Menu

Cinta Pertamaku Pergi Meninggalkanku Selamanya

Namaku Cihan. Ini kisahku yang sudah belasan tahun lalu kututup, sudah kulupakan. Dulu aku punya kakak laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari aku. Dia ganteng, wangi, baik dan hamba Allah yang taat, Orangnya rajin, gigih, pandai dan taat beribadah.

Cinta pertamaku

Cinta pertamaku

Sebenarnya dia bukanlah keluargaku, seseorang yang merantau ke Surabaya untuk mengejar cita-cita. Dulu nenekku membuka tempat kos, salah satunya adalah dia, namanya kak Jen.

Singkat kata, akhirnya orang tuanya sudah tidak mampu lagi untuk membiayai sekolah pelayarannya di Surabaya, beruntung pamanku adalah orang yang mampu, pamanku itulah yang akhirnya membiayai semua biaya sekolah kak Jen sampai lulus.

Aku tidak tahu kapan tepatnya dia datang, yang aku ingat waktu itu aku masih kecil dan belum sekolah. Dia datang mengisi ruang-ruang kosongku. Ibuku pergi meninggalkan aku saat aku berumur 2 tahun dan ayahkupun sudah menikah lagi.

Aku diasuh oleh nenekku dan kakakku… kakak yang bagiku adalah pahlawan yang bisa membuat aku tidak membutuhkan lagi kasih sayang siapapun, cukup kasih sayangnya saja sudah memenuhi semua ruang dihatiku.

Setelah lulus dia langsung bekerja di pelayaran. Terasa sekali kasih sayang yang dia berikan padaku. Dia memberiku materi dan kasih sayang yang berlimpah, dia bisa menjadi ayah, ibu, kakak bahkan teman.

Kami tidur bersama, makan bersama…apapun kita lakukan bersama (kecuali mandi), kemanapun dia pergi pasti ada aku (kecuali saat dia sedang bekerja).

Tahun demi tahun berlalu dengan cerianya, aku masih merasa anak kecil seperti dulu, begitupun kak Jen, kasih sayangnya tidak pernah berubah. Tapi tidak demikian dengan nenekku, dia melihat perubahanku yang dulu anak kecil kini beranjak remaja.

Saat itu kami sedang bercanda seperti biasa di ruang depan, tidak ada jarak saat kami bersama. Sampai nenek menegur kami berdua, aku ingat yang dikatakan nenek pada kak Jen.

“Adikmu sekarang sudah besar, tidak baik kalau kalian terus seperti ini. Apa kata tetangga. Kalian harus bisa membatasi diri”.

Memang saat itu aku kelas 1 SMP, usiaku sudah dikatakan remaja, bukan anak SD lagi.

Berbeda dengan teman-temanku yang mulai tertarik pada lawan jenis yang seusia. Hampir tiap hari aku mendengar teman perempuanku bercerita tentang si Adi, si Kris, dll. Bagiku tidak ada yang lebih ganteng dan baik dibanding kakak kesayanganku.

Entah kapan aku mulai mengaguminya, senyumnya selalu ada diingatanku bahkan saat aku sedang tertidur. Wanginya menyebar di semua ruangan. Rasanya mata dan hatiku sudah dipenuhi dengan dia, tidak ada tempat untuk yang lain, bahkan untuk orang tuaku.

Aku mulai bertanya, apakah ini yang dibilang teman-temanku “naksir?”. Apa iya aku naksir kak Jen? usianya 13 tahun lebih tua dariku.

Hatiku mengembang ketika suatu hari seseorang bertanya padanya,”Kapan kamu cari pacar, banyak cewek antri tapi kamu anggurin semua” dan dia menjawab sambil mengelus rambutku “ada yang sedang aku tunggu, aku tunggu adikku ini besar”.

“Kalau kamu nunggu Cihan besar ya keburu jenggoten, berapa umur kamu sekarang?” lalu mereka tertawa menanggapi jawaban kak Jen, aku tidak tahu apa jawaban itu benar dalam hatinya atau hanya candaan semata.

Tapi mulai hari itu aku mulai ingin mempercantik diri, aku ingin terlihat cantik dimata kak Jen, meski sebenarnya aku tidak cantik. Sejak saat itu dalam pikiranku sudah tertanam bahwa suatu hari aku akan menikah dengan kak Jen, kakakku yang ganteng.

Sekali lagi nenek mengingatkan kami agar jangan terlalu “memel” (berlebihan) kalau orang jawa bilang. Nenek orang terdekat diantara kami, mungkin merasakan kedekatan kami sudah melebihi kedekatan kakak dan adik.

Suatu hari nenek memanggil kami berdua “Kok tega kami menyukai adikmu sendiri, dari kecil kamu gendong dia, kamu timang dia, sekarang kok jadi gini?”.

Begitu nenek menghardik kak Jen. Aku hanya diam, malu, takut, tapi nenek tidak menegurku sedikit pun. Bagiku kata-katanya mencerminkan suatu penolakan akan hubungan kami.

Tapi seperti mata dan hatiku sudah tertutup oleh pesona kak Jen, mataku tidak bisa melihat cowok lain selain dia, begitupun hatiku, sudah terlanjur dipenuhi dengan kebaikan dan kasih sayang yang dia berikan padaku selama ini.

Aku tidak perduli ejekan teman saat aku bilang kak Jen adalah pacarku “idih, pacaran kok sama orang tua”, begitu mereka mencibirku.

Setiap hari aku selalu jatuh cinta pada kak Jen, semua yang melekat pada dirinya, aku mengaguminya. Aku tidak tahu apa yang dia suka dariku, mengapa dia mau menungguku, padahal banyak cewek yang menunggunya di luar sana.

Bisa dikatakan kak Jen adalah cinta pertamaku kala itu. Kak Jen memang spesial, daya tarik dari wajahnya saja sudah bisa membuat banyak cewek tergila-gila, apalagi aku yang mengetahui semua hal baik tentangnya, dan juga jumlah tabungan yang ada di rekeningnya.

Berapa banyak hari saat kami hanya berdua, tidak terhitung kesempatan yang ada jika kami ingin melalukan hal yang diluar batas.

Aku bersyukur kak Jen adalah hamba Allah yang taat, tidak pernah melalukan hal yang dilarang agama. Berapa kali dia dijodohkan oleh teman, keluarga, tapi hubungan mereka tidak berlangsung lama.

Dia katakan kepada nenek “aku menunggu adikku”, saat itu ayahku marah besar, tapi nenek meredakannya dengan berkata “tunggu sampai dia besar, setelah itu terserah apa mau kalian, tapi biarkan dia lulus sekolah dulu”.

Sejak saat itu ayah selalu mengawasi kami berdua. Bisa kurasakan kebencian ayahku padanya sejak mengetahui hal itu.

Aku baru saja mulai masuk kelas 2 SMA, dua tahun lagi aku lulus, dan saat itu tiba, saat dia benar-benar mengajakku menikah aku akan langsung bilang “IYA”. Saat itu aku tidak pernah membayangkan apa resiko jika aku menikah di usia muda, apakah aku akan jatuh cinta lagi saat dia sudah semakin tua?

Suatu hari pernah ketika dia berlayar ke Singapura, kapalnya mengalami kecelakaan, dan salah satu awak kapal tersebut meninggal dunia. Apa yang terjadi jika kakakku yang meninggal dan bukan temannya itu? kak Jen sering berlayar hingga satu bulan bahkan tiga bulan lamanya.

Kata orang, orang yang sering berlayar itu tidak akan pernah setia, dimanapun dia mendarat disitu dia akan mendaratkan juga cintanya, apalagi kalau dia ganteng dan banyak uang. Tapi aku tidak perdulikan semua itu, aku siap menanggung dan menerima kekurangan dan kelebihannya.

Tidak ada yang tahu hubungan kami selain nenek dan ayah, semua tetangga bahkan keluargaku yang lain hanya menganggap hubungan kami adalah hubungan kakak dan adik.

Terakhir dia dijodohkan dengan kak Lily, yang aku tahu adalah seorang guru. Meski demikian aku tidak cemburu, ini tidak akan lama, karena aku tahu cinta kak Jen hanya untukku, adiknya tersayang.

Malam itu bukan malam minggu, aku lupa hari apa. Kak Jen mengajakku pergi jalan-jalan, tapi kali ini kami tidak berdua, nenek juga diajak. Kami bersenang-bersenang bertiga, bahkan nenek juga diajak nonton film di bioskop.

Kak Jen membelikan kami banyak barang “Jangan boros, simpan uangnya buat modal nikah kalau-kalau nanti ada jodoh” nenek menasehati. “ih, nenek gimana sih, calonnya kan sudah ada, ya aku ini” gumamku dalam hati, dan kak Jen tersenyum dan membalas “mumpung aku masih bisa membahagiakan kalian berdua, siapa tahu besok sudah tidak bisa seperti ini bu”.

Malamnya dia meminta untuk tidur bertiga di kamar nenek “Apaan sih Jen, kayak anak kecil,” jawab nenek. Meski demikian nenekku juga mengijinkan dia untuk tidur sekamar denganku dan nenek.

Nenek sudah tertidur pulas dengan dengkuran yang makin lama makin keras, kak Jen tidur memunggungiku, dia menutup kepalanya dengan bantal. “Mas, ayo tidur di belakang, nenek mendengkur aku tidak bisa tidur,” pintaku sambil menggoyang badannya.

Dia menggeleng tanpa merubah posisinya. “Mas..” aku membalikkan paksa tubuhnya, kubuka bantal yang menutupi kepalanya, aku melihat air mata dipelupuk matanya “kenapa mas, ada masalah?” dia menggeleng, “kangen keluarga?” dia menggeleng lagi, kemudian tangannya meraihku untuk dibimbing rebahan disampingnya.

Aku tahu ada yang tidak beres, mungkin kak Jen kangen keluarga. Maklum dengan pekerjaannya yang padat membuat dia tidak sempat pulang ke kampung dalam waktu yang cukup lama. Kupaksa mataku untuk terpejam meski susah.

Suara adzan sudah terdengar, aku tahu saat ini kak Jen sudah mandi. Tapi.. tumben kak Jen masih rebahan meski sudah terbangun, dia tersenyum padaku. Nenek dibelakang sedang sibuk membuat kopi seperti biasa. Aku turun dari kamar mandi menuju kamar mandi.

Tiba-tiba terdengar “Jen,jangan bercanda, bangun Jen”. Suara nenek makin lama makin keras. Aku bergegas kembali ke kamar. “Tadi dia sudah bangun, mengapa sekarang tertidur lagi?” kata nenek heran, raut kekhawatiran tampak di wajahnya.”tolong panggilkan pak mo (tetangga)” pinta nenek. Aku pergi segera ke rumah pak Mo, tapi karena hari masih subuh, setelah lama mengetuk bari pak Mo membuka pintu.

Sesampainya dirumah, sudah ada beberapa orang berkerumun di dalam kamar. “Innanilahi” seseorang berkata demikian. Seketika itu seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan, aku tahu arti kata itu. Sementara orang lalu lalang di depanku, pikiranku hanya melayang-layang tanpa arah.

Kulihat tubuh kak Jen digotong beberapa orang menuju ruang depan. Seseorang menepuk bahuku dari belakang “Jen meninggal?” tanya mbak titin, tetangga sebelah rumah. Aku tidak bisa menjawab, juga tidak bisa menangis. Maaf aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku saat itu. Ini pengalaman pertamaku kehilangan seseoang.

Beberapa saat kemudian rumahku sudah dipenuhi banyak orang. ada yang membaca ayat Al-Qur’an di ruang tamu, ada yang meronce bunga, ada yang ini, ada yang itu.

Aku hanya duduk dikamar tanpa melakukan apa-apa. Beberapa jam lalu kak Jen masih disini, tersenyum padaku, kepergiannya yang mendadak membuatku tidak bisa berpikir apa-apa.

Orang tua kak Jen sudah datang bersama ke 5 adiknya, aku hanya mengenal 3 diantaranya. Ibunya tak henti-henti menangis bahkan pingsan. Kak Jen memang tulang punggung keluarga, dia masa depan keluarganya.

Tapi apa mereka tahu bukan hanya mereka yang menyandarkan harapan dan masa depan kepadanya? Apa mereka tahu seberapa dalam dukaku saat ini dibanding mereka?

Kulihat kak Lily sedang menangis disudut ruangan. Semua orang merasa iba padanya, “yang sabar, memang dia bukan jodohmu,” begitu mereka berusaha menghibur hati kak Lily, tidak ada yang menghiburku dengan kata-kata yang sama, padahal akulah pacarnya yang sebenarnya, aku calon istrinya, bukan kak Lily. Aku kehilangan ibu, ayah, kakak, teman dan calon suami.

Kutatap wajah kak Jen untuk terakhir kali sebelum ditutup kain kafan. Ganteng… dia tetap ganteng meski wajahnya pucat. Aku tidak ikut di pemakaman, bahkan sampai lewat 100 harinya aku masih belum berani untuk mengunjungi makamnya.

Beberapa orang menyimpulkan kalau kak Jen kena “Angin duduk”, karena pekerjaannya yang membuatnya sering terkena angin laut, ada juga yang bilang “memang kalau orang baik itu diambilnya cepat, gak usah dikasih penyakit yang lama-lama.”

Apapun itu, yang pasti kak Jen sudah tiada, meninggalkan aku disini bersama semua janji-janjinya, dan juga harapanku yang pupus. “Kakak, kau adalah cinta pertamaku, kau bilang kau akan setia, tapi kenapa sekarang kau pergi?” tapi aku tidak menyalahkan Allah yang telah memanggil hambanya yang baik dengan cara yang baik.

Maafkan aku yang sengaja melupakanmu, semua kenangan selama bersamanya saat itu membuat aku takut untuk mengingatnya. Bulan ini bulan agustus, bulan dia meninggal 18 tahun yang lalu.

Terima kasih ya Allah, telah memberiku kesempatan untuk mengenal satu ciptaanMu yang bagiku sangat sempurna. Sekarang, setiap do’a yang kuucapkan, aku akan menyertakan namanya juga, kakakku tersayang.

Semoga semua amal kebaikanmu menutup dosa-dosamu, sehingga kau bahagia di alam sana. Amin.

3 Comments
  1. ALD
  2. mahrizal
  3. fatkur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *