Menu

Cinta Pertamaku Berakhir Di Liang Kubur

Sejak kecil aku adalah seorang gadis yang pemalu, untuk berkenalan dengan orang baru saja aku tidak bisa memulai percakapan, begitu pun dengan masalah percintaan. Pendek kata aku kesulitan mendapatkan kekasih karena sifatku itu.

Cinta pertama berakhir menyedihkan

Cinta pertama berakhir menyedihkan

Setelah lama cuek ke setiap lelaki, akhirnya aku menemukan cinta pertamaku di bangku perkuliahan. Namanya Fajar, kami satu universitas tapi berbeda jurusan. Aku seorang pemain drama dan dia seorang pemusik.

Kami dipertemukan dalam sebuah pertunjukkan drama. Awalnya aku hanya menganggap dia teman biasa. namun lama kelamaan dia memberikan sebuah perhatian yang lebih padaku.

Awalnya aku menolak dia. Aku ragu pada diriku sendiri. Apa aku pantas untuk menjadi kekasihnya. Namun dia tak pernah menyerah, dia bilang dia akan terus menunggu sampai aku mau menerimanya.

Tiga bulan telah berlalu dan selama itu pula dia tidak mengingkari kata-katanya, sedikitpun dia tak pernah meninggalkan aku. Dia selalu ada disaat aku sedih maupun senang.

Di suatu malam, dia datang menjemputku ke tempat latihan, dia kembali mengungkapkan perasaannya padaku dan entah kenapa untuk kali ini aku luluh padanya. Akupun menerima cintanya dan kami pun resmi berpacaran. Jadilah Fajar menjadi cinta pertama bagiku.

Setelah resmi berhubungan ternyata perjalanan cinta kami tidaklah mulus. Sahabatku Chan, orang yang selama ini menjadi tempat aku berbagi menjadi awal ujian dalam hubungan kami.

Advertisement


Baca juga:

Ujian yang Silih Berganti

Entah kenapa Chan selalu saja mengadu domba kami, mengatakan hal-hal buruk tentang Fajar padaku, bahkan ketika Fajar tau akan hal ini, dia sempat akan mundur. Dia bilang dia tidak mau merusak hubungan persahabatan kami yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.

Aku sedih, aku kecewa, aku ga mau kehilangan Fajar. Aku berusaha mencari tahu kebenaran kata-kata Chan pada teman-teman yang lain, dan dari situ aku baru tahu kalau semua yang Chan katakan itu adalah bohong.

Semua kejelekan Fajar yang dikatakan oleh Chan hanyalah karangan Chan yang dia buat agar aku berpisah dengan Fajar. Dan semua itu dia lakukan karena ternyata dia mencintaiku.

Hubungan aku dan Fajar kembali terselamatkan setelah kami tahu semuanya. Jujur, aku sangat kecewa dengan kelakuan Chan, saking kecewanya, aku pun akhirnya mengambil sikap untuk menjauh darinya. Entah yang kulakukan ini benar atau salah, tapi untuk sementara aku tak ingin berhubungan dulu dengan Chan.

Ujian kami tak hanya sampai disitu. Setelah beberapa bulan berhubungan aku baru tahu kalau Fajar ternyata mahasiswa tidak aktif, dan keimanannyapun sangat kurang. Mungkin aku terlalu naif, tapi buatku keimanan seorang laki-laki itu adalah nomor satu.

Aku terus berfikir, apa aku harus mengakhiri hubungan kami. Namun akhirnya aku mangambil keputusan untuk tetap bersamanya dan membantunya untuk berubah menjadi lebih baik. Lepas dari nantinya kami bersatu atau tidak setidaknya aku harus bisa membuatnya menjadi lebih baik.

Setiap hari kami belajar agama bersama. Setiap hari pula aku selalu memberikan motivasi padanya untuk kembali kuliah. Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia, Fajar kembali menjadi mahasiswa aktif di kampus.

Entah ini adalah tanda-tanda dari Allah atau bukan tapi selama kami berhubungan selalu saja ada faktor-faktor yang sesekali membuatku ingin mundur dari perjalanan cinta ini. Namun sesekali juga aku berfikir, mungkin ini adalah cobaan dari Allah yang ingin menguji seberapa kuat kami dapat bertahan. Dan hubungan kamipun kembali diuji.

Rina mantan Fajar datang ke dalam kehidupan kami. Dia meminta Fajar untuk kembali padanya dengan alasan dia menyesal telah mengkhianati cinta Fajar. Dia baru sadar kalau cinta sejatinya hanya untuk Fajar seorang.

Sayangnya ketika Fajar tidak memperdulikan Rina, dia datang kepadaku. Sia memaki-maki aku dengan sebuatan wanita yang ke-PD-an. Dia juga bilang kalau Fajar tidaklah tulus mencintai aku, Fajar hanya menjadikanku sebuah pelarian saja.

Sedih hati ini mendengar kata-katanya. Aku tahu aku salah karena langsung termakan begitu saja dengan kata-kata Rina dan kami pun bertengkar. “Apa begitu hinanya diri ini sampai-sampai ketika ada seorang laki-laki yang mencintaiku, itupun hanya karena sebuah pelarian?”, tanyaku pada Fajar sambil menangis.

Janji Menikah

Fajar berusaha meyakinkanku bahwa dia mencintaiku tulus. “Aku sayang kamu tulus, yang”, jawab Fajar. Dan untuk membuktikan ketulusannya itu, dia berani memperkenalkan aku pada kedua orangtuanya.

Dua tahun kami berhubungan. Fajar berencana untuk mengajak orangtuanya melamarku untuk menjadi istrinya. Aku senang sekali mendengar rencananya itu.

Memang benar kata pepatah kalau manusia hanyalah bisa merencanakan dan Tuhanlah yang menentukan. Acara lamaran Fajar dan keluargapun diundur karena Ayahnya Fajar meninggal dunia. Aku dan keluarga pergi melayat ke kediaman keluarga Fajar.

Setelah kejadian ini, aku melihat ada yang berubah dengan sikap Fajar. Dia jadi lebih pendiam dan sering melamun. Aku mencoba untuk tetap selalu ada disisinya untuk menghiburnya.

Kondisi fisik Fajar semakin hari semakin menurun tapi dia tidak mau menunjukannya pada orang lain. Dia tetap tersenyum dan bercanda-canda dengan teman-temannya. Dahkan dia juga sempat mengantarkan aku observasi ke luar kota untuk kebutuhan skripsiku.

Tiga hari sebelum kejadian itu terjadi, Fajar sempat ikut jalan-jalan dengan keluargaku. Selama perjalanan aku melihatnya selalu bulak-balik ke kamar kecil untuk menyiram badannya dengan air. Katanya dia selalu merasa gerah walaupun badannya disiram air beberapa kali.

Di tempat peristirahatan, kami dihibur oleh sekelompok pemain elektone dangdut yang sedang pentas disana. Gak biasanya Fajar ingin nyanyi lagu berjudul “Ayah”. Aku melihat tatapan matanya begitu kosong dan asli rasanya begitu menusuk banget ke hati.

Keesokan harinya aku dapat telepon dari Fajar kalau dia sakit. Akupun menjenguknya di kosan. Karena kupikir sakitnya Fajar agak parah, akupun menghubungi Ibunya yang tinggal di luar kota. Karena kondisi Fajar tak kunjung membaik akhirnya aku dan teman-teman sepakat untuk membawa Fajar ke rumah sakit, itupun setelah dapat izin dari Ibunya.

Berpisah Selamanya Dengan Cinta Pertama

Setelah sampai di rumah sakit dan mendapat pemeriksaan awal dari pihak rumah sakit, dokterpun menyuruh Fajar untuk langsung dibawa ke IGD. Malam hari seluruh keluarga Fajar datang, bebarengan dengan hasil laboratorium yang menyatakan bahwa Fajar mengalami penyakit gula hingga mencapai 160. Sampai sekarang Fajar dalam keadaan koma di ruang Instalasi Gawat Darurat.

Karena tak tega untuk meninggalkan Fajar, akupun menginap di rumah sakit. Semalaman aku tak bisa tidur, aku terus berdoa untuk kesembuhan Fajar. Aku menangis, merintih, berdoa ingin Fajar kembali sehat seperti sedia kala, dengan segala candaannya, dengan segala tawanya, dengan segala keceriaannya.

Keesokan harinya, kira-kira jam 8 aku pamit pulang dulu untuk membersihkan diri. Aku berani pulang karena kulihat Fajar sudah mulai tenang walaupun masih belum sadarkan diri. Namun sayang, baru saja aku sampai ke rumah, Ibu Fajar menelepon, katanya Fajar kembali kritis.

Aku dan orangtuaku langsung berangkat ke rumah sakit kembali. Disana aku melihat Fajar sedang diberi alat pemicu jantung. Melihat kejadian itu airmataku tak terbendung lagi.

Sambil menangis dipelukan Ayah, aku terus berdoa semoga Allah mau mengembalikan Fajar ke dunia ini. Setelah lama menunggu akhirnya dokter pun keluar dari ruangan. Dia bilang pihak rumah sakit sudah berusaha semaksimal mungkin namun kondisi Fajar jauh dibawah rata-rata. Sekarang tinggal menunggu keajaiban dari Allah SWT.

Mendengar perkataan dokter, aku langsung lari ke mushola. Aku menangis dan kembali bersujud kepada Allah agar mau memberikan mujizatnya kepada Fajar. Aku benar-benar menyayangi Fajar dan tak ingin kehilangan dia.

Setelah selesai berdoa, aku kembali ke depan ruang IGD. Disana aku melihat semua orang menangis. Aku pikir mereka menangis karena masih sedih dengan kata-kata dokter tadi.

Baca juga:

Namun ternyata aku salah. Ketika aku mengintip ruangan Fajar dirawat, disana aku melihat Fajar sedang dibimbing untuk mengucapkan syahadat oleh Ibunya. Semua orang berusaha mendekatiku dan berkata agar aku bisa sabar dan tabah.

Aliran nafas Fajar sudah tidak menentu. Dokterpun memaksa kami semua untuk keluar dari ruangan. Kami semua termasuk aku, duduk di lantai depan ruang IGD.

Tak beberapa lama dokter keluar dari ruangan dan langsung memegang tangan Ibu Fajar sambil berkata, “Yang tabah ya Bu, Maaf Fajar sudah meninggal”. Air mata semua orang yang ada disitu jatuh keluar. Adik Fajar sampai pingsan mendengar hal itu.

Entah apa yang terjadi padaku, saking sedihnya dan terluka sampai-sampai aku tidak bisa mengeluarkan air mata. Pandangan mataku buyar saat itu juga namun aku tak menangis. Pikiranku kosong, nafas serasa terhenti, dan hidup seperti tak bernyawa lagi.

Dua tahun kami menjalin hubungan. melewati suka maupun duka dan akhirnya kami harus dipisahkan dengan sebuah kematian.

Kuhadiri segala prosesi pemakamannya. Kutatap wajahnya untuk yang terakhir kali sebelum tanah merah menutupnya untuk selamanya. Dan akupun kembali berdoa semoga Allah mengampuni segala dosanya dan menerima segala amal ibadahnya.

Setelah kejadian itu hidupku terasa hampa. Namun aku tahu bahwa aku tak boleh sampai lupa diri. Aku masih harus mengejar cita-citaku untuk membahagiakan orangtuaku.

Namun dalam urusan percintaan, kupikir aku ingin sendiri dulu untuk beberapa waktu. Sampai akhirnya suatu hari nanti Allah akan mempertemukan aku dengan jodohku yang sebenarnya. Jodoh yang dapat menikahiku, yang dapat menjadi imamku di dunia maupun di akherat kelak. Aamiin

***

Seperti diceritakan kawan Sari ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini.

2 Comments
  1. jimmy
  2. anna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *