Menu

Kisah Seorang Kakek

Selama menikah bertahun-tahun, istriku tidak pernah belajar hidup berumah tangga dan menghargai suami, sampai pernah istri melempar pisau daging kepadaku, beruntung aku cepat melewati pintu dan menutupnya sehingga pisau menancap di daun pintu yang posisi pisau persis setinggi badanku, kalau lambat dikit, wassalam.

cerita seorang kakekAku Rahmat, seorang kakek usia 60 tahun lebih, sudah punya seorang istri, 2 orang anak dan 5 cucu. Sungguh bahagia saat ini begitu kata kawan-kawanku. Aku sudah menikah selama 41 tahun tanpa ganti istri.

Cukup bersyukur bisa mendampingi keluargaku selama ini dengan utuh. Sekitar 41 tahun yang lalu aku menikahi seorang ABG berusia 19 tahun dan aku sendiri saat itu 25 tahun. Istriku berasal dari keluarga yang berkecukupan dan dia cukup dimanja oleh orang tuanya.

Setelah pernikahanku berumur 10 tahun, aku merasa ingin memiliki alat yang bisa mempercepat waktu sehingga aku mendadak bisa berumur 50 tahun dan istriku berumur 44 tahun, dengan harapan istriku bisa berubah tidak lagi manja dan semau gue.

Bagaimana tidak, selama 10 tahun menikah dia tetap tidak melayaniku dengan baik sebagai suami, untuk bikin minum saja dilakukan pembantu.

Seringkali aku merasa iri kepada kawan-kawanku yang dilayani oleh istrinya, kok istriku tidak seperti itu ya? Tapi aku sadar dan bisa terima karena Allah telah memberikan istri seperti itu.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kami lalui bahtera hidup. Pada saat umurku menginjak 50 tahun ternyata istriku yang berumur 44 tahun tidak pernah belajar tentang kehidupan rumah tangga, malah makin parah, sampai pernah istri melempar pisau daging kepadaku.

Beruntung aku cepat melewati pintu dan menutupnya sehingga pisau menancap di daun pintu yang posisi pisau persis setinggi badanku, kalau lambat dikit, wassalam. Tapi lagi-lagi aku sadar bahwa istriku adalah pemberian Allah.

Pada tahun 2003, saat itu umurku 55 tahun aku berkenalan dengan seorang wanita yang saat itu berumur 30 tahun, namanya A yang bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke di kota C.

Singkat cerita aku dan A menikah siri dengan segala komitmen yang tidak memberatkan aku dan A tidak minta aku menceraikan istriku ataupun mengikat waktuku. Rasa-rasanya aku hanya mencari alasan untuk pembenaran dengan menikah siri tersebut.

Pernikahan siriku hanya bertahan 6 tahun dan kemudian hidupku kembali seperti dulu bersama istri sahku. Aku kembali jenuh dan mengharapkan ada perubahan walaupun sedikit pada istriku dalam bersikap, bertutur kata dan sebagainya.

Tapi ternyata dugaanku salah, makin bertambahnya umur seseorang harusnya membuat dirinya makin bijak, lha ini malah tidak ada perubahan.

O iya, Sebelumnya pada tahun 2000 aku pernah divonis mengidap hipertensi. Salah satu pencegahannya adalah jangan sampai marah ataupun merasa tertekan kalo tidak mau kena stroke.

Jadi dirumah dari pada kena stroke lebih baik aku diam tidak meladeni kata-katanya yang masih saja sering menyakiti. Kapan aku mengalami ketenangan diusia senja ini? Sering kali untuk selingan aku membaca cerita 17+ di internet.

Kadang-kadang aku berpikir wah pengen punya pendamping lagi, namun setelah kuperhitungkan masak-masak hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalahku dengan istriku malahan bisa menambah masalah baru, betul pembaca?

Saat ini aku memohon kepada Tuhan semoga masih diberi umur panjang sehingga bisa memperingati kawin emas dengan istriku, 9 tahun lagi.

***

Seperti diceritakan Bapak Rahmat ke redaksi ceritacurhat.com. Punya cerita curhat? tulis dan kirim cerita anda disini.

3 Comments
  1. initial-d
  2. nung
  3. bule

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *