Mas Joko suamiku sebetulnya adalah pria yang baik, sebelum menikah kami pacaran agak lama sehingga sedikit banyak aku sudah tahu sifat-sifatnya. Selain gagah dan disiplin mas Joko sering menolong teman dan tetangga, hal ini yang membuat orang-orang menyukainya. Tetapi sikap itu adalah palsu menurutku. Bagiku mas Joko hanyalah lelaki yang membuatku menderita.

Mas Joko sangat aktif dalam banyak organisasi, selain kerja dia juga memimpin organisasi kemasyarakatan di dekat rumah membuat hubungannya dengan banyak orang terjalin baik. Orang-orang menghormati dia sebagai teman dan tetangga yang bisa diandalkan.

Begitu pula di kantor, dia adalah kepala bagian yang terkenal disiplin terhadap aturan. Postur tubuh yang tinggi besar membuatnya sangat berwibawa di kalangan anak buahnya.

Tetapi apa yang mas Joko tunjukkan kepada diriku terbalik 180 derajat. Di rumah dia tak lebih seorang pecundang. Mungkin perhatiannya sudah habis dia berikan kepada tetangga, teman dan anak buahnya dan lupa memberinya ke aku, istrinya. Kesibukannya menyita waktu dan memberi jarak antara kami. Jika kutanya dia malah marah dan membentakku, “jangan ganggu aku, kerjaan kantor lagi banyak”, ucapnya. Mas Joko memang sering membawa pekerjaan kantornya ke rumah.

Aku juga tidak pernah diajaknya jalan-jalan atau sekedar refreshing, padahal aku butuh istirahat dari kejenuhan rumah tangga. Aku kan bukan pembantunya yang tugasnya cuma memasak dan mengurus keperluannya saja. Kalau dia butuh pembantu carilah pembantu jangan mencari istri. Jika kuajak jalan mas Joko selalu menyuruhku pergi sendiri saja karena dia sibuk, tak ada waktu buat jalan-jalan.

Setelah punya anak satu, sikap suamiku tidak berubah. Kepada anaknya juga dia bersikap sama, acuh dan cuek. Mungkin dia berpikir jika sudah memberi uang bulanan maka kewajibannya sebagai suami sudah cukup. Terus terang aku kesal dengan sikapnya, apalagi jika anak kami menangis, bukannya berusaha mendiamkannya, dia malah memarahinya karena mengganggu konsentrasi kerjanya.

Belakangan ini, sikapnya juga semakin dingin di tempat tidur. Jika sebelumnya kami biasa melakukannya 2 kali seminggu sekarang paling hanya sebulan sekali. Mas Joko juga sering menjelek-jelekkanku jika sedang marah, bahkan terkadang dia memukulku di depan anak kami.

Aku yang dari desa ini mungkin dianggap kampungan olehnya yang sudah mendapat jabatan tinggi di kantornya. Anehnya sikapnya sangat terbalik terhadap tetangga dan teman-temannya. Kepada orang lain sikapnya sangat ramah dan sopan tapi terhadapku menatap saja tidak apalagi tersenyum.

Atau mungkin dia sudah punya wanita selingkuhan di luar. Jika ini yang terjadi aku sangat bersedih, aku tengah menyelidiki kemungkinan itu. Semoga saja kecurigaanku itu tidak terbukti, aku tidak peduli dengan sikap cueknya asalkan dia tetap setia sebagai suami, oh apa yang akan terjadi denganku nanti? tolong aku pembaca.

**
Punya cerita curhat untuk dibagi ke pembaca? kirim tulisan anda disini.