Menu

Mama Kenapa Engkau Pilih Kasih?

Sebut saja namaku Rita. Saat ini usiaku 29 tahun. Aku sudah menikah, memiliki dua anak dan Alhamdulillah hidupku bahagia. Tapi ada satu hal yang dari dulu mengganjal dalam hatiku. Tentang mamaku.

mama pilih kasihAku memiliki satu orang adik, sebut saja namanya Putri. Saat ini usianya 21 tahun dan juga sama sepertiku dia sudah menikah.

Sejak kecil hingga remaja aku hidup dengan nenekku, meskipun jarak tempat tinggal orang tua dan almarhum nenekku dekat, tapi aku lebih banyak tinggal bersama nenekku bahkan sejak aku bayi.

Setelah nenek meninggal ketika aku kelas 2 SMP, barulah aku tinggal dengan orangtuaku. Aku tak tau mungkin alasan itulah yang membuat aku dan orangtua terutama mama kandungku tak dekat, yaitu sejak kecil aku memang lebih banyak diasuh nenek, sedangkan adikku sejak lahir memang hanya diurus oleh mama.

Tapi yang aku ingat, ketika kecil mama jarang sekali memperhatikanku. Beda dengan perhatiannya pada adikku. Adikku sangat disayangnya.

Baca juga: Aku Harap Mamaku Berubah dan Kembali Mencintai Keluarga

Aku tak berani meminta ini itu karena entah mengapa dalam hati ada rasa segan meskipun itu kepada orang tua sendiri. Di rumah aku lebih dekat dengan pegawai ayah.

Ada satu kejadian yang sampai sekarang aku ingat. Ketika SMP prestasi belajarku turun, hingga wali kelasku memanggil wali murid tapi mamak ataupun bapakku tak mau menghadiri panggilan guruku, sehingga yang datang adalah tanteku itupun aku paksa sambil menangis karna mau siapa lagi yang datang orangtua sendiri tak mau datang.

Advertisement


Berbeda sekali dengan ketika adikku sekolah SMA, berkali-kali mamaku datang ke sekolah adikku untuk memenuhi panggilan gurunya, bahkan dia dan wali kelas adikku cukup akrab.

Ketika aku lulus SMA tahun 2004 aku sangat ingin kuliah dan akupun cukup berprestasi di sekolah. Ketika itu mamaku memang sedang ada masalah di usahanya.

Beberapa bulan sebelum kelulusan SMA ku mama baru membeli sebuah mobil dengan cara kredit, dia menyuruhku sabar tak meneruskan kuliah dulu selama satu tahun.

Dia tak mau melepaskan mobil itu untuk biaya kuliahku (aku masih sangat ingat cicilan mobil itu 6 juta perbulan), malah mengatakan nanti mama malu sama tetangga kalau sampai mobil ini dijual lagi.

Tapi tak pernah memikirkan perasaanku untuk tidak langsung kuliah ketimbang melepas mobilnya. Padahal saat itu keinginanku untuk kuliah sangat menggebu.

Gengsi lebih penting daripada pendidikan aku, anaknya. (Sekedar tambahan orangtuaku bisa dikatakan cukup soal ekonomi, rumah cukup besar, memiliki kontrakan, usaha bidang kerajinan, dan memiliki toko kerajinan). Cukup ironi bukan keadaan ekonomi seperti itu anaknya tak bisa kuliah.

Karena ada rasa kecewa tahun berikutnya aku kuliah dengan “asal” saja memilih jurusan, program pendidikan pun cuma D3. Karena semangatku sudah terkikis oleh rasa kecewaku terutama pada mama.

Dan perlakuan mama yang membuat aku kecewa berlanjut bahkan ketika aku sudah bekerja. Dulu ketika kuliah aku memakai motor sebagai alat transportasi.

Setelah bekerja aku berhasil mengumpulkan uang dengan susah payah untuk DP sebuah mobil kecil yang tak terlalu mahal tapi bagiku sangat spesial karena itu hasil jerih payahku, DP nya dan cicilannya semuanya dari hasil kerjaku waktu itu.

Tahukan pembaca, selang satu bulan aku berhasil membeli mobil hasil kerjaku, mama membelikan adikku yang saat itu baru lulus SMA sebuah mobil Honda Jazz baru.

Bahkan mobilku yang hasil kerja kerasku itu harganya dibawah Honda Jazz. Sedangkan adikku tanpa bersusah payah dulu mengumpulkan DP lalu bayar cicilan kerja setiap hari seperti aku, dengan enaknya mama memberinya mobil yang notabene lebih wah dari mobilku.

Di mana perasaan mamaku? Sejak dulu aku tak berani menentang karena aku takut, ketika kejadian mama membelikan adikku Honda Jazz, dia memberikan alasannya padaku “kasian adik kamu lihat kaka nya naik-naik mobil masa dia cuma nonton”.

Ya Alloh astaghfirullahalazim. Ingin rasanya aku mengatakan pada mama dimana perasaannya dulu ketika aku lulus SMA boro-boro dikasih mobil yang ada aku disuruh nunggu setahun untuk kuliah demi mempertahankan gengsi mama yang baru beli mobil.

Baca juga: Aku Anak Yang Tak Diharapkan

Lalu dimana perasaan mama dulu aku kemana-mana naik motor kuliah, kerja dan sekarang dengan kerja kerasku aku bisa beli mobil dan itu sepeser pun tanpa bantuan mama, sedangkan adikku tanpa harus repot-repot dan susah-susah jrenggg langsung dikasih mobil. Dimana perasaan mama untukku?

Bukannya mama mestinya meredam adikku jika misalnya dia iri padaku yang sudah punya mobil dengan mengatakan ya itu kan hasil kerja kakakmu sendiri kamu ga boleh iri kalau mau kamu ya berusaha seperti dia?

Tak sampai di situ. Ketika sudah sama-sama menikah pun mama tetap lebih condong pada adikku. Kalau aku sedikit-sedikit salah di mata mamaku. Lalu mama menceritakan aku di depan tante-tanteku.

Tapi tidak pada adikku, tak pernah terdengar mama menceritakan hal buruk tentang adikku. Padahal Alhamdulillah secara ekonomi aku dan suami sama sekali sudah tak bergantung pada orangtua sejak menikah.

Sudah memiliki rumah sendiri meski masih nyicil, hidup mandiri. Beda dengan adikku yang ketika nikah saja kuliahnya belum beres, suaminya pun belum punya pekerjaan.

Tapi selalu mama banggakan hanya karena suaminya ini anak orang berada. Sedangkan suamiku bukan dari keluarga berada, tapi tak masalah bagiku yang terpenting suamiku sudah punya pekerjaan tetap dan bertanggungjawab padaku dan kedua anak kami.

Aku pernah mencurahkan isi hatiku ini pada pamanku. Dan ini entah benar atau tidak, menurut pamanku alasan mamaku lebih sayang pada adikku adalah sejak adikku lahir (ketika itu aku kelas 4 SD) keadaan ekonomi orangtuaku menanjak, jadi istilahnya adikku seperti membawa keberuntungan bagi mamaku jadi apapun yang diminta adikku pasti diberi, dan yang pasti sangat disayang.

Ya Alloh aku mendengarnya sangat sakit hati… bukankah rejeki itu ditentukan oleh Alloh SWT bukan karena lahirnya anak yang ini sedangkan anak yang satu lagi tak membawa keberuntungan???

Aku hanya ingin hidup tenang, mama seharusnya engkau jadi penyejuk hatiku, tempat mencurahkan isi hati tapi mengapa engkau menganggapku seperti orang lain.
***

Seperti dikisahkan kawan Rini ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim juga cerita anda disini. Jangan lupa beri tanggapan cerita di atas di kolom komentar.

Tags:
5 Comments
  1. Jessica
    • Marleni
  2. dede
  3. Tifftany Roza
  4. sanjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *