Menu

Rumah Tanggaku Bagaikan Neraka

Aku nekat berselingkuh dengan M, seorang teman kantor. Suami yang mengetahui perselingkuhanku membeberkan aibku kepada keluargaku, Ayahku meninggal setelahnya. Kini, setelah aku semakin berharap dari M, aku dapati kenyataan kalau dia seorang gay.

Rumah tanggaku di nerakaIni adalah kisah nyata dalam hidup saya, sebut saja saya T. Saya seorang wanita yang menikah di usia yang terbilang muda yakni 20 tahun. Saya menikah dengan seorang duda anak 2 yang usianya 15 tahun di atas saya.

Kami berkenalan di pulau Bali dan memutuskan menikah dan hidup di Jawa. Tepat di hari pernikahanku, air mata itu tak henti menetes, penyesalan dan keraguan dalam diri sendiri terus menghantui. Entah apa yang sedang saya pikirkan, yang ada saya terus saja ingin menangis dan berteriak.

Hari berganti waktu terus berputar, saya jalani hidupku sewajarnya sebagai istri dalam rumah tanggaku. Tak ada kehangatan di dalam rumah tanggaku, saya seperti hidup dalam kesunyian padahal ada suamiku di rumah.

Suamiku sangat keras dan dingin, dia tak mau tau urusan dapur apalagi wanita. Di usiaku yang masih muda, dan masih ingin disayang atau dimanja. Sama sekali tak pernah ku dapatkan dari suamiku, dia beranggapan itu semua tak terlalu penting untuknya.

Cek cok terus terjadi di usia pernikahanku yang masih terhitung muda saat itu, sampai pada akhirnya suami saya memutuskan pergi dari rumah dan meninggalkan cincin kawin kami di lemari kamar.

Hancur seketika hatiku, sebagai istri yang tak pernah dihargai saya terus bertahan untuk anak dan rumah tanggaku. Terlebih lagi masa mudaku yang telah ku korban untuk menikah dengannya serasa hancur lebur tiada arti.

Sebulan lamanya saya ditinggal suami, akhirnya dia memberi kabar melalui mertua saya bahwa dia sedang di Bali bersama kedua anaknya. Akhirnya saya putuskan untuk menyusulnya ke Bali berdua dengan anak saya yang saat itu masih berusia 1 tahun.

Singkat cerita kami hidup kembali berdua di Bali, dan yang saya harapkan hanya perubahan terbaik untuk keutuhan rumah tanggaku dan anak.

Keuangan kami hancur, dan saya putuskan untuk bekerja dengan ijin suami. Seiring berjalannya waktu, saya lakukan sewajarnya sebagai pekerja sekaligus ibu.

Berangkat pagi pulang sore, ketemu anak ngurus rumah dan suami. Tapi tetap kebekuan dalam rumah tanggaku tak bisa dirubah, suamiku semakin asik dengan dunia gelapnya minum-minum, judi dan entah apa yang ada di kepalanya seketika kami cekcok hebat dan dia memukul saya sampai membekas.

Seumur kami menikah, dia memang suka main tangan tetapi baru kali itu dia memukulku sampai membekas di daerah mata, luka hatiku yang ditinggal pergi waktu itu saja masih membekas, ditambah lagi pukulan yang dia lakukan secara sadar hanya karena masalah sepele yang dia buat sendiri.

Dendam hanya dendam dan sakit hati yang saya rasakan setiap kali melihat suamiku, sampai akhirnya batas kesabaranku habis juga. Di usia pernikahanku yang menginjak tahun ke 4, saya yang lemah dan terinjak, akhirnya kalap dan berontak dengan keadaan yang saya alami.

Lalu saya putuskan membuka hati dengan teman kantorku. Usia kami tak jauh berbeda, dan dia tergolong pria tampan dan pendiam di kantorku, sebut saja namanya M.

Entah apa yang ada di kepalaku saat itu, saya berani melakukannya. Dia sangat berbeda jauh dengan suamiku, kebekuan dalam rumah tanggaku serasa terobati seketika karenanya.

Hidupku mendadak berubah, serasa menemukan diriku yang sebenarnya. Tak sedetik pun terlewatkan momen kebahagian kami, sampai pada akhirnya M mengetahui bahwa saya wanita bersuami dan M mengakui juga bahwa dia telah memiliki pacar yang hubungannya sudah tak sehat lagi.

Kita memiliki problem yang sama dengan kasus yang berbeda, dan itu pun pula yang membuat kami semakin nekat. Saya yang sedang dimabuk cinta mulai melupakan keluarga, saya sering pulang tengah malam dan sibuk dengan hp membuat suamiku mulai curiga.

Sampai pada akhirnya saya memutuskan keluar dari rumah dan hidup bersama M. Penyesalan suamiku tiada artinya bagiku, dan dia mengiklaskanku pergi dari rumah.

Sampai pada akhirnya musibah terbesar pun terjadi, karena kesal suamiku membongkar aib rumah tangga kami ke keluarga saya. Tak lama berselang, ayah saya meninggal karena serangan jantung.

Betapa hancurnya hidupku seketika melihat kenyataan bahwa ayahku meninggal di tangan suamiku, dendam campur sedih dan tak terima menyerubung erat di otakku kepada suamiku.

Semua keluarga besar menyalahkanku atas kematian ayahku, hujatan demi hujatan harus siap saya terima dan saya biarkan siapa pun menghujatku karena mereka tak pernah tau sebenar-benarnya apa yang telah terjadi di dalam rumah tanggaku hingga saya berani gila berselingkuh.

Saya sebagai anak tertua, harus bertanggung jawab menopang ibuku karena adikku belum bekerja dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Saya semakin frustasi dan semakin menjadi jadi, hubungan terlarangku masih terus saya lanjutkan.

Hidupku semakin bergantung dengan M, dan M masih saja belum bisa meninggalkan pacarnya dengan alasan hidup M di topang sama pacarnya.

Sampai pada akhirnya hal tak terduga terjadi, disaat kami sedang tidur tiba-tiba kami kepergok langsung dengan pacarnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, pacarnya adalah seorang pria. Siapa yang tak hancur hatinya, orang yang ku cinta mati-matian ternyata seorang gay.

Oh Tuhan, seperti tak ada habisnya penderitaan yang saya alami ini. Tak tahu harus apa dan mesti kemana saya mengadu. Terimakasih kepada redaksi ceritacurhat.com yang telah menerbitkan tulisan ini.

***
Punya pengalaman hidup yang menarik untuk dishare ke pembaca yang lain? tulis dan kirim cerita anda disini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *