguk saya.

Dan kami nyaman dengan hubungan ini akhirnya sampai suatu hari kami berani untuk melakukan hubungan terlarang dan saya pun hamil.

Usia kandungan saya sudah memasuki 4 bulan, saya pun meminta pertanggung jawaban tetapi dia memaksa untuk mengeluarkan janin di kandungan saya.

Saya seorang perempuan tidak tega untuk melakukan aborsi. Sampai akhirnya kehamilan saya tercium oleh keluarga saya dan keluarga meminta pertanggungjawaban kepada keluarga suami saya.

Tapi kenyataan yang saya dapatkan sangat pahit, ternyata saya harus menikah dengan suami orang yang telah mempunyai satu anak.

Selama ini ternyata saya dibohongi, dan saya harus menerima nasib untuk menjadi istri kedua dia.

Demi Allah Demi Rasulullah saya tidak mengetahui kalau suami saya telah mempunyai istri. Dia menyembunyikan semua ini kepada saya selama berbulan-bulan kami menjalani hubungan.

Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan dengas status saya sebagai istri kedua. Hidup saya pahit, cuman sakit hati yang saya dapatkan setiap hari.

Baca juga:  Saya Tidak Berdaya Sebagai Suami

Demi Allah saya tidak pernah berniat untuk merebut suami orang, saya dibohongi sampai ahirnya saya hamil, mau tidak mau saya harus menikah demi anak yang dikandungan saya.

Hari demi hari ku lalui dengan rasa sakit, tangis, kecewa karena suami saya tidak bisa bersikap adil kepada saya dan anak saya, padahal saya dengan dia menikah secara sah bukan siri.

Hak dan kewajiban saya sama dengan istri pertama secara hukum dan agama, karena saya menikah di bawah hukum.

Tapi dia tidak menafkahi saya dan anak saya sampai anak saya berusia sekian bulan ia tidak pernah memberi nafkah padahal kebutuhan anak saya banyak belum susu dan kebutuhan lainnya.

Jangankan untuk menafkahi, menanyakan pertumbuhan dan perkembangan anak saya pun tidak pernah ia tanyakan. Belum lagi mertua saya yang seolah-olah tidak peduli dengan cucunya sendiri.

Saya sangat sakit hatii karena suami dan mertua seakan akan tidak menganggap kami ada, saya merasa didzolimi dengan keadaan seperti ini.

Saya bingung harus berbuat apa, saya berpikir untu bercerai tapi saya sangat merasa kasihan terhadap anak saya, karena anak saya yang akan menjadi korban dari perceraian kami, dan korban ketidakadilan suami dan mertua saya.

Saya meminta saran dari para pembaca apakah saya harus mengorbankan rumah tangga saya harus berahir atau tetap bersama suami saya yang tidak bersikap adil terhadap saya dan anak saya sendiri demi anak saya.
Wassalam.

***
Punya pengalaman hidup untuk dishare ke pembaca ceritacurhat.com yang lain? Tulis dan kirim cerita Anda di sini!

Loading...

Leave a Reply