Aku menikah dengan suamiku karena hamil duluan, meskipun dia hobby selingkuh aku beruntung dia mau mengawiniku. Tapi kini, setelah usia pernikahan kami satu tahun, dia masih senang mengganggu dan berpacaran dengan wanita lain. Haruskah aku pergi meninggalkannya?

April 2007 adalah awal pertemuanku dengannya, di sebuah kafe di Surabaya. Aku datang ke sana bersama dengan teman-teman kampusku. Aku berumur 22 tahun sekarang. Dari pintu aku masuk ada seorang cowok menatapku lama. Awalnya aku merasa risih karena memang tidak suka berinteraksi dengan orang asing.

Aku abaikan dia dan berpura-pura menggandeng teman cowokku. Kukira dia tidak ingin mengenalku karena sandiwara tadi. Tapi ternyata saat kita berpapasan, dia menatapku dengan pesona dan mengajakku berkenalan.

Aku terima baik perkenalan itu. Baru itu aku mau diantar pulang cowok yang baru aku kenal. Sesampainya di rumah dia berpamitan pada mamaku, yang telah tiada April tahun lalu, dengan sopan dan sungkem. Aku senang melihatnya, dia cowok yang baik.

Esok hari dia berpamitan keluar kota. Tak lama kamudian dia datang lagi ke Surabaya dan menghubungiku. Dia mengajakku keluar. Senang rasanya karena ternyata aku bersimpati kepadanya. Dia pun sangat hangat kepadaku. Setelah beberapa kali pertemuan dan kencan. Kita pun jadian, kuterima itu dengan senang.

Selama berpacaran dia selalu hangat kepadaku. Dan tak disangka aku menerima ajakannya melakukan hubungan intim, bukan satu kali tapi sering sekali setiap kami bertemu. Aku percaya padanya sepenuh hati. Ucapan, pelukan, dan perlakuannya yang hangat membuatku yakin. Dia berkata ingin menikahiku, “Kamulah yang akan jadi istriku dan aku harap menjadi ibu dari anak-anakku”. Saat itu aku belum siap penuh untuk berkeluarga.

Waktu berganti hari ke bulan kemudian tahun, aku tetap melakukan hubungan intim itu dengannya. Awal tahun 2009 dia berubah sikap. Tak seperti dulu yang selalu hangat dan sangat perhatian kepadaku. Aku mecurigainya. Bulan Januari kutemukan fakta, dia telah selingkuh dengan cewek satu angkatan lebih tua dari aku, namanya Firda.

Dia sempat fitnah aku saat itu. Pertama dia tidak mengakuinya, menyangkalnya. Tapi setelah kuberikan buktinya barulah dia mengaku. Memang aku kadang berkata kasar kepadanya, itu karena aku sangat kesal dengan tabiatnya yang tak berubah.

Aku memaafkannya. Kita berkomitmen memulai hubungan dari awal. Waktu terus berjalan. Entah mungkin karena aku terlalu mencintainya, aku melakukannya lagi dengannya. Walaupun ada resah, tapi kadang aku tepis dengan perasaan sayangku yang sangat kepadanya. Semua telah aku berikan tanpa terkecuali.

Suatu hari aku hang out jalan ke mall dengannya. Aku membeli sesuatu. Saat ada yang menelepon namanya Arta, dia tidak mau menjawabnya. Katanya, “dia teman SMA mau ngajak dugem minum-minum. Aku pingin berhenti”. Ya, aku percaya tapi aku curiga ada yang tidak beres.

Sejak saat itu juga aku tidak boleh main ke kostnya. Aku semakin curiga tapi aku diam tidak menegurnya. Kemudian temannya memberitahuku, dia punya pacar baru. Aku menegurnya, dan dia menyangkalnya. Aku berikan buktinya barulah dia mengaku. Aku sempat minta putus, pisah, tapi dia lagi-lagi minta maaf. mungkin memang karena aku terlalu mencintainya, aku kembali memaafkannya.

Waktu itu seingatku bulan Maret dan aku sudah tidak mengalami haid sejak Januari, aku kira mungkin karena kecapaian. Sampai April pun aku tetap tidak mengalami haid. Aku memeriksakannya ke dokter, dan ternyata aku telah hamil 4 bulan. Ya Tuhan.. ampuni aku! ya, November 2008 aku bertunangan dengannya.

Saat itu dia bingung harus bagaimana terhadap orang tuaku. Aku kecewa, dia tidak tegas bertindak untukku. Banyak kerumitan yang aku lalui dengannya. Mei, kita menikah resmi hukum sipil. Kandunganku telah berusia 5 bulan. Setelahnya, hubungan kami damai dan bahagia. Sepekan yang lalu, aku mencurigainya berselingkuh lagi. Dia tidak mengaku awalnya. Tapi akhirnya dia mengaku menyukai Ridha marketingnya.

Sakit rasanya. Aku pun tidak mau menemuinya lagi. Entah dia tahu atau tidak keberadaanku saat ini. Aku lari darinya, kabur. Aku merasa sangat amat nelangsa, kenapa bapak anak ini seperti ini. Dia tidak menghargaiku. Tolong.. apa yang harus aku lakukan? aku masih tetap mencintainya, tapi aku tidak mau lagi bersamanya. Aku hanya ingin hidup tenang damai.. tolong.. beri aku nasihat.

Terima kasih. TUHAN MEMBERKATI – Dari Mega di Surabaya

**
Punya cerita curhat? kirim tulisan anda disini.