Menu

Papa Meninggal, Hidupku Sengsara

Sebagai anak laki-laki dan satu-satunya dalam keluarga, hubunganku dengam papa sangatlah dekat, maka ketika papa meninggal dunia dan menghadap sang pencipta aku menjadi begitu sedih, depresi dan stress berhari-hari.

Aku dianggap penggangguMama seolah tidak mengerti keadaanku, ia mulai memaksakan kehendaknya dengan alasan toh segala keperluanku tetap dicukupkan, katanya wajar kalau mama juga ingin aku menuruti keinginannya.

Walau mama aktif di Gereja, bukan berarti tidak ada permasalahan dalam hidup kami, justru hancurnya perekonomian keluargaku gara-gara mama tertipu temannya yang juga terhitung masih keluarga kami.

Singkat cerita, kami harus kehilangan rumah yang puluhan tahun kami miliki, bahkan kami harus menumpang di rumah teman mama yang anak-anaknya sangat menyebalkan.

Kami disana seolah-olah menjadi pengemis. Mereka dengan lancang menggunakan barang-barang milik kami tanpa izin, membatasi ruang gerak kami dan sengaja membuat kami merasa tidak betah.

Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di kontrakan yang lebih mirip gubuk karena sangat sempit, kami harus tidur bersama dengan tumpukan barang di sekitar kami. Yang lebih menyakitkan, sejak papa tidak ada, keluarga seolah tidak mau peduli lagi dengan kami.

Mereka dulu hanya sungkan dan juga selalu merepotkan papa. Sekarang setelah beliau tidak ada, mereka tidak lagi mau tahu apa yang terjadi pada kami. Melihat keadaanku yang emosional, mama memintaku ikut pelajaran Alkitab di Gereja.

Jujur saja aku malas, karena materi yang diberikan terlalu sederhana, memangnya aku masih bocah? Tapi dari pada mama makin mengomel, dengan berat hati aku ikuti pelajaran itu.

Advertisement


Menjelang akhir pelajaran, diadakan retreat, yang menjadi mentorku adalah wakil gembala Gereja kami. Mulanya aku menanggapi beliau biasa saja, namun diluar dugaan, beliau memintaku memanggilnya papa.

Sepotong kata itu benar-benar mengubahku, aku senang sekali, seperti anak kecil mendapat permen. Wakil gembala pun tidak sungkan menunjukkan sikap mesra padaku di depan semua orang, apalagi sejak itu, intensitas kami dalam bertemu dan berkomunikasi semakin banyak.

Teman-temanku juga senang melihat perubahan yang terjadi padaku. Sayang, semua tidak berlangsung lama, entah kenapa tiba-tiba mama tidak suka melihat aku akrab dengan wakil gembala, padahal mama satu divisi dengan beliau, yang lebih menyakitkan lagi, mama mengatakan hal-hal buruk yang tidak pernah aku lakukan!

→ Cerita curhat menarik lainnya: Aku Anak Yang Tak Diharapkan

Saat aku tanya mama selalu menutupi siapa yang menyebarkan fitnah tersebut. Tapi Tuhan memang Maha adil, dalam satu kesempatan aku berhasil mengetahui bahwa banyak orang di Gereja yang tidak suka padaku. Dan ternyata penyebar fitnah itu adalah seorang wanita yang sudah aku anggap kakakku sendiri.

Karena diam-diam dia jatuh cinta pada wakil gembala, sungguh menjijikkan! Mengejar pria berisitri namun malah memfitnahku? Sejak itu hubunganku dengan wakil gembala mengalami pasang surut.

Aku sering kasar padanya, supaya dia membenciku, aku pun lebih memilih pergi ke Gereja lain dengan teman-temanku, dimana aku mendapat penerimaan, penghargaan, penghormatan layaknya seperti orang lain.
***

Punya cerita curhat untuk dibagi ke pembaca? tulis dan kirim cerita anda disini.

One Response
  1. anonim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *