Menu

Mama Mertua dan Suami Mengekangku

Sebut saja namaku Nadia, usiaku saat ini hampir menginjak 34 tahun. Cerita yang akan kutuliskan disini adalah tentang kehidupanku yang sangat menderita setelah menikah dengan suamiku. Terimakasih kepada redaksi ceritcurhat.com yang telah menerbitkan kisah hidupku ini.

Cerita getirnya hidup

getirnya hidup

Dua tahun setengah yang lalu aku menikah dengan pria yang sangat kucintai, begitupun juga mas Ari sangat menyayangiku.

Walau keluarganya menentang pernikahan kami tapi kami tetap menjalaninya, meski kami beda usia yang lumayan jauh, aku 4 tahun lebih tua darinya.

Pernikahan yang manis itu sebentar saja aku rasakan, saat mama mertua mulai ikut campur dalam urusan rumah tangga kami. Segala hal diurusnya, mulai dari kami yang harus selalu memprioritaskan waktu kami untuk lebih sering ke rumahnya.

Status kami yang masih menumpang di rumah mertua dan tinggal bersebelahan membuat aku tidak bisa menolak permintaan yang lebih mirip perintah itu.

Suamiku adalah karyawan tidak tetap di sebuah kantor pemerintahan, gaji suamiku kadang per tiga bulan sekali dan jumlahnya tidak tentu, kadang 2 juta bahkan bisa hanya 1 juta saja. Mungkin inilah takdir kehidupanku. Maka jadilah suami saban hari selalu ke rumah Ibunya dan pulang sampai larut malam.

Mama Mertua

Awal petaka dari rumah tanggaku adalah ketika pernikahan hampir menginjak 1 tahun, sifat mendominasi mama mertuaku sudah diluar batasku untuk memahaminya. Suamiku pulang kerja sore dan harus langsung ke rumahnya dan selalu pulang kerumah kami jam 12 malam.

Awalnya aku sangat memahaminya karena orang tua dari suamiku sudah berpisah saat suamiku berumur 3 tahun karena mamanya selingkuh dengan sopirnya. Aku pikir ini hanya kerinduan seorang ibu yang sudah lama tidak sedekat ini dengan anaknya.

Tapi lama kelamaan aku tidak bisa memakluminya lagi, masakan yang aku masak untuk suamiku sering tidak dimakan karena sudah makan dirumah mama mertuaku, bahkan aku sering tertidur menunggu suamiku pulang dari rumah mamanya.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, bahkan lima dan enam bulan aku masih memakluminya dengan cara aku juga sering-sering kerumah mertua, ikut nimbrung, nonton, cerita. Dan sering dalam setiap kesempatan mama mertua mengacuhkan aku, sinis padaku, seolah aku merasakan seperti ada kecemburuan? atau kebencian?

Banyak hal yang sering diucapkannya yang membuat air mataku meleleh tak terbendung saat tidur, mulai dari dia mengatakan aku tamatan S1 yang percuma kalau tidak pandai bicara, ini disampaikannya di depan tamu-tamu yang datang ke rumahnya dan mukaku pun merah padam.

Pernah aku gedor pintu dapur untuk membantu mama masak pada hari libur dan mama tidak mau menyahuti panggilanku, padahal aku lihat mama di dapur karena aku mengintip dari lubang kecil pintu. Pernah juga mama mertuaku mengatakan suamiku tidak ada apa-apanya kalau tanpa bantuannya.

Sekali lagi air mataku mengalir. Kakak tertua dan keponakanku pernah datang dari kampung dan bertamu ke rumahku. Jangankan menyambut, sikap ramahnya pun tidak keliatan, aku sungguh malu kepada keluargaku kalau sampai mereka tahu begitu sombongnya mertuaku itu.

Banyak yang dilakukan mertua kepadaku mulai dari menuduhku istri yang membangkang, melawan mertua, mengguna-gunai suamiku, menjauhkan suamiku darinya, ah.. banyak.. banyak sekali cercaan yang aku terima. Bersama mertua, kehidupanku sungguh menderita.

Pindah Rumah

Sampai akhirnya mama mertua meminta suamiku untuk menceraikan aku dan akan mengenalkannya dengan perempuan lain dengan iming-iming akan memberikan apapun yang diminta suamiku dan akan dipestakan besar-besaran.

Suamiku tidak terima dan akhirnya kami pindah dan itupun memang karena rumah yang disewakan mama mertuaku itu sudah ada yang mau beli katanya.

Mama berharap suamiku merasa tertekan karena tahu kami tidak punya uang untuk pindah dari rumah itu dan mau menerima tawarannya untuk menceraikan aku dan menikah lagi. Tapi suamiku menolak dan kami pindah rumah, saat pindah suamiku hanya berpamitan lewat telpon dan akulah yang pamit kepada mertuaku.

Dan sekarang di rumah baru walau rumah sewa mungil aku merasa lebih nyaman karena jauh dari cercaan mertuaku, setidaknya aku tidak mendengarnya.

Di rumah ini kami memulai segalanya dari nol, suamiku orang yang gigih dan karena kegigihannya akhirnya Mas Ari mendapat pekerjaaan yang bagus, sampai aku dibelikan mobil, walau kami masih harus menyewa rumah, mobil harus ada karena memang pekerjaan suamiku yang harus sering-sering keluar kota terus.

Dan rencananya setelah mobil lunas maka rumah lah yang akan kami beli selanjutnya. Bulan demi bulan berlalu, pekerjaan suamiku berjalan dengan lancar bahkan kami bisa membeli apa saja yang kami mau.

Suamiku orang yang royal terlebih kepada teman temanya. Aku percayakan keuangan kepadanya, sampai akhirnya pekerjaannya mendapat kendala, uang tidak ada dalam tabungan, habis entah kemana, perhiasaan dan mobilku juga dijual untuk biaya hidup dan membayar hutang.

Ya Allah.. Suamiku yang sangat kucintai ternyata main judi online, narkoba dan Ya Rabbi, suami yang sangat aku sayangi dengan sepenuh jiwa dan ragaku tega selingkuh dengan wanita lain, tidak bisa kubayangkan kemana habisnya uang hasil kerja slama ini.

Suami Bangkrut dan Selingkuh

Luluh lantak, hancur perasaanku, aku menangis sejadi-jadinya, kenapa disaat kami sedang terpuruk semua kelakuan suamiku justru terkuak. Seperti luka yang disiram air garam rasanya. Perih sekali.. Semua temannya tau tentang perselingkuhannya tapi mereka semua menutup rapat bahkan adik kandungnya sendiri.

Aku memaafkannya, mungkin mas Ari khilaf dengan uang berlimpah yang selama ini dia dapat, aku bersabar dan bertahan karena tidak mungkin aku meninggalkanya yang sedang dalam keadaan terpuruk seperti ini.

Yaaah aku sangat mencintainya walau sering muncul bayangan dalam benakku apa yang sudah dilakukannya bersama perempuan. Untuk kesekian kalinya aku menangis, ya Allah ini ujian untuk ku dan suamiku.

Hari demi hari berlalu, dirumah sudah seperti neraka, sudah tidak ada lagi tatapan sayang dan sudah tidak bisa lagi aku bermanja dengan mas Ari, apa pun yang kulakukan selalu salah dimatanya, aku kesepian, aku sering dicaci maki dengan dituding sebagai pembawa sial, tidak tahu diri, aku sering dimaki didepan teman temannya dengan kata kata yang sangat kasar.

Aku dituduh telah menghabiskan uang yang selama ini dia berikan kepadaku padahal semua rincian pengeluaran ada dalam catatanku, aku sering tidak digubris.

Bahkan pernah aku harus berjalan jam 4 pagi untuk menjemput suamiku yang belum pulang di rumah temannya, ah ya Allah nikmat sekali cobaan hidup ini. Kupikir setelah waktu berlalu aku akan melupakan perselingkuhannya, tapi ternyata tidak.. aku semakin sakit bahkan saat kami berhubungan suami istri yang kubayangkan adalah dia dan perempuan itu.

Ya Rabb penguasa Alam.. apa yang harus kulakukan?

Pembaca.. apa yang harus kuperbuat?

Sempat terpikir olehku untuk pergi dan pulang kerumah orang tua ku di kampung, tapi lagi-lagi aku harus berpikir seribu kali, bagaimana kalau ibuku sakit saat mengetahui hal ini, lantas stroke seperti mendiang ayahku yang jatuh sakit karena kakak laki-laki ku pergi keluar kota tanpa izin ayahku.

Bagaimana nanti muka keluarga ku bila semua orang tau kami berpisah? aku tidak mau menambah beban keluargaku yang sudah susah karena kami memang keluarga yang susah.

Tolong beri saran pembaca, saat ini aku benar-benar tertekan.

***

Seperti diceritakan kawan Nadya ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita kehidupan anda disini. Jangan lupa beri komentar cerita di atas.

9 Comments
  1. Toyam
  2. jimmy
  3. Sesil Noura
  4. evi ayu sinaga
  5. alina
  6. deanita salsabila
  7. Zhinta
  8. Hairullah
  9. Soul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *