Menu

Aku Sedih… Anakku Direbut Keluarga Suami

Sebut saja nama ku Mulan, ini adalah cerita sedih yang kupendam selama ini. Anakku yang kukandung sembilan bulan direbut kakak iparku, aku sangat sedih karena mereka membatasiku untuk bertemu anakku sendiri.

cerita sedih istriAku menikah saat masih berusia 18 tahun, sebenarnya pernikahan ini terjadi karena aku telah hamil lebih dulu. Berat rasanya menjalani hidup ini karena aku selalu menjadi ejekan orang-orang di sekitarku, tapi aku berusaha tegar dan tidak mempedulikan omongan serta ejekan mereka.

Hari-hari kulalui dengan rasa penyesalan. Kujaga dan kurawat kandunganku agar selalu sehat tapi suatu hari, suamiku mengatakan bahwa kakaknya ingin merawat anak kami saat dia lahir nanti. Aku hanya terdiam dan tidak bisa menjawab, karena saat mendengar itu hatiku seperti teriris pisau, sedih rasanya jika nanti aku harus jauh dari anakku.

Sampai tiba waktunya, malam itu aku melahirkan seorang bayi laki-laki mungil. Kupeluk dia dengan erat dan penuh dengan kasih sayang. Bahagia rasanya karena aku telah menjadi seorang ibu. Tapi kebahagiaanku itu hanya sementara, karena tepat seminggu setelah kelahirannya, aku harus merelakan dia di bawah jauh dariku.

Sebenarnya aku tidak pernah mengizinkan mereka untuk merawat anakku. Tapi karena naluriku sebagai seorang wanita, aku merasa kasihan pada mereka yang telah menikah sepuluh tahun lebih tetapi belum mempunyai seorang anak. Aku berpikir apa salahnya membagi kebahagiaan, toh dia juga kakak kandung dari suamiku, saat aku pulang nanti aku juga bisa bersama anakku. Karena rasa kasihan dan pikiranku yang menganggap mereka baik maka aku mengizinkan mereka membawa anakku.

Tapi ternyata kenyataan yang kuhadapi berbeda, saat aku pulang dan ingin bersama anakku, semuanya terasa sulit. Mereka membatasiku untuk bertemu dan bersama anakku. Bahkan mereka mengatakan jika anakku bersamaku, dia selalu saja sakit, mereka mengatakan aku tidak bisa mengurus anak.

Bahkan mereka juga mengatakan hal itu pada orang lain. Sakit rasanya diperlakukan seperti itu, bahkan aku dan suamiku seperti tidak mempunyai hak atas anak kami. Aku mencoba bersabar dan berpikiran positif terhadap mereka, mungkin saja karena terlalu menginginkan anak mereka menjadi buta, mungkin setelah ini mereka akan sadar kalau apa yang mereka lakukan itu salah.

Tapi rupanya mereka makin menjadi, bahkan mereka membuat akta anakku atas nama mereka tanpa sepengetahuan dan seizinku. Anehnya keluarga dari suamiku tidak ada yang memberitahuku. Mereka seperti sengaja menyembunyikan semuanya dan mendukung apa yang di lakukan oleh kakak serta kakak iparnya tersebut.

Advertisement


Mereka semua tidak pernah ada yang mau mengerti dan memperdulikan perasaanku. Mereka semua mendukung apa yang dilakukan kakak dan kakak iparnya itu. Sampai akhirnya, aku tidak bisa menahan rasa sakit dan sedih ku lagi, aku menangis di depan suamiku, aku meminta dia untuk melakukan sesuatu, tapi dia hanya bisa diam dan balik marah kepadaku.

Air mataku seakan tidak bisa membuatnya luluh untuk membelaku. Aku tau dia berada di posisi yang sulit, karena jika dia membelaku, orang tua serta keluarganya pasti menyalahkan dia. Tapi apa aku yang harus di korbankan? Apa aku yang harus selalu mengalah?

Setelah semua perjuangan yang kulakukan untuk melihat anakku lahir ke dunia, apa aku tidak boleh bertemu dan bersama anakku? apa aku tidak boleh memiliki akta anakku atas namaku sendiri? apa aku tidak boleh menjadi orang tuanya yang sah secara hukum? aku bingung harus berbuat apa… di satu sisi aku menghormati suamiku dan keluarganya, tapi di sisi lain aku menginginkan mereka mengerti aku.

Aku bingung, pembaca tolong aku, beri aku masukan apa yang harus aku lakukan. Aku sangat rindu anakku..
***

Seperti yang diceritakan kawan Mulan kepada redaksi ceritacurhat.com. Silahkan beri masukan pada kolom komentar di bawah ini. Punya pengalaman atau cerita hidup yang menarik untuk di share ke pembaca yang lain? tulis dan kirim cerita anda disini.

6 Comments
  1. oncom@bandung
  2. Frengky Siregar
  3. Raenda
  4. Nisa Nawan
  5. dede
  6. nafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *