Menu

Setelah Menikah Suami Memperlakukanku Seenaknya

Sebenernya aku adalah tipe orang yang tidak terlalu suka menceritakan hal-hal buruk tentang keluargaku, aku juga bukan tipe wanita pengeluh. Tetapi memang benar bahwa berbagi cerita ke orang lain itu penting juga untuk sekedar meluapkan perasaan supaya tidak terlalu tertekan.

Aku robot suami

Aku robot suami

Masalahnya kepada siapa aku harus bercerita, pertanyaan itulah yang membuat aku semakin tertekan selama ini.

Oleh karena itu melalui tulisan ini aku berharap bisa berbagi cerita kepada para pembaca ceritacurhat.com agar aku bisa mendapatkan masukan positif dari pembaca dan mudah-mudahan ada hikmah dibalik cerita ini.

Sebut saja namaku Liyan (bukan nama sebenarnya), aku dilahirkan dari keluarga yang cukup dihormati di kampungku, mungkin itu semua karena ibuku masih keturunan darah biru, ayahku yang sangat santun dan nenekku juga seorang guru ngaji yang disegani.

Aku anak ke 4 dari 5 bersaudara dan merupakan anak perempuan satu-satunya. Masa kecilku cukup bahagia dengan dikelilingi 3 orang abang dan 1 adik laki-laki yang sangat protektif, sehingga ketika remaja tidak banyak pria yang berani mendekatiku karna mereka harus berhadapan dulu dengan abang-abangku.

Mungkin secara tidak disadari karna aku mengagumi sikap abang-abangku, membuat aku lebih menyukai cowok yang usianya lebih tua dariku untuk jadi pasanganku kelak.

Oleh karena itu aku tidak pernah tertarik terhadap cowok yang seusia denganku, dan faktor inilah yang membuat aku berfikir lebih dewasa daripada umurku serta teman-teman sebayaku.

Mengenal Cinta

Beruntung Tuhan memberikan aku otak yang lumayan encer, maka Sejak SD sampe SMA kalo gak ranking 1 pasti dapat ranking 2, tak pernah lebih rendah dari itu.

Maka Setelah tamat SMP aku melanjutkan sekolah ke SMA di kota Kabupaten yang jaraknya sekitar 60 KM dari kampungku, sehingga waktu SMA aku sudah kos dan belajar hidup mandiri.

Baca juga cerita menarik lainnya:

Tentu saja pengalaman ini membuat aku makin dewasa dalam berfikir dan bertindak, maka tak heran walaupun saat itu aku baru kelas 2 SMA konon katanya orang-orang nyaman bertukar fikiran denganku, tak terkecuali seorang cowok Sarjana Ekonomi yang usianya lebih tua 9 tahun diatasku, sebut saja dia Habieb.

Habieb adalah tetangga ibu kosku, dia cowok yang baik, tampan, mapan, dan juga soleh. Dia lah yang menyemangatiku untuk istiqamah dalam menutup aurat.

Perlahan karna kami sering sharing cerita akhirnya kami dekat satu sama lain dan untuk pertama kalinya aku benar-benar jatuh cinta sama cowo, begitu juga sebaliknya aku sangat merasakan kalo diapun sangat mencintai aku.

Hal tersebut aku sadari saat dia mengungkapkan langsung kepadaku perasaannya dengan mengatakan, “Liyan, kamu bukanlah wanita pertama yang mengisi hatiku, tapi kamu benar-benar berbeda dengan mereka, oleh karena itu saat ini aku katakan bahwa aku tidak ingin menjadikan kamu pacarku, tapi jadilah ibu dari anak-anakku kelak,” jederrrrr jantungku berhenti berdetak seketika dan aku benar-benar sangat bahagia disaat itu dan hari-hari setelahnya.

Singkat kata hari-hari kami lalui dengan perasaan bahagia kami saling support satu sama lain dan hubungan kami semakin dekat termasuk dengan keluarga kami masing-masing, tapi dialah Habiebku sampai aku lulus SMA
tak pernah dia menyentuh tanganku terkecuali saat menyebrang jalan dengan tujuan melindungiku, alasan dia adalah bahwa dia benar-benar mencintaiku jadi dia tidak mau menyentuhku sampai aku benar-benar halal untuknya.

