Menu
Loading...

Suamiku Tidak Pernah Tulus Mencintaiku

Sudah 14 tahun lamanya aku berumahtangga dengan seorang aparatur negara. Meski gajinya kecil aku tetap bersyukur dan tidak pernah menuntut yang lebih.

Suami tidak mencitaiku

Suami tidak mencitaiku

Aku hidup dengan sederhana tapi tidak dengan suamiku, justru dia yang tidak bisa hidup apa adanya. Belum lagi dengan kebiasaannya yang suka ke diskotik dan karaoke.

Sebenarnya sudah sejak awal menikah suamiku sudah mulai berselingkuh. Waktu itu hatiku hancur tapi aku berusaha memaafkannya. Karena kupikir selingkuhannya berada jauh di Aceh sedangkan suamiku di Jawa, mungkin semua itu hanya untuk selingan saja.

Setelah anak pertama kami lahir kelakuan suamiku tambah parah. Dia mulai gila judi, BPKB motor digadaikan, hutang bank tanpa sepengetahuanku.

Bertahun tahun gajinya selalu tinggal sedikit, untuk mencukupi kebutuhan hidup harus dibantu orangtuaku. Meski keadaan ekonomi sulit, suamiku masih saja tergoda perempuan lain di diskotik.

Hatiku yang dulu belum sepenuhnya sembuh sekarang harus merasakan sakit lagi. Aku tidak dicintai suamiku, inginnya aku bercerai tapi orangtua melarang karena kasihan anak akan jadi korban dan niat itupun aku urungkan, semuanya demi anak.

Seiring berjalannya waktu kelakuan jelek suamiku tidak bisa berubah. Lagi lagi anak yang membuatku bertahan karena aku ingat untuk punya anak bagiku tidak mudah.

Tiga tahun menikah baru punya anak, kalau anak disia siakan sungguh aku berdosa sama Allah karena dulu aku begitu mengharapkannya.

Waktu terus berjalan hingga tiba saatnya suamiku mengikuti ujian seleksi masuk pendidikan guna menaikkan karirnya. Setiap hari siang dan malam aku berdoa untuk keberhasilannya. Tapi di tahun pertama suamiku gagal karena dia buat masalah.

Loading...

Aku tetap memberinya semangat, menguatkan hatinya untuk tidak putus asa. Aku tidak pernah berhenti berdoa karena aku yakin dibalik kesuksesan suami ada istri. Setahun kemudian dia berhasil lulus dan aku juga hamil anak kedua.

Semua anugerah itu sepertinya tidak bisa mengubah kelakuan buruk suamiku. Semakin tinggi jabatannya semakin tinggi pula level perempuan karaoke yang dikencaninya, hingga suamiku terlilit hutang begitu banyak dan mengancam pekerjaannya.

Disitu aku benar benar sudah capek dengan tingkahnya. Aku bersikukuh ingin pisah tapi tetap saja orangtuaku melarang karena kasihan anak-anak.

Hingga keluarga sepakat untuk melunasi hutang suami. Semua tanah hak ku dijual untuk melunasi hutang-hutangnya. Keluarga berpendapat mungkin kejadian kali ini bisa membuatnya sadar.

Meski hutang tinggal sedikit kita gadaikan sertifikat rumah, nanti kalau orangtua sudah dapat lagi uang, sertifikat akan ditebus. Tapi Allah berencana lain, ibuku jatuh sakit dan butuh biaya pengobatan, sehingga sertifikat rumah tidak tertebus.

Kini malah suamiku lari pergi meninggalkan hutang padaku dan meninggalkan pekerjaannya. Akhirnya ini yang aku terima setelah semua pengorbananku.

Aku bingung bagaimana nanti aku harus menghidupi kedua anakku. Mohon doanya semua pembaca, semoga Allah memberi jalan keluar bagiku.

***
Punya pengalaman hidup yang menarik untuk dishare ke pembaca yang lain? tulis dan kirim cerita anda disini.

Loading...
One Response
  1. Chairul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *