Menu

Nasib Memiliki Suami Tukang Selingkuh

Memang sudah nasibku yang buruk menikahi suami yang tukang selingkuh. Aku tahu dia mencintaiku dan juga menyayangi putri kecil kami, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan selingkuhannya. Aku yang terlanjur dipenuhi amarah dan dendam ikut-ikutan selingkuh. Sekarang rumah tanggaku terancam bubar karena suamiku yang egois itu mengetahui perselingkuhanku.

suami tukang selingkuhCerita perselingkuhan yang mendera rumah tanggaku akhir-akhir ini semakin memuncak. Terimakasih kepada redaksi ceritacurhat.com yang mau menampung tulisanku ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Sebelumnya pekenalkan namaku Ana, aku sudah menikah selama 13 tahun. Saat menikah dulu usiaku masih 24 tahun dan suami 26 tahun.

Sebenarnya sejak awal aku sudah tahu suamiku adalah seorang pecinta wanita tapi karena aku memang mencintainya aku menerima lamarannya dengan harapan dia bisa berubah kalau sudah menikah dan memiliki anak. Jujur saja saat itu aku merasa beruntung bisa mendapatkannya.

Ternyata harapan tinggal harapan.. kenyataan berbicara lain. Di awal pernikahanku saja dia masih sering main perempuan. Bahkan dia memiliki pacar di kantornya saat aku mengandung putri pertamaku.. yang kemudian meninggal.

Pada tahun ketiga pernikahan aku mengandung lagi, dan disinilah aku tahu ternyata suamiku masih berhubungan dengan wanita itu. Kesal, marah, dan cemburu tapi takut kehilangan itulah yang ada di pikiranku.

Tanpa terasa putriku telah berusia 2 tahun dan suamiku tetap saja dengan dunianya. Suamiku mungkin menyayangi aku dan mencintai buah hati kami, tapi dia juga masih tetap menyukai wanita lain.

Baca juga cerita selingkuh dan rumah tangga lainnya:

Singkat cerita aku tau dia masih berhubungan dengan wanita itu. Aku bahkan pernah melabrak perempuan itu. Cuma kesalahanku adalah aku tak bisa marah pada suamiku.

Aku juga sempat mencium gelagat tidak beres antara suamiku dengan pengasuh putriku. Entah sejak kapan mereka dekat dan berhubungan, hanya Tuhan yang tahu.

Karena selalu stres karena perilaku suami yang buruk, aku memutuskan berhenti bekerja dengan harapan bisa lebih memperhatikan suami. Aku berpendapat mungkin suamiku kurang mendapat perhatian dariku.

Ternyata dugaanku keliru, bukannya sembuh, aku malah mendapati kenyataan yang semakin membuatku goyah. Suamiku ternyata sangat sering berfoya-foya dengan wanita lain atau lebih tepatnya gampang di rayu kemudian di porotin.

Aku sedih dan kecewa sekali tapi sekali lagi aku sangat mencintai suamiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa hingga usia perkawinanku menginjak 8 tahun. Saat itu suamiku tengah berhubungan dengan wanita di tempat kerjanya.

Sabar ada batasnya, lama-lama aku kesal juga hingga aku berniat membalas suami dengan berselingkuh. Cuma aku bingung gimana caranya selingkuh? jujur saja aku kurang PD akan penampilanku karena aku tipe wanita yang biasa saja. Jauh dari cantik.

Sampai akhirnya aku punya ide membuat suamiku cemburu. Aku mulai dengan mengacak nomor telpon. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Aku mendapat kenalan seorang pria, dia satu daerah dengan tempat tinggalku sekarang. Cuma dia tidak tahu tentang diriku karena aku selalu mendustainya.

Sejuta cerita aku suguhkan untuknya karena menurutku takkan ada perjumpaan, lagi pula niatku juga cuma sekedar membuat suamiku cemburu. Laksana punya “mainan” baru aku begitu anteng dan menikmatinya, hingga akhirnya aku jatuh hati padanya. Meski kita belum pernah bertemu muka tapi tak pernah satu jam pun berlalu tampa kabar darinya.