Tetapi sayang prinsip dia terlanggar, dia menggenggam erat tanganku dan memelukku dengan hati yang terluka karna kami dipaksa berpisah oleh sebuah janji ibunya Habieb. Ibunya meminta Habieb menikahi anak perempuan saudara jauh dari pihak ibunya sebagai balas jasa akan kebaikan keluarga tersebut.

Dengan hati hancur aku mengantarkan Habieb ke pelaminan, dan tak kupingkiri mungkin lebih hancur perasaan Habieb saat itu karna dia merasa seperti sebuah barang yang dipakai untuk membayar hutang budi ibunya. Tak kusangkal sampai detik ini momen itu masih melekat dalam ingatanku,, momen dimana aku benar-benar kehilangan Habiebieku.

Menikah

Setelah kejadian itu aku memutuskan pindah kos untuk melupakan dia, hati ini hancur ketika berkali-kali dia menghubungiku untuk minta ketemu karna dia merasa tersiksa dengan pernikahannya, tapi berusaha keras aku menghindarinya, karena sekalipun aku sangat mencintainya aku tau bahwa sekarang dia adalah suami orang.

Dengan hati yang luka, lanjutan masa depanku kurajut di kota Bogor, disana aku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi negri yang terkenal.

Untuk melupakan Habieb aku melakukan banyak aktifitas dan fokus belajar, sampai suatu ketika aku mengenal seorang laki-laki dewasa dari pulau seberang yang terpaut usia 13 tahun diatasku melalui chating di YM.

Sebut saja namanya Andra, saat itu tujuan dia aktif di YM hampir sama denganku yakni melupakan sejenak masalah yang dihadapi, dari cerita-ceritanya dan cara fikirnya aku bisa menilai dia adalah laki-laki yang smart dan sudah pasti dewasa.

Karna dua faktor itu membuat aku nyaman berteman dengannya dan mulai bisa melupakan Habieb (walaupun tidak pernah benar-benar lupa), selain chating kami juga makin sering sms an dan bertelpon sampai 2 tahun lamanya, mungkin karna sama-sama merasa kesepian kami merasa saling cocok walaupun gilanya sampai saat itu kami tidak tahu wajah kami masing-masing.

Dan setelah 2 tahun untuk pertama kalinya kami bertemu di Jakarta dan setelah itu kami pun lebih sering ketemu dan lebih serius. Selama 5 tahun kami berhubungan jarak jauh, setiap 3 bulan sekali kami bertemu dan kami makin tahu sifat satu sama lainnya.

Akhirnya pada pertengahan 2010 kami memutuskan untuk menikah, maka setelah menikah aku meninggalkan pekerjaanku di salah satu Bank dan mengikuti jejak suamiku tinggal di Pulau Sumatra.

Sejak saat itulah aku mulai menjadi robot suamiku, bagaimana tidak 3 hari setelah kami menikah dia langsung menceritakan tugas-tugasku di kantornya nanti.

Menjadi Robot Suami

Boro-boro kami memikirkan bulan madu sekedar merasakan indahnya malam pertama sebagai pengantin baru saja rasanya tidak, semua berlalu datar saja.

Pada awalnya aku tidak mempermasalahkan hal itu karna memang sebelum menikah pun aku tahu bahwa sebagai seorang profesional, suamiku harus mengawasi ketat kantornya dan dia bekerja seperti tak kenal waktu, kondisi itu tak membuat aku heran karena aku memang tau dia tipe laki-laki yang perfeksionis dan ambisius.

Terlebih tuntutan keluarganya pun terlampau banyak yang memaksa dia harus kerja ekstra untuk memupuk harta. Maka setelah aku menjadi istrinya, dia pun seperti memiliki energi baru untuk lebih extra cari duit.

Siang malam kami bekerja tanpa kenal waktu, walaupun sebenarnya lebih banyak aku bekerja daripada dia, hampir setiap malam kami tidur diatas jam 12 malam tepatnya jam 1 atau jam  2, bahkan sering aku tertidur jam 3 pagi, dan harus terbangun saat solat subuh.

Setelah itu akupun melanjutkan pekerjaan yang tadi malam belum selesai, sementara suamiku setiap harinya terbangun sekitar jam 12 an siang.

Memang untuk pekerjaan rumahh tangga aku tidak pernah memikirkan karna ada asisten rumah tangga. Kebetulan kami tinggal di ruko jadi lantai 1 kami pakai untuk kantor dan kami tinggal di lantai 2. Jadi memudahkan aku untuk kerja kapan pun.

Rasanya tak pernah lagi aku merasakan tidur selama 8 jam dalam sehari setelah menikah dan bahkan sampai hari ini. Sekalipun aku sedang hamil anak kami, aku baru boleh istirahat setelah aku tak kuat lagi menahan sakit dan panas di pinggang.

Boro-boro aku merasakan enaknya dimanja suami saat hamil, yang ada setiap hari aku selalu menahan perasaan dan air mata.

Disaat aku hamil, aku jauh dari orang tua, suami pun seperti tak memahami akan susahnya seorang wanita yang hamil. Dia akan marah-marah kalau aku tak mau diajak kerja malam dan aku tidur sebelum jam 12.

Mulutnya akan mulai mengeluarkan kata-kata yang membuat hati ini hancur dan ketika itu terjadi aku hanya diam sambil menahan tangis, dan ketika tak kuasa menahan air mata maka aku akan lari ke WC atau ke kamar untuk menangis, dan dia akan berkata bahwa aku tak perlu mengeluarkan air mata buaya.

Baca juga:

Apa yang Harus Aku Lakukan

Tuhan apa maksud suamiku ini kenapa begitu kerasnya hati dia, tak punya kah rasa kasihan di hatinya, aku juga lelah, aku butuh istirahat, aku ingin merasakan tidur lama seperti dia.

Kalau aku mengganggu tidurnya dia pasti akan marah, sebaliknya jika dia membangunkan aku bisa sampai tangan dan kakinya yang dia pakai dengan kasar.

Sungguh rasanya aku telah mencurahkan tenaga dan pikiranku untuk mengurusi kantornya, tapi rasanya tak ada artinya perbuatanku dimatanya, yang ada dalam otaknya bahwa aku wanita yang bodoh dan pemalas. Padahal aku kerja setiap hari lebih dari 15 jam, itupun masih dibilang pemalas.

Tak kurang rasanya akupun berbakti pada orang tuanya, tapi apa yang aku dapat, dia sering melemparkan barang-barang ke mukaku, memukul kepalaku dan berkata-kata kasar, malah mengancam akan menceraikan aku kalau setelah aku mengurus urusan orang tuanya dan beralasan untuk tidak kerja di malam hari.

Tidak sadarkah dia kantornya berkembang setelah menikah dengan aku, dengan kemampuanku banyak klien yang datang ke kantor suamiku. Dan perjuangan kami berkerja keras tidak sia-sia, dalam kurun 2 tahun semua sudah kami miliki, mulai dari rumah, mobil, perhiasan yang tentu saja mewah dan jumlahnya lebih dari satu termasuk uang milyaran yang menetap di beberapa tabungan atas namanya, pergi berlibur ke beberapa kota dan luar negeri pun jadi agenda rutin kami.

Apakah aku bahagia atas limpahan harta itu, jawabannya TIDAK,, bukan aku tidak mensyukuri nikmat Tuhan, tapi apa arti semua itu jika suami memperlakukanku seperti robot, jika secara hati tertekan dan makna sebagai seorang istri dan ibu tak dapat aku rasakan.

Pedih hati ini ketika memikirkan anak semata wayang kami yang lebih banyak waktu dengan babysitter, sementara aku tak lebih dari mesin pencetak uang suamiku.

Walaupun tak kupungkiri suami ku pun banyak jasa terhadapku dan keluargaku, tapi lagi-lagi semua itu selalu yang berhubungan dengan materi dan harus ada pengakuan dari aku dan keluargaku bahwa jasanya banyak terhadap keluargaku.

Tuhan jika ini ujian untukku maka bantu aku melewatinya dengan ikhlas, tapi jika ini adalah bagian takdir hidupku kuatkan aku dan jauhkan aku dari rasa frustasi dan jauhkan aku dari godaan syaitan.

Sesungguhnya Engkau Maha tau apa yang terbaik untukku,, Duhai suamiku engkaulah imamku, aku sayang kamu tapi tolong perlakukanlah aku sebagai istrimu bukan anak buah bahkan robotmu.

Terimakasih telah membaca ceritaku ini, mohon masukannya apa yang harus aku lakukan?

***

Seperti diceritakan kawan Liyan ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis komentar anda pada form di bawah atau tulis dan kirim cerita anda disini. Jangan lupa sebarkan cerita ini.

5 Comments
  1. Cakil
  2. jimmy
  3. alia
    • sinarmentari
  4. Azzi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *