Menu

Bodohnya.. Kuputuskan Kekasihku Demi Pria Pembohong

Benar kata orang, buat apa pacaran terlalu lama kalau tidak menikah. Tiga tahun adalah waktu yang cukup bagiku untuk mengenal sifat kekasihku yang sangat buruk, selama ini aku mengalah karena mencintai dia. Dan Aku berani memutuskannya setelah mengenal pria lain,, yang ternyata jauh lebih brengsek dan pembohong dari kekasihku.. betapa bodohnya diriku.

cerita pacaranPerkenalanku bermula dari salah satu situs jejaring sosial, awalnya aku hanya menganggapnya teman karena aku juga waktu itu mempunyai pacar, walaupun status kami belum jelas akan kemana, apakah akan lanjut ke pernikahan atau hanya sekedar berpacaran saja.

Pacarku sebut saja namanya Rudi, kita masih sama-sama kuliah, sampai sekarang dia belum menunjukan keseriusannya sementara teman-teman kampusku kebanyakan sudah membawa pacarnya ke rumah orang tuanya, sedangkan aku membawa pacar hanya aku kenalkan sebagai teman saja.

Tiga tahun sudah perjalanan cintaku dengan Rudi tapi sepanjang waktu itu juga aku belum yakin dengan dirinya. Dalam hatiku masih sering timbul kebimbangan, walaupun 3 tahun bukan waktu yang sebentar, belum lagi keluargaku sepertinya kurang suka dengan semua penampilan dia, dia emang baik, sopan tapi kayaknya dia lebih baik jadi temen aja, gak usah jadi suami, begitu kata Ibu ku.

Aku berusaha ngeyakinin keluargaku padahal aku sendiri kurang yakin. Tapi dia begitu baik, aku juga mulai mencintainya karena dia begitu care padaku dengan berbagai perhatiannya sehingga aku bisa nerima semua kelemahan dia.

Dia ga suka sarapan pagi aku bisa terima, dia jarang mandi bahkan mandinya hampir sebulan sekali aku pun bisa terima, dia sering marah-marah di depan umum aku juga bisa terima, dia ga bisa nahan emosi kalo kepalanya kepanasan aku bisa terima.

Cuma satu yang ga bisa aku terima ketika dia berani ngehina postur tubuh bapak aku yang kurus, bukan hanya sekali bahkan berulang kali.

Entah berapa kali aku putusin dia hanya karena dia ngomong bapakku kurus, aku sering banget ngingetin dia kalo aku gak suka dia ngomongin kejelekan keluargaku, siapapun itu walaupun bener kaya gitu tapi aku gak suka.

Advertisement


Perjalanan cinta kami di warnai dengan berbagai situasi, kebanyakan aku ngeluh dengan keadaan dia yang super jorok setengah mati, hati ku bertanya mampuhkah aku hidup dengan orang seperti dia?

Entah karena apa sehingga aku bisa bertahan 3 tahun dengannya, sering kita debat masalah politik, hukum, pendidikan sehingga menyebabkan pertengkaran di antara kami karena beda paham, sering kita debat di dalam kelas dengan argumen beda kemudian terbawa ke luar kelas tapi itu semua bisa ku terima.

Sehingga pada akhirnya aku ga tahan dengan semua kebodohanku, aku berubah jadi pembangkang, dia bilang kalo dia gak suka cewe pembangkang tapi aku gak peduli yang ada di fikiranku cuma satu gimana cara aku putus sama dia.

Dan akhirnya aku mengenal seorang pria lain melalui jejaring sosial, dia begitu lembut, romantis dan aku lihat di fotonya wajahnya gak jelek2 amat. Sebut saja namanya Sandi, semakin lama kita semakin dekat sehingga akhirnya kita tukaran nomor Hp.

Dua bulan perkenalan kita akhirnya dia memutuskan buat ketemu, aku pun menyanggupi tapi teman-temanku melarangku sebelum aku putus sama orang sebelumnya.

Sebelumnya aku juga cerita sama Sandi kalo aku punya pacar dan sudah menjalani pacaran selama tiga tahun tapi dia fine-fine aja, katanya gak apa-apa, kita temenan aja tapi kok dia semakin mesra, semakin perhatian walaupun cuma lewat sms atau telpon. Dia bisa nunjukin perhatian dan kelembutannya memperlakukan cewek.

Tepat di hari ke tiga tahun hubungan aku dengan Rudi, aku memutuskannya dengan alasan sepele, karena dia marah-marahin aku di depan semua teman-temanku, padahal sebelum-sebelumnya emang sifat dia seperti itu tapi aku jadikan itu alasan kuat, aku ajak dia makan di luar sebagai hadiah ke tiga tahun jadian kami, dan akhirnya aku putuskan dia demi si Sandi itu. Aku melihat wajah Rudi terlihat sedih meskipun dia berusaha tenang dan menyembunyikan kesedihannya.

Pertemuan dengan si Sandi aku siapin sebisa mungkin supaya dia gak nyesel, memberi kesan pertama yang baik lah. Seperti biasa sebelum pertemuan itu aku malamnya telpon-telponan sama dia sampe setengah mati kita bisa menghabiskan waktu semaleman buat nelpon.

Aku ga tahu harus berkata apa ketika dia jujur kalo dia sudah bertunangan dengan perempuan lain dan akan menikah 6 bulan lagi, apa-apaan ini aku teriak kenapa gak jujur dari awal padahal aku sudah terbuka dengan semua kepribadianku, keadaan ku, aku marah, aku ga bisa memaafkannya tapi dia tetep ingin bertemu walaupun untuk pertama dan terakhir, aku berusaha tabah, berusaha kuat menghadapi lelaki brengsek itu.

Tiba lah saatnya pertemuan itu pertemuan pertama sekaligus terakhir yang dia katakan, dia minta maaf sampai wajahnya kelihatan mengiba tapi hati ku ga pernah bergeming, aku tetap dengan prinsipku bahwa aku tidak mau di duakan meski pun jadi cewe keduanya dia.

Aku tau semua yang dia ceritakan kepadaku tentang pekerjaannya yang staff administrasi di salah satu perusahaan itu bohong, tentang dia yang tinggal di sebuah kamar mewah fasilitas kantor itu bohong. Aku sakit aku hampir terpuruk dengan kebohongan dia, dia begitu tega padaku.

Saat-saat sedih seperti itu aku teringat Rudi, mantanku yang jorok dan keras kepala itu. Apa kabarnya dia? meski dia nyebelin setidaknya dia tidak pernah membohongiku.

Demikian sedikit curhatku, terimakasih kepada pembaca ceritacurhat.com yang telah membaca cerita ini. Salam.
***

Seperti diceritakan kawan Shanty kepada redaksi ceritacurhat.com. Punya cerita dan pengalaman hidup untuk dibagi ke pembaca? kirim tulisan anda disini.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *