Menu

Kuberikan Bayiku Kepada Orang lain

Namaku Winda, aku gadis berusia 21 tahun, saat ini hatiku sangat sedih dengan masalah yang aku hadapi. Aku membuat kesalahan terbesar dalam hidupku, karena telah memberikan bayi laki-laki ku kepada seseorang, sebut saja dia Ibu Juni.

Kuberikan Bayiku Kepada Orang lain

Kuberikan Bayiku Kepada Orang lain

Ibu Juni orang yang sangat baik dan dermawan. Semua ini berawal dari kesalahanku sendiri. Aku menikah siri dengan seorang duda bernama Anto.

Anto sudah memiliki anak satu orang dan aku sangat mencintai dia karena dia lelaki yang sangat humoris dan bisa membuat aku nyaman dan selalu tertawa.

Aku mau menikah siri dengan dia lantaran aku takut memberi tahu papaku, karena papa orang yang sangat keras sekali.

Aku sangat takut sama papa, papa bekerja sebagai Anggota TNI. Mama dan papa telah bercerai ketika usiaku 3 tahun dan aku ikut mama.

Hamil Anak Pertama

Setelah menikah dengan Anto, aku hamil. Aku baru tau aku hamil setelah usia kehamilanku mencapai 2 bulan. Aku kalang kabut mencari cara agar janinku tidak berkembang.

Aku mulai stres dan pasrah karena takut dengan ayahku. Lalu aku dan Anto mendatangi seorang bidan meminta bantuannya tapi bidan itu menolak karena melanggar hukum katanya.

Advertisement


Bidan itu akhirnya memberikan solusi. Dia berkata, “Winda niatmu itu dosa besar, kamu tidak akan pernah mencium bau surga karena kamu sama saja membunuh 1000 manusia, itu ada di Al-Qur’an”.

“Begini saja kamu besarkan kandunganmu, ibu akan menanggung biayamu dan nanti anaknya berikan ke ibu, ibu akan menerimanya dengan senang hati,” ujar Ibu Juni.

Demikian kisah bagaimana aku mengenal Ibu Juni dan aku menyetujui rencana beliau.

Singkat cerita aku melahirkan pada saat usia kandunganku mencapai 6 bulan 2 minggu karena ketuban pecah dini. Bayiku lahir prematur dan harus dirawat dalam NICU selama 1 bulan.

Tinggal Serumah Mertua

Keluar dari rumah sakit keluarga suami dan suamiku mengajak aku tinggal di rumahnya. Aku menolak karena dulu Ibu suamiku selalu menyakiti aku dengan mengolok-olok aku yang katanya menggoda anaknya. Aku merasa berat untuk tinggal bersamanya tapi akhirnya aku menerimanya dan tinggal disana.

Selama 3 bulan aku tinggal bersama suami dan mertua membuat aku sering sakit dan kurus karena lelah mengurus bayiku sendirian, suamiku ternyata malah asik nongkrong bersama teman-temannya.

Kami selalu ribut setiap pagi karena dia tidak mau membantuku mengurus bayi ini dan aku makin tidak tahan dengan perlakuan anak perempuannya yang selalu menyakiti hatiku.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Ibu Juni, diam-diam kembali memohon kepadanya agar masih mau menolong aku dan beliau setuju, lalu aku kabur membawa bayiku ke rumah Ibu Juni.

Selama sebulan terakhir ini aku tinggal bersamanya, aku diangkat menjadi anaknya dan bayiku ini dianggap menjadi adikku.

Aku melakukan ini untuk mamaku. Mamaku seorang janda dan hidup susah di Jawa, dia hanya mengharapkanku tapi aku malah mengecewakannya. Maka dari itu aku tidak mau mama tau masalahku dan terus berusaha mencari pekerjaan.

Berpisah

Tapi masalah yang aku hadapi tidak hanya sampai disini saja. Ujianku bertambah selama aku tinggal di rumah Ibu Juni. Suami Ibu Juni diam-diam suka kurang ajar terhadapku.

Saat Ibu Juni sedang tidur atau sedang sibuk, laki-laki itu mencoba mel3cehkanku, mengajak aku berbuat tidak senonoh, bahkan diam-diam ketika aku tidur dia meraba-raba dan membuatku terkejut.

Aku ingin menangis tapi aku tidak berani mengatakannya kepada Ibu Juni, aku takut beliau tidak percaya akan perkataanku. Jadi aku meminta bantuan kepadanya untuk membiayai aku kost sendiri.

Akhirnya aku kost sendiri saat ini tapi aku malah jadi merasa bersalah dan membuat hati ini sakit, aku jadi jarang bertemu buah hatiku, aku merasa seperti sudah menjualnya ke Ibu Juni.

Semoga Allah mengampuni aku. Semoga anakku yang lucu ini menjadi anak yang aku harapkan.”Anakku maafkan bunda yang sempat ingin membuangmu, maafkan bunda yang saat ini malah memberikanmu kepada orang lain, tapi bunda melakukan ini agar kamu bisa mendapat pendidikan yang baik dan hidup yang baik tidak seperti bunda ya nak, I Love You Habibi sayang”.

***

Seperti dikisahkan kawan Winda ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini. Jangan lupa beri komentar anda.

Tags:,
One Response
  1. dede

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *