Cerita ini adalah kisah nyata kehidupanku yang silau dengan harta orang tua sehingga terjerat dalam kehidupan narkoba, seks bebas dan alkohol. Setelah orang tua bangkrut dan meninggal, yang tersisa adalah aku dengan segudang penyesalan.

Perkenalkan namaku Heny, diusiaku yang masih sangat muda aku hidup bergelimang harta. Orang tua seperti pabrik uang yang selalu memberi apa pun yang kuminta. Aku tidak tahu apakah itu pertanda rasa sayang mereka ke diriku atau sikap cuek. Aku tak peduli selama uang bulanan lancar semuanya baik-baik saja menurutku.

Aku sudah mengenal dunia malam sejak aku masih duduk di kelas dua SMA. Aku bergaul dengan banyak anak pengusaha dan anak pejabat di kotaku. Bersama mereka aku menghabiskan waktuku bersenang-senang. Kami memang  sangat mendewakan kebebasan dan kesenangan. Aktifitas kami hampir tanpa batas. Satu-satunya yang mungkin bisa membatasi kebebasan kami adalah uang, dan itu selalu lancar dari orang tua kami.

Aku bersaudara empat dan aku satu-satunya wanita, hampir tak ada larangan dari orang tua dan saudaraku melihat aktifitasku, orang tua sibuk dan saudara-saudaraku juga acuh kepadaku. Aku sama sekali tidak memiliki figur baik yang bisa kucontoh dan kuidolakan di keluargaku. Ayah sibuk dengan bisnisnya sementara Ibu juga sibuk dengan berbagai pertemuan tak jelasnya dengan teman-teman arisannya.

Naik kelas tiga SMA, aku semakin tidak terkontrol. Obat terlarang, alkohol, dan bahkan seks sudah menjadi bagian dari hidupku.Hampir tidak ada ada petuah agama dan siraman rohani yang bisa menyadarkanku. Aku betul-betul menikmati dunia ini dengan segala kemewahannya.

Seks Bebas dan Obat-Obatan

Akhirnya aku lulus SMA, aneh juga sih, aku yang jarang masuk sekolah bisa lulus dan kuliah. Aku memilih sekolah swasta yang terbilang wah di kotaku. Aku tahu kehidupan di kampus itu dan warga-warganya cocok denganku.

Keperawananku jebol waktu kelas 3 SMA oleh mantan pacarku. Makin rusaknya moralku, aku tidak mempermasalahkan itu dan malah merasakannya sebagai hal yang wajar. Tidak tabu lagi bagiku untuk bertemu dan berkencan satu malam dengan laki-laki yang baru kukenal. Asal aku enjoy tentu aku menikmatinya. Kehidupan bebas di kampus sepertinya mendukung perilakuku. Aku juga sudah jarang pulang ke rumah dan memilih tinggal di kos mewah dekat kampusku.

Awal Kisah Kehancuran Hidupku

Aku yang masih sangat tergantung dari uang orang tua tidak menyadari kalau bisnis ayahku semakin meredup. Puncaknya tahun 2008 yang lalu, ketika salah seorang rekan bisnis Ayah kabur membawa modal usaha yang telah ayah tanam. Jumlahnya lebih 10 miliar. Ayahku sampai pingsan dan harus di rawat di rumah sakit karena peristiwa itu. Sebualn di rumah sakit ayahku meninggal.

Setelah ayah meninggal satu persatu kolektor dari bank datang ke rumah menagih utang. Tentu Ibu tidak tahu menahu dengan semua itu, karena yang dia tahu cuma arisan dan ngumpul dengan teman-temannya. Akhirnya rumah, mobil dan beberapa unit pabrik Ayah habis untuk membayar utang. Ibu yang tidak kuat akhirnya depresi dan masuk rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan. Saudara-saudaraku yang lain pindah ke Kalimantan ikut dengan saudara Ayah, sementara aku tetap di kota ini tinggal bersama bibiku.

Setelah jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibanggakan, aku mulai ditinggal teman-temanku. Ke pesta atau ke diskotik aku tidak lagi diajak, mereka tahu aku sudah miskin dan tidak punya harta lagi. Mereka hanyalah teman palsu yang ada untuk bersenang-senang saja, mereka adalah seperti aku yang dulu yang hanya peduli dengan kesenangan saja.

Aku baru sadar aku salah, salah memilih teman, salah bergaul, kuliahku berantakan dan masa depanku jelas-jelas tidak ada. Aku yang sekarang bukan siapa-siapa. Aku masih berada di kotaku Makassar, berharap ada lowongan pekerjaan yang cocok untukku. Aku menulis cerita ini untuk para pembaca ceritacurhat.com, hati-hati dengan harta karena dia tidak abadi, hati-hati dengan teman karena mereka juga tidak abadi. Semua yang kita miliki datang dan pergi begitu saja, tak peduli kita siap atau tidak. Sukuri apa yang ada agar tidak hidup menyesal di kemudian hari seperti diriku ini.

***

Ingin Kirim Cerita?, Hubungi redaksi disini