Menu

Derita Istri Dibalik Kesuksesan Suami

Derita istri kadang tak terungkapkan, hanya berada di dalam sanubari bersama penyesalan. Sebut saja namaku Siska, aku seorang istri dan juga ibu bagi dua orang anak. Sebenarnya dulu aku wanita karir, tapi karena menikah aku keluar dari pekerjaanku dan mengikuti suamiku tinggal di sebuah desa. Kami memulai segalanya di sana, termasuk memulai penderitaanku sebagai istri…

Derita istri dibalik kesuksesan suami

Derita istri dibalik kesuksesan suami

Suamiku meniti karirnya sembari berwirausaha hingga akhirnya beliau berada di puncak kesuksesannya.

Semua seperti kawan, menyanjung dan menghormatinya. Jiwa sosialnya sangat tinggi hingga dia malah sering melupakan kepentingan pribadi.

Alhamdulilah setelah 5 tahun menikah, kami dianugerahi putri cantik, terasa sempurna kehidupan kami.

Saat itu aku merasa sangat bahagia dan beruntung telah memiliki keluarga yang bahagia. Sayangnya kebahagiaan itu harus berganti dengan derita dan penyesalan.

Saat itu suami memintaku untuk ikut serta dalam pilkades di desa kami. Aku tidak yakin akan kemampuanku apalagi anak-anak masih kecil, aku lebih ingin mengasuh saja, tapi suami tetap meyakinkan akan selalu mendukungku apapun hasilnya.

Akhirnya aku menjadi kepala desa, beban tanggungjawab sebagai sosok yang dituakan di desa, mau tidak mau mempengaruhi cara bersikapku. Awalnya suami enjoy saja, tapi lama kelamaan semua seperti sirna dan menjadi derita bagi kami.

Advertisement


Karena kesibukan masing-masing kami jarang bertemu dan bercanda bersama. Bahkan untuk melaksanakan kewajiban sebagai suami istripun terabaikan. Waktu bagaikan uang hingga sayang untuk disia-siakan. Hidup kami sungguh sangat menderita.

Baca juga cerita menarik lainnya:

Banyak godaan yang datang untuk sekedar mencari pelampiasan, sesama kades tentu mempunyai jaringan dan kepentingan yang luas.

Perasaan tidak bahagia dengan suami memang menyesakkan di dada, tapi untuk mengkhianatinya perlu pemikiran seribu kali. Alhamdulilah sampe detik ini aku masih bisa menjaga kesucian diri sebagai seorang istri.

Kedua anak kami tumbuh dengan kasih sayang yang timpang, mereka jarang bertemu dengan kedua orangtuanya secara bersamaan. Aku mulai merasa tidak bahagia dengan keadaan ini.

Secara ekonomi kami memang tercukupi, tapi rohani ini sering menangis. Derita istri dibalik kesuksesan suami membuat rumah tangga kami diambang kehancuran.

Penyesalan datang selalu di belakang, aku ingin kembali seperti dulu, menjadi ibu rumah tangga biasa yang merawat anak dan menunggu suami pulang kerja.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, tugas dan kewajiban sebagai amanah dari masyarakat harus aku selesaikan hingga akhir masa jabatan.

Inilah derita istri yang aku rasakan, aku tuliskan cerita ini sebagai pembelajaran bagi wanita-wanita yang lebih mementingkan karier dibanding keluarga. Karena ternyata kebahagiaan seorang wanita berada di dalam keluarganya bukan keberhasilan karirnya.

Jangan mengambil keputusan yang tidak berasal dari hati. Karena di belakang nanti yang kau temui juga bukan kebahagiaan melainkan penyesalan dan derita.

***

Seperti diceritakan kawan Ratih ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini.

2 Comments
  1. jimmy
  2. timo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *