Konseling.Net – Sewaktu umur saya 16 tahun saya memberanikan diri untuk merantau ke sebuah kota di Kalimantan, setelah 3 hari disana, saya bertemu dengan seorang pria yang bernama Indra, dan akhirnya saya menikah dengannya, tapi kebahagiaan belum saya temui, karena setelah menikah keadaan ekonomi keluarga kecil saya masih sangat buruk.
Akhirnya 5 tahun kemudian keadaan ekonomi saya membaik, dan saya mempunyai seorang anak laki-laki. Setelah anak saya berumur sekitar 8 tahun suami saya mulai berselingkuh, sampai membawa pulang selingkuhannya ke rumah.
Sebagai seorang istri tentu saja saya merasa sangat sakit hati. Dan itu terjadi selama bertahun-tahun, berangkat sore dan pulang pagi, alasannya pasti kerja lembur di kantor. Setiap pulang pasti dalam keadaan mabuk.
Pernah juga saya mengajukan perceraian ke kantor pengadilan agama, tapi suamiku tidak mau kuceraikan, katanya karena masih sayang. Tapi itu tidak membuatnya sadar akan kelakuannya, malah semakin menjadi kalau pulang mesti mabuk sampai rumah kadang mengamuk menghancurkan barang-barang dan dia sering memukuli saya.
Suatu hari simpanannya datang ke rumahku mengakui bahwa dia adalah simpanan suami saya. Merasa sangat sakit hati, ku putuskan untuk kembali pada orang tuaku di Jawa. Baru setelah 4 bulan saya di rumah orang tua saya, suami menyusul saya dan membawa saya kembali ke rumah. Bilangnya tak akan mengulangi perbuatannya lagi, tapi ternyata suami saya tidak berubah malah kelakuannya semakin menjadi-jadi.
Di dalam hati saya tersirat keinginan untuk membalas kelakuan suami saya, kata teman saya, saya ini cantik kenapa tidak membalas kelakuan suami saya? biar suami saya tau gimana rasanya disakiti dan di hianati.
Beberapa tahun kemudian, suamiku jatuh sakit yang harus di operasi dan inilah yang menjadi awal pertobatan suamiku, tapi suamiku masih juga main perempuan lagi. Lalu suamiku terkena penyakit Diabetes yang membuatnya benar-benar tidak mengulangi perbuatannya.
Tapi ternyata cobaan tak berhenti sampai disini, masih ada masalah keluarganya suamiku yang suka mencampuri urusan rumah tanggaku sampai akhirnya aku terusir dari rumahku sendiri. Untung saja ada seorang teman yang sangat baik padaku dia dengan senang hati meminjamkan uang kepada saya untuk membangun sebuah rumah.
Semua diluar dugaan ternyata teman saya itu ada perhatian lebih buat saya dan dia meminta saya untuk menjadi istrinya padahal dia juga tau bahwa saya sudah punya suami. Sampai sekarang aku tidak berani memutuskan apa aku harus bertahan atau memilih bercerai dengan suamiku dan menikah dengan temanku itu??



jangan pikirkan suamimu dia biarkan kamu terusir itu sama saja dia menceraikanmu. maka cari lah penggantinya!
kalo aku jadi mba akan aku tinggalkan suami ky gitu mulai hidup baru dengan teman mba
Menurut saya mbak, tetap bertahan dengan suami mbak yang sah saat ini. Saya percaya bahwa kesusahan dan penderitaan hidup pasti ada ujung dan akhirnya. karena emas murni tidak terjadi begitu saja, tapi lewat dapur penderitaan. sabar saja ya mbak, saya sangat yakin pertolongan Tuhan akan tiba pada waktunya. Mbak akan menjadi pemenang atas diri mbak sendiri dan atas suami mbak tercinta. Justru moment ujian inilah yg menguji hati mbak. Jadi jangan mundur dan menyerah, semakin terus bertahan dan setia. Maka saatnya suami mbak akan berubah dan bertobat. Asal mbak tatp berdoa dan percaya saja, kuasa Tuhan sanggup memulihkan suami mbak dan keluarga mbak. Amin.
Ada banyak kejadian yang lebih oarah yang dialami rekan saya, sangat menderita tapi sekitar belasan tahun penderitaan itu akhirnya berakhir dengan pemulihan dan bahagianya rumah tangga tersebut. Ingat ya mbak, bahwa Tuhan sangat sayang sama mbak, seberapa besar hati mbak untuk tetap bertahan dan memenangkan suami mbak, maka sebesar itulah kemenangan yang akan mbak terima dan petik. Yakin dan percaya saja mbak. Amin.
pendapat orang2 jdikan sbgai acuan mba yg terpenting dengarkan kata hati kecil mba sendiri. tober rebellion my facebook.