Semua takkan terjadi bila suamiku sedikit saja memberiku perhatian. Dia terlalu sibuk dengan wanitanya, dia tidak menyadari kalau perhatianku mulai terbagi. Setahun sudah aku bercinta lewat telepon dan saat aku tahu suamiku semakin menjadi-jadi dengan kelakuannya, aku memutuskan untuk mulai bertemu muka dengan orang yang selama ini menemani kesepianku.

Saat itu aku tengah mengandung putraku yang ke 3, usia kandunganku menginjak 8 bulan. Aku janjian bertemu dengan selingkuhanku. Mungkin karena hati telah bicara atau mungkin juga karena dorongan setan, dia tak perduli aku istri orang dan tengah mengandung pula, dia menerimaku apa adanya.

Jujur saja aku semakin sayang padanya, aku semakin hanyut dalam cintanya meski kami masih bisa membatasi diri. Tapi perhatian dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah kudapat dari suamiku aku dapat rasakan darinya.

Sekarang aku bisa tahu bagaimana rasanya disayang, aku digandeng dan dipeluk di depan umum. Kami bergandengan mesra dan merasakan sejuta keindahan bersama meskipun aku tahu diapun berstatus suami orang.

Dan akhirnya suamiku tahu bahwa aku selingkuhi. Dia marah sekali waktu itu. Akupun minta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi. Dan kamipun akur, tapi ternyata pemirsa hal ini tak membuat suamiku berpikir kenapa aku mencari perhatian.

Dia tetap dengan dunianya dengan wanita-wanitanya, seolah gak pernah bosan hingga pada akhirnya aku tahu suamiku dikejar salah satu teman wanitanya untuk dimintai pertanggung jawaban.

Disitulah aku marah, sakit hati, kecewa dan yang pasti hatiku mulai berontak, percuma selama ini aku mempertahankan kesucian dan kesetiaanku padanya. Akhirnya aku mengesampingkan peraturan dalam pernikahan, aku tak perduli lagi dengan peraturan apalagi etika.

Yang ada di hatiku hanya dendam “kamu bisa aku juga bisa”, dan akhirnya akupun melanjutkan hubunganku yang dulu sempat berhenti dengan selingkuhanku. Tapi kini, tak lagi ada penghalang diantara kami, tak ada lagi batas. Aku membebaskan diriku berbuat dosa dan mereguk madu cinta sepuas-puasnya dari selingkuhanku.

Dan kini sudah 5 tahun aku menjalin hubungan dengannya. Tak terasa memang lamanya karena aku menyembunyikannya dengan rapi. Saat perselingkuhanku terbongkar, suamiku murka, dia sangat marah dan merasa harga dirinya aku injak-injak, sejuta makian dia limpahkan kepadaku.

Kucoba untuk menjelaskan kepadanya tapi dia tak perduli, seakan dia yang paling suci, dia yang paling benar dan dia yang paling baik.

Sementara itu, selingkuhanku pelan-pelan pergi meninggalkanku, alasannya dia menyadari tak ada gunanya mempertahankan aku sementara dia sendiri punya keluarga. Tapi suamiku tetap saja menduga kami masih berhubungan. Apa yang kulakukan selalu cacat di matanya.

Tapi yang anehnya dia tetap saja dengan dunianya. Dengan teman wanitanya. Dia mencela aku sementara dia sendiri mencoreng muka sendiri.

Akhirnya mahligai perkawinanku diambang kehancuran, entah sampai kapan kami bisa bertahan. Hari-hariku bagai di neraka kalau ada dia, aku lebih suka menghindar. Hanya buah hati kami saja yang membuatku sampai detik ini masih bertahan.

Nah itulah garis besar kehidupanku aku yang jenuh dengan kehidupan ini mengharap ada uluran yang membantuku bangkit dari nestapa.
***

Seperti diceritakan kawan Ana ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis komentar anda di bagian bawah halaman ini. Atau tulis cerita curhat anda disini.

One Response
  1. Uun Saputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *