Lebih baik bercerai daripada terus-terusan diselingkuhi. Begitu pikiran di kepalaku setelah mendapati istri berulang kali selingkuh dengan pria lain. Aku tahu masalahnya adalah karena aku jatuh miskin setelah kena PHK di kantor sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Cerita istri selingkuh saat aku sedang dirundung masalah di kantor membuatku gelap mata dan memilih cerai.

Awal saya menikah dengan istri, ekonomi kami memang sudah tidak bagus. Setiap bulan saya hanya bisa memberi uang ke istri kurang lebih Rp. 2.500.000, tapi itu dulu sebelum saya kena PHK di kantor.  Setelah PHK saya tidak tahu harus kasih istri berapa setiap bulan untuk biaya sehari-hari.

Akhirnya saya membuka warung kecil di samping SD tidak jauh dari rumah. Tentu saja pendapatan setiap hari sangat kurang tapi saya mencoba terus. Sambil membuka warung saya juga menjual makanan ternak yang di kirim ke orang-orang yang pesan. Tapi tetep kurang juga, saya berusaha lagi memungut barang-barang bekas, dan tetep kurang. Selama satu tahun setelah PHK saya pontang panting mencari pekerjaan, untungnya selama waktu itu istri terlihat sabar dan mau menerima apa adanya.

Cerita mulai beda di tahun kedua, memiliki istri selingkuh dengan pria lain sangat membuatku marah. Istriku tidak tahan dengan kondisi kami. Dia sudah gak tahan hidup seperti ini, tanpa ada perubahan sama sekali. Akhirnya istri saya kenal dan akrab dengan seorang sales rokok yang biasa membawa rokok ke warungku. Saya juga sering mendapati istri sms an dengan sales itu. Kalau kutanya istriku bilang urusan rokok yang sudah habis.

Akhirnya saya menasehati istri jangan sering telpon-telponan sama cowok itu, tidak baik untuk kehidupan rumah tangga. Dan jawab istri saya ringan, kan cuman berteman aja iseng untuk hiburan untuk menghilangkan kejenuhan setiap harinya.

Saya tetep sabar untuk menghadapi kelakuan istri saya. Akhirnya saya mengetahui istri saya janjian lewat sms. Saya langsung marah ke istri. Istri tidak terima karena dibilang selingkuh dengan sales rokok. Akhirnya besoknya, sales rokok itu datang ke warung saya dan minta maaf. Setelah itu saya ada panggilan kerja di Jakarta. Selama saya kerja ternyata istri selingkuh lagi dengan sales rokok lainnya, istri saya sering kepergok bermesraaan sama keluarga saya.

Keluarga saya langsung telepon ngasih tau bahwa istri saya suka jalan berduaan dengan seorang sales rokok, akhirnya saya tanya sama istriku, apa bener kamu suka ngobrol lama dengan salas yang namanya Jay. Istriku jawab kalau dia dengan Jay itu udah seperti adik kakak. Akhirnya saya percaya dengan ucapan istriku. Saya nasehatin lagi ke istri, kalau ngobrol sama sales jangan lama-lama dan jangan deket-deket, jaga jarak.

Istriku jawab ya ini sudah resiko kamu yang jadi suami aku. Bener-bener jawaban yang bikin emosi, akhirnya beberapa bulan kemudian saya berantem hebat gara-gara saya telepon ke istri tapi dicuekin, tapi jika temennya yang nelpon langsung diangkat dan telepon saya harus menunggu, emosiku naik 100%, akhirnya aku ngatain kata-kata kasar ke istriku.

Di situlah akhirnya istriku minta cerai, saya dengan istri akhirnya pisah ranjang selama satu tahun. Setelah itu istriku baikan lagi sama saya dan istri minta di carikan kerjaan. Setelah itu istriku kubawa ke Jakarta untuk kerja menjadi pembantu rumah tangga. Selama kerja istriku berantem lagi sama saya gara-gara saya ngasih kerjaan pembantu. Di situlah istriku selingkuh dengan supir pribadi yang sudah punya istri dan punya anak tiga.

Awalnya saya gak punya pikiran bahwa istri selingkuh dengan sopir. Selama kerja disana, istriku sering curhat sama si sopir itu, dan si sopir rupanya merasa simpati dan akhirnya mereka menjadi sangat akrab. Di situlah si sopir mengambil hati istriku, di saat saya main ke tempat istriku. Tiba-tiba si sopir itu menghajarku membabi buta, karena istriku menyuruh si sopir selingkuhannya itu untuk memukuliku.

Setelah saya di pukuli akhirnya saya tidak bertemu lagi sama istri saya, di saat itu istriku semakin menggila, setiap hari istriku keluar bareng sama si sopir bahkan istriku bilang sama bosnya izin pulang kampung untuk menjenguk anaknya, padahal istriku gak pulang kampung melainkan pergi bersama si sopir ke puncak. Itu sering dia lakukan, terus akhirnya istriku jujur menelpon saya dan mengatakan ingin cerai.

Akhirnya karena tidak bisa lagi memaafkannya, saya mengiyakan permintaannya dengan syarat anak ikut saya dan tidak ada tanggungan yang harus saya beri ke dia. Ahirnya cerita istri selingkuh dengan sopir menjadi akhir ceritaku, sekarang saya masih bekerja di Jakarta dan semoga saja rejeki bisa bertambah setelah semua masalah dalam rumah tanggaku selesai, amin.
***

Cerita dikirim oleh Semy di Jakarta. Ingin cerita anda di muat di ceritacurhat.com? Tulis dan kirim disini.