Karena Bully-an Kalian, Kini Aku Jadi Pemberani

Aku Chacha (nama samaran). Aku pernah mengalami hal yang sangat imbas bagiku. Saat itu aku duduk di kelas 6 SD, seharusnya ini menjadi masa yang akan penuh dengan kenangan indah karena setelah 6 tahun kita belajar bersama akhirnya kita akan mengingat dunia baru. Tapi, tak seperti yang kubayangkan.

Setiap hari, ku berangkat sekolah seperti biasanya. Di sekolah aku tidak hanya belajar, tapi juga bermain dengan teman kelasku.

Aku sangat akrab dengan teman sebangku ku, dia juga teman ku dari semasa TK dulu. Namanya, Maya (nama samaran). Aku tak hanya akrab dengan Maya dan juga dengan Afa (nama samaran) dan Rena (nama samaran).

Di kelas aku dikenal sebagai anak yang cengeng, cupu, dan lemah. Keseharianku di sekolah tidak lain, menjadi bahan olok-olokan teman-temanku.

Tak perlu ku sebut satu-satu siapa mereka. “Si Chacha mah bengeng ihh …”, “Di gituin doang nangis, emang cengeng” kurang lebih seperti itu cacian mereka.

Saat belajar pun mereka menjauhi aku, mungkin karena aku tak sepandai-pandainya mereka. Ketika aku kesulitan dalam mengerjakan tugasku, tak ada yang mau membantu ku.

Maya juga tak mengerti dengan tugas itu. Di saat itu aku mencoba bertanya pada temanku Vivi (nama samaran) karena dia sangat pintar, tapi dia tidak mau membantu aku, dia tidak menjawab pertanyaan ku.

Akhirnya Maya yang harus bertanya pada Vivi, dan Vivi menjawab pertanyaan dari Maya. Tapi kenapa? Kenapa Vivi tidak menjawab pertanyaan ku? Apa kamu gak mau aku pintar seperti mu? Lalu mengapa? Tak hanya itu.

Suatu saat, di jam istirahat rok yang ku pakai basah, karena tertumpah minuman. Temanku menyoraki aku dan kata “Ehh .. lihat tuh rok si chacha basah, ngompol tuh .. hahahaha” dengan perkataan nya itu, aku hanya menganggapnya sebagai candaan biasa.

Baca juga:  Apakah Aku Lesbian atau Hanya Membutuhkan Kasih Sayang?

Tapi, semua isi kelas menertawakan aku dan mengolok-olok aku, karena perkataan itu. Sungguh, tak kusangka teman akrab ku pun ikut menertawakan aku.

Saat itu, ku tak bisa menahan udara mata lagi. Ku langkahkan kakiku pergi mereka semua. Ku lari ke toilet murid dan sendiri menangis, sejadi jadinya sampai ku berlalu jam pelajaran, dan yang lebih mengiris hatiku saat itu, adalah karena tak ada dari mereka yang menghampiriku di toilet.

Sampai ku bertemu salah seorang teman ku Ema (nama samaran) datang menghampiriku, dia murid baru di sekolah ku saat kelas 5.

Detik-detik kelulusan ini, di sekolah ku diadakan acara maaf-maafan. Teman-temanku yang biasa mengolok-olok aku pun minta maaf padaku, tentu saja aku memaafkan kesalahan mereka itu.

Ku pikir setelah itu mereka akan bersikap baik, ternyata aku salah. Setelah itu, sikap mereka masih seperti dulu. Ku selalu memendam rasa sakit hatiku itu, aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun akan masalah ku di sekolah.

Setelah kelulusan berakhir, aku masuk SMP dengan tenang. Di sekolah baruku itu aku tak bertemu teman SD ku dulu, yang suka mengolok-olok aku.

Namun ada seorang teman SD ku yang masuk SMP yang sama dengan ku, dia seorang laki-laki. Untunglah di sekolah baruku itu kelas putri dan putra terpisah, jadi aku gak satu kelas dengan teman SD ku itu, dan aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengan teman SD ku kecuali Maya, dan Afa.

Disekolah baruku itu, aku ingin mengubah segalanya, dan aku pun berhasil. Aku hapuskan kecengengan ku, dan bersikap berani.

Akhirnya aku punya banyak sahabat di SMP yaitu, Shafa, Elfa, Ghina, dan masih banyak lagi yang tak bisa ku sebutkan semuanya.

Selama aku SMP aku merasa sangat bahagia memiliki banyak sahabat yang baik seperti mereka sampai saat ini.

Aku juga sangat berterimakasih kepada teman-teman SD ku dulu yang pernah mengolok-olok aku, karena kalian juga aku bisa berubah menjadi seorang yang pemberani dalam.

Untuk teman SD ku, kalau kalian baca ini, aku mau kalian bisa berubah juga menjadi pribadi yang lebih baik. Aku hanya ingin kalian sadari kesalahan kalian di hari lalu. Semoga kalian bisa menjadi pribadi yang baik.

Baca juga:  Bimbang, Kembali ke Suami atau Pisah Selamanya

Untuk sahabat SMP ku, terimakasih kalian sudah mau terima aku menjadi sahabat kalian, aku suka kalian akan tetap menjadi sahabat ku sampai kapanpun itu.

***
Punya pengalaman hidup untuk dishare ke pembaca ceritacurhat.com yang lain? Tulis dan kirim cerita Anda di sini!

Loading...

Leave a Reply