Menu

Nasib Istri Kedua

Namaku Mily, dulu aku perempuan pekerja kantoran yang konsumtif, peribahasa lebih besar pasak daripada tiang sangat cocok dengan kehidupanku. Aku senang sekali belanja dan menjadi perhatian banyak orang.

Nasib istri kedua

Nasib istri kedua

Semakin hari utangku semakin menumpuk yang sebagiannya adalah uang kantor, aku minta bantuan keluargaku tapi tak ada yang bisa membantuku karena mereka juga hidup pas-pasan.

Setiap malam walaupun aku lelah aku usahakan salat malam karena sudah tak tahu lagi harus kemana meminta bantuan. Suatu hari aku curhat pada Anti teman 1 gang walaupun awalnya aku merasa dia ga bakalan bisa bantu tapi karena sudah tak tahan menahan beban yang aku pendam sendiri.

Tak disangka dia memberikan nasehat untuk menerima ajakan nikah siri teman kami yang dulu pernah 1 kantor yang sekarang sudah menjadi pengusaha sukses.

Aku pun teringat teman satu kantor yang lama bernama Didi [nama samaran], selama 15 tahun setiap ada kesempatan dia selalu mengajak menikah jadi istri keduanya, karena istrinya punya sakit kambuhan, namun selalu aku tolak karena tak terpikirkan olehku.

Entahlah mungkin takdir ataupun karena aku sudah gelap mata, walaupun keluargaku tak ada yang setuju, akhirnya aku menerima menikah siri dengannya dan menjadi istri kedua Didi dengan minta mahar sesuai hutangku karena aku ingin melunasi hutangku.

Aku menikah tanpa sepengetahuan istrinya yang sedang sakit selama 2 tahun ini. Pengakuan Didi, istrinya tak bisa lagi melayani dirinya diranjang karena sakitnya tapi tidak tega menceraikannya karena memikirkan anak-anak.

Baca juga:

Tak terasa pernikahan siri kami sudah 3 tahun, artinya aku sudah jadi istri kedua Didi selama tiga tahun ini dan aku sudah keguguran satu kali, sampai sekarang aku belum hamil lagi, dulu aku hanya memanfaatkan uangnya tapi ternyata benih benih cinta tumbuh di hatiku karena ternyata dia seorang suami yang soleh, tanggung jawab, sabar dan pengertian.

Sekarang aku menjadi seorang ibu rumahtangga yang sehari-harinya hanya menunggu suami datang di siang hari, pengajian, atau hangout bersama gangku pada waktu mereka libur kerja.

Keluarga dan teman-temanku melihat aku hidup dengan kecukupan materi dan suami yang sangat tanggung jawab, tapi mereka tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini.

Aku merasa berdosa terhadap anak istrinya yang sekarang sudah sembuh dari sakitnya, aku ingin berpisah tapi melihat suamiku yang bahagia denganku, sungguh tak tega meninggalkannya.

Dia sudah menolongku dari kesulitan, aku bukan orang yang tidak tahu berterimakasih, tapi disisi lain aku ingin memiliki rumahtangga yang normal seperti rumahtangga kebanyakan orang, bukan seperti yang sekarang istri kedua, yang masih sembunyi-sembunyi dari istrinya ataupun masyarakat, walaupun suatu saat namanya bangkai pasti akan tercium juga.

Langkah Apa yang harus aku ambil? aku tak ingin menyakiti istrinya, tapi aku tak tega meninggalkan suamiku dia berkali kali bilang dia bahagia denganku tapi dia juga tak ingin menceraikan istrinya, dia juga tak ingin istrinya tau karena akan sangat melukai.

Aku bahagia punya suami seperti Didi meskipun itu hanya sebagai istri kedua tapi aku sedih bila mengingat keadaan seperti ini. Benarkah aku menyelesaikan satu masalah dengan nambah masalah.. Mungkin pembaca ceritacurhat.com ada yang bisa memberi nasehat langkah apa yang harus aku ambil.

***

Seperti diceritakan kawan Milly ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini.

16 Comments
  1. dyah
  2. jimmy
  3. anonime
    • No name
  4. bule
  5. maya
  6. nenk soezan
  7. riska
  8. muji
  9. linda
  10. set jedija sebayang
  11. iren
    • menjemput kebahagiaan
      • Tria Firmansyah
  12. Angel
  13. No name

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *