Menu

Kerennya Sahabatku Mengenakan Cadar Ke Sekolah

Namanya Irena, siswi baru di kelas kami. Tak ada yg tak mengenalnya. Mengapa, karna ia berpenampilan paling beda di sekolah. Tapi bukan bermake up tebal, bukan pakaian mahal, bukan pula aksesoris mencolok, melainkan karna ia adalah wanita bercadar. Yaa,, dia mengenakan cadar ke sekolah. Sekolah kami yang memang sekolah Madrasah, tak melarang ia mengenakannya.

Cerita wanita cadar

Kerennya temanku mengenakan cadar

Awal kehadirannya, ia banyak dihujat. Banyak dibicarakan, bahkan tak jarang ia dikatakan berwajah buruk. Tapi itu tak membuatnya tergerak sedikit pun untuk melepas khimar yang telah ia kenakan sejak ia di bangku madrasah tsanawiyah itu.

Kini semua sudah terbiasa dengan fenomena cadar yang selalu ia kenakan. Menurutku dia unik, baik, dan sholiha pastinya. Kami duduk satu bangku.

Awalnya aku berfikir, dia itu kuno. Tidak tau mode dan gaya. Tidak mengerti peradaban. Tapi semua anggapanku itu musnah saat ia mengajakku ke rumahnya.

Saat libur sekolah, ia mengajakku ke rumahnya. Betapa terkejut aku, ia menjemputku menggunakan mobil. Ia mengendarai sendiri, aku sempat berfikir ia hendak pamer, tapi sekali lagi aku salah fikir.

Ibunya yang memintanya menjemputku dengan mobil. Ibunya berkata, aku adalah tamu mereka, sudah sepantasnya aku di layani seperti raja.

Sampai di rumahnya aku kembali dikejutkan dengan pemandangan rumahnya yang seperti istana. Bangunan tinggi, serta taman-taman yang melengkapi keindahannya.

Advertisement


Aku berkata pada Iren, “Subhanallah,, rumahmu seperti kerajaan Ren.” Iren tersenyum kecil dan berkata lembut, “ini jauh ga ada apa-apanya dari syurga Ri. Ini semua fana, sedangkan syurga itu kekal.” Ia tersenyum sambil mengajakku masuk.

Aku benar-benar seperti masuk dalam istana Iren. Semuanya modern. Aku diajak ke kamarnya. Luar biasa, ukuran kamarnya mungkin 6 kali dari ukuran kamarku. Ku lihati semua perkakas di kamar iren, lebih banyak buku agama, mushaf dan bunga-bunga indah yang kutemui.

Dan ada satu ruang yang membuatku sulit memalingkan wajahku. “Itu tempat sholatku” kata iren. “Indah banget Ren,” kataku sambil berjalan menyusuri ruang.

Iren mulai membuka cadarnya, ini pertama kali aku melihat wajahnya. Sungguh tak ku sangka, Iren begitu cantik. Bahkan jauh lebih cantik dari perkiraanku.

“Kita hanya numpang lewat di dunia ini Ri,, ga selamanya. Cuma jembatan menuju akhirat. Tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah-Nya.” Iren bertausiah ringan.

Aku tertegun mendengar kata-katanya.

Dia yang kaya, cantik, cerdas, menutup wajah dengan cadar, pun begitu patuhnya kepada Allah. Kebahagiaan dunianya yang di kejar-kejar orang banyak tak ia hiraukan. Sedang aku,, yang tak punya pun masih sering sombong dan melupakan Allah.

***

Seperti diceritakan kawan Homsi ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim juga cerita anda disini. Jangan lupa beri tanggapan cerita di atas di kolom komentar.

3 Comments
  1. ziyach
  2. fara
  3. ummi fai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *