Menu

Akhir Sebuah Penderitaan

Awal tahun 2010, aku bertemu dengan seorang pria, sebut saja namanya Amir. Kami bertemu dan berkenalan di sebuah SPBU. Menurutku Amir cukup dewasa , itu mungkin karena umurnya 10 tahun lebih tua dariku. Saat itu aku masih 18 tahun dan dia sudah 28 tahun. Ini adalah cerita sedih yang kualami beberapa tahun lalu sebelum aku menikah dengan Amir.

cerita penyesalanSaat berkenalan itu, aku masih berstatus mahasiswi sebuah kampus dan Amir sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Awalnya aku merasa biasa saja, karena waktu itu kami sudah punya pacar masing-masing, jadi komunikasi kami hanya melalui hp dan facebook.

Dua bulan kami tetap menjalin komunikasi seperti itu dan akhirnya karena saling suka kami putuskan untuk pacaran. Dan seperti orang lain, hubungan kamipun sering mengalami pasang surut, mungkin ini juga karena ego ku yang terlalu besar.

Akhirnya kami putus komunikasi, dia merasa aku selalu membuat dirinya kesal. Aku sakit hati dan sedih banget karena aku tidak tahu apa kesalahanku.

Dan setelah dua bulan berlalu, dia menelepon kembali dan mengajak untuk baikan. Pada saat itu yang ada dipikiranku hanya keinginan untuk balas dendam. Tapi anehnya, niatku itu tidak kunjung kulaksanakan, aku malah merasa mulai mencintainya.

Akhirnya kami jadi lebih sering bertemu, dia juga sering bertamu ke rumah dan untuk memadu kasih kami selalu janjian di luar karena ayahku sangat tidak suka kalau aku pergi berduaan dengan laki-laki.

Hampir satu tahun kami pacaran, dan akhir-akhir ini aku merasa dia mulai tidak perhatian lagi kepadaku. Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya, aku pikir mungkin dia punya pacar lain. Aku bingung. Dan dalam kebingungan itu aku berkenalan dengan pria lain yang sering lewat di depan rumahku.

Dari berkenalan itu kami jadi sering bercanda, dan tanpa sepengetahuan orang tua dan Amir, kami berpacaran sembunyi-sembunyi.

Advertisement


Sebut saja namanya Rivan. Tapi Rivan sudah beristri, dia bilang rumah tangganya sudah mau hancur. Aku terlanjur menyenanginya, aku selalu rindu jika Rivan sekali saja tidak menelepon atau mengunjungiku di rumah.

Baca curhat lainnya:

Aku mulai melupakan Amir meskipun hubunganku dengannya masih status pacaran. Sekarang teman jalanku adalah Rivan yang lucu dan ganteng.

Kami sering bertemu di luar dan tanpa aku sadari kami melakukan hubungan suami istri, entah sudah berapa kali kami melakukannya, sampai akhirnya aku hamil.

Aku memberitahu Rivan perihal kehamilanku, Rivan kaget dan balik bertanya apa betul anak dikandunganku itu anaknya? Ya jelas aku bingung, aku tidak pernah berhubungan intim selain dengan dirinya. “Kamu kan punya pacar,” tanya Rivan yang membuatku semakin sakit hati.

Aku sangat sedih dan dalam keadaan seperti itu pacarku Amir justru tambah sayang padaku, dia tidak tahu bahwa aku telah ternoda. Aku merasa bersalah kepadanya.

Dalam hati aku menangis, Ya Allah kenapa semua jadi begini. Kalau saja Amir perhatian kepadaku dari dulu mungkin aku tidak akan membuka diri ke Rivan dan hal seperti ini tidak akan terjadi.

Pada awalnya aku tidak berniat menggugurkan kandunganku karena Rivan hanya mau menikahiku sebagai istri keduanya. Aku juga semakin sayang ke Amir, apalagi aku takut orang tuaku marah. Jadi aku pikir aku harus menutupi aibku ini.

Perutku semakin besar dan saat itu kandunganku sudah berusia 4 bulan. Orang tuaku mulai curiga tapi aku selalu berusaha menutupi dan bersikap biasa saja. Ibuku selalu bertanya apa aku sudah datang bulan atau belum, dan selalu kujawab sudah.

Akhirnya kutelepon Rivan, aku bilang mau menggugurkan kandunganku. Awalnya dia bingung tapi akhirnya dia setuju juga, diam-diam aku pergi ke tempat aborsi bersama Rivan. Tapi belum satu minggu aku menjalani proses aborsi, orang tuaku akhirnya tahu aku hamil.

Aku mengaku bersalah dan juga mengaku sedang menjalani aborsi, orang tuaku sangat kecewa, hampir-hampir shock, aku takut bapakku jatuh sakit. Belum lagi pacarku yang begitu hancur hatinya saat tahu aku hamil.

“Tapi kita kan belum pernah melakukannya?” tanya Amir. “Bukan sama abang, adik di perkosa,” jawabku. Itulah yang aku katakan kepada Amir dan orangtuaku. Dia marah, sedih dan kecewa, dia juga menangis.

Singkat cerita aku keguguran…

Amir sudah bicara dengan kedua orang tuaku, dia mengatakan aku keguguran dan bukan dia yang memperkosa diriku. Hatiku hancur melihat orang-orang yang aku cintai kecewa. Beruntungnya diriku, Amir tidak langsung meninggalkanku, karena dia sangat mencintaiku.

Kami pun menjalani hubungan seperti biasa tapi dia kadang masih bertanya tentang pria yang menodaiku. Jika menghadapi situasi begitu, aku hanya diam dan menangis, kemudian dia memelukku tanpa bertanya lagi, seakan mencoba memahami perasaanku.

Rivan sekarang sudah menghilang entah kemana, hubunganku dengan Amir semakin serius, Dia mengaku tidak bisa melupakan musibah yang menimpaku, tapi dia juga tidak bisa jauh dariku. Aku bilang kalau abang masih ragu kita pisah aja dulu, tapi dia bilang akan melamarku. “Semua itu musibah, abang akan terima semua kekurangan adik,” katanya.

Akhirnya Amir melamarku dan tidak lama kamipun menikah dan resmi menjadi pasangan suami istri. Alangkah bahagianya diriku punya suami yang sayang kepadaku. Sampai sekarang dia masih memanjakanku, dia benar-benar mengubur musibah yang pernah menimpaku.

Tapi dia sangat pencemburu, aku tidak diberinya ijin keluar rumah tanpa dirinya, tapi tidak apa karena aku tau dia cinta dan sayang kepadaku. Terimakasih Ya Allah, Kau telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku. Cerita sedih yang pernah kualami akhirnya berakhir dan berbuah kebahagiaan.
***

Seperti diceritakan kawan Shelly ke redaksi ceritacurhat.com. Kirim cerita curhat anda disini

2 Comments
  1. widerin
  2. bule

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *