Menu
Loading...

Sifat Asli Suamiku Baru Kusadari Setelah Tujuh Tahun Hidup Bersama

Dahulu aku pernah mencintai seorang lelaki. Dia bukan orang berada. Tetapi kasih sayangnya luar biasa, hampir sama seperti kasih sayang orang tuaku.

Sifat asli suami Setelah dua tahun menjalani hubungan, aku pun tamat sekolah SMA, tepatnya sekitar tahun 2012. Saat itu juga aku mengetahui bahwa orang tuaku tak merestui hubungan kami.

Singkat cerita, aku pun diajak ibuku pulang ke desa tanpa sepengetahuan pacarku itu. Namun aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku pun kembali ke kota dengan alasan mengambil ijazah, padahal aku pergi kerumahnya.

Namun lama kelamaan ibuku curiga dan lekas menyuruhku kembali pulang ke desa. Setelah selang beberapa minggu, rasa rinduku padanya tidak terbendung. Begitu juga dirinya. Akupun kembali ke kota dengan berbagai macam alasan.

Alhasil, aku ketahuan kalau selama ini aku berbohong. Kakak laki-laki ku marah besar dan mengancam akan melaporkan pacarku ke polisi. Aku ketakutan, jadi aku kembali lagi ke desa dan tidak boleh pergi kemanapun juga.

Selama di desa aku terus dipojokkan oleh keluargaku karna aku dianggap mencintai orang yang salah dan itu bertentangan dengan apa yang aku rasakan saat itu.

Akupun meminta dijemput oleh pacarku secara diam diam, namun tetap ketahuan jua. Tetapi aku berkeras dan pergi dengan pacarku itu hanya dengan memakai sesetel baju tidur tanpa membawa apapun.

Tetapi tidak sampai disitu. Sesampai dirumahnya, rupanya orang tuanya juga marah akan kelakuan kami berdua. Kami hanya berpelukan, percaya bahwa suatu saat kelak mereka akan mengerti perasaan kami.

Hari pun berganti, pagi itu aku terkejut saat ibuku datang ke rumah pacarku. Ibuku mengetahui dari orang lain. Dan akhirnya pacarku ikut pulang ke desa bersamaku dan ibuku. Dengan janji bahwa orangtuaku akan membenarkan hubungan kami dengan kata lain menikahkan kami.

Sesampai di rumahku, aku terkejut bahwa kenyataan bertentangan dengan apa yang dijanjikan. Malah pacarku dihina dan dicaci, begitu juga diriku. Aku dan pacarku menuntut agar kami dinikahkan.

Loading...

Namun akhirnya janji itu tinggalah janji. Pacarku kembali ke kota dan aku tinggal di desa. Saat itu juga pacarku mengatakan bahwa hubungan kami takkan bisa menyatu dan kulihat keputus asaan di raut wajahnya.

Sejak saat itu diriku makin dipojokkan. Setiap hari tiap detik aku menjadi tersiksa batin. Sejak kecil aku selalu menderita batin, namun aku cuma memendam sendiri tanpa mencurahkannya kepada siapapun.

Derita batin itu tak lain adalah saat aku berbuat sedikit kesalahan, mulailah orang tua main tangan, kakak perempuan atau kakak lelakiku menyentuhkan benda ke tubuhku.

Saat aku tidak tau apapun dan aku disalahkan, maupun saat aku dinyatakan bersalah namun kesalahanku itu diperbanyak entah darimanapun datangnya. Setiap hari aku hanya dipojokkan terus menerus.

Aku berfikir mungkin setelah meninggalkan rumah dan memulai kehidupan dengan dia yang aku sayangi, begitu pula dia yang amat menyayangiku. Akupun lari dari rumah hanya dengan membawa baju yang terlekat di badan serta uang yang hanya pas untuk ongkos.

Akhirnya aku menikah secara wali hakim (nikah siri). Walau kehidupan kami susah dan kekurangan, tetapi kami tetap bersemangat menjalani semuanya.

Kami yakin kami bisa memulainya dari angka nol. Akupun hamil anak pertamaku. Saat usia kandunganku 2 bulan, suamiku mendapat pekerjaan sebagai teknisi.

Sejak saat itu kehidupan kami mulai sedikit demi sedikit berubah. Kami tidak lagi kekurangan, namun Juga tidak lebih. Melainkan cukup. Aku pun sudah bersyukur akan hal itu.

Namun… Saat aku mengandung anakku yang kedua, saat itu usia kandunganku sekitar 4 bulan, aku mendapati bahwa suamiku sangat dekat dengan akrab dengan teman perempuan sekantornya.

Saat itu kami belum memiliki kendaraan. Rupanya selama beberapa bulan terakhir ini dia diantar jemput oleh teman wanitanya itu, padahal suamiku bilang dia diantar pulang oleh teman lelakinya.

Saat itu pikiranku mulai kotor. Aku kotak katik hp nya, dan aku mendapati suamiku mengomentari status facebook wanita itu dengan mesra dan penuh perhatian.

Wanita itu pun membalas komentarnya dengan menawarkan pulang bareng dan mengatakan bahwa wanita itu masih dikantor saat itu kulihat waktunya sekitar pukul tujuh malam.

Ku buka aplikasi bbm suamiku. Kubaca chat grup kantornya, di chat grup itu aku mendapati wanita itu mengobrol di grup menggunakan hp suamiku. Ditambah lagi obrolan di grup itu adalah obrolan yang tidak senonoh.

Dan aku lihat foto suamiku tidur duduk dengan kepala terkelungkup di atas meja. Berarti betul memang wanita itu yang mengambil gambar suamiku itu.

Hp suamiku memakai kata sandi, jadi tidak mungkin wanita itu memakai hp suamiku secara diam diam. Pastinya suamiku yang memberi izin.

Aku baru sadar, obrolan itu hari minggu, Tepatnya saat libur. Aku ingin mengajak suamiku jalan-jalan. Namun dia menolak karna ingin kondangan dan dijemput oleh teman laki-laki sekantornya.

Segera ku buka sms, ku lihat di berita terkirim, dia mengirim pesan ke wanita itu “aku sudah di depan” saat itu aku terdiam. Berarti wanita itu yang menjemputnya untuk pergi kondangan.

Aku ingat, waktu hari minggu itu aku bertanya kapan pulang kondangannya? Suamiku jawab sore. Jadi aku menunggu alhasil dia pulang jam 9 malam dengan alasan mengantar bosnya ke bandara.

Sekejap aku sadar… Suamiku telah membohongiku… Dia bukan dijemput teman lelakinya, melainkan wanita itu, dia pulang malam bukan mengantar bos ke bandara, tetapi pulang kondangan dia nongkrong dikantor bersama teman-temannya, hingga malam.

Dia tak berpikir aku di rumah menunggu dia pulang. Hatiku hancur saat itu.

Kembali ku buka bbm, ku geser chatingan grup kantor itu keatas. Aku melihat ada foto wanita itu sedang menungging… Dan apa komentar suamiku dan temannya?? Aku tidak mau mengatakannya, aku malu. Yang jelas komentar itu sangat kotor dan tidak senonoh.

Alhasil aku emosi, kami pun bertengkar hebat. Masalah ini pun sampai ke kantor dan aku pun dipanggil oleh bosnya. Bosnya bilang wanita itu diperintahkan oleh menager nya untuk mengantar jemput suamiku.

Dan antara mereka tak ada hubungan. Dan suamiku minta maaf dan berjanji tak akan mendekatinya lagi. Aku pun percaya akan hal itu.

Aku melahirkan anak keduaku, saat itu umur anakku belum 40hari, malam itu aku meminjam hpnya karena ingin mengirim lagu dan foto. Namun aku tak sengaja membuka folder.

Seketika aku terkejut, di folder itu terdapat foto paha wanita itu sedang mengangkang dan memakai rok pendek. Ya Tuhan. Berarti selama ini dia hanya janji palsu belaka kepada ku. Ternyata dia masih saja mendekati wanita itu.

Dia tidak bisa bekerja secara profesional. Saat aku bertanya, dia menjawab foto itu ingin dimasukkannya ke grup bbm kantor. Itu berarti suamiku masih mengobrol kotor tentang wanita itu.

Dia menjawab dia hanya melakukan itu sekedar hiburan semata, cuma sekedar bermain main saja. Dan dia menganggap itu hal sepele. Tapi bagiku??? Hal itu membuat hatiku hancur kembali…

Kami kembali bertengkar hebat dan aku minta dicerai. Tapi dia kembali minta maaf dan berjanji kembali. Aku pun luluh dan kembali memaafkannya. Tetapi Allah begitu adil padaku. Aku kembali mendapatinya melakukan hal yang sama. Saat itu aku lelah dan putus asa, dan aku merelakan apapun yang terjadi.

Suamiku pun kembali meyakinkan aku… Tetapi percuma aku sudah tidak percaya lagi. Kata maaf dan kata janji tidak akan kudengarkan lagi. Dan setelah itu sekali lagi aku mendapati suamiku berbuat hal yang sama. Aku sudah tidak kuat lagi… Aku tidak sanggup lagi.

Aku tidak ingin lagi menjalin hungungan ini. Aku pun mengajak suamiku menemui orang tuaku untuk menyelesaikan masalah ini. Namun semua orang beranggapan sama. Hal itu hal sepele. Cuma anggapan ku yang berbeda. Ibuku berkata maafkan suamimu. Dan ibuku berkata bahwa aku harus ‘menahan rasa’ aku mengerti akan arti perkataan itu. Aku yang memilih suamiku. Jadi aku harus menjalani semua ini.

Kutarik sebuah kesimpulan. Yang dilakukan suamiku itu bukanlah kesalahan, bukan juga kekhilafan. Melainkan itu adalah sifat dan kebiasaannya, dan itu mustahil untuk dirubah. Suamiku akrab dan dekat dengan wanita lain memang sebagai hiburan semata tanpa hubungan apapun.

Entah ini salahku atau bukan. Yang jelas aku baru mengetahui sifat aslinya setelah hal ini terjadi, yaitu pada saat 7 tahun sudah kami bersama.

Saat ini posisiku terjepit. Disini aku tidak tahan lagi menjalin hubungan ini, rasa cinta dihati ini telah pudar sepudar pudarnya, di sisi lain ibuku menangis karena tidak sanggup melihat anaknya bercerai, di sisi lain juga anakku masih kecil, satu 4 tahun, satu lagi 5 bulan.

Anakku belum mengerti akan perceraian. Di sisi lain juga suamiku menuntut ku mengubah sifatku yang seperti ini. Tapi aku tidaklah bisa.

Sekarang… Yang bisa kulakukan hanya mencoba menerima apapun yang akan terjadi kelak… Aku akan berusaha untuk tidak marah kepada suamiku lagi… Aku berusaha memendam sendiri tanpa mencurahkan kepada siapapun… Demi anakku orang tuaku.

Dan lagi… Tersiksa batin akan kembali kurasakan. Memendam sendiri kesedihan, namun kali ini akan ku rasakan seumur hidupku. Aku meminta ketegaran dan kesabaran kepada-Nya. Agar aku bisa melewati hari esok demi anakku. Tersenyum manis pada dunia untuk menutupi segala kesedihan yang aku pendam. Dan menunjukkan bahwa aku bahagia.

***
Punya pengalaman hidup yang menarik untuk dishare ke pembaca yang lain? tulis dan kirim cerita anda disini.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *