Menu

Kusembunyikan Masa Laluku Dari Suami

Sebut saja namaku Tari. Usiaku saat ini 28 tahun dan sudah menikah. Hingga 3 tahun usia pernikahanku dengan suami, Tuhan belum juga memberikan amanah padaku untuk menjadi seorang ibu. Tapi aku dan suami senantiasa bersabar menunggu anugerah itu datang pada kami berdua. Kisah ini adalah cerita masa lalu hidupku yang selalu kusembunyikan dari suami.

Cerita masa lalu istri

Cerita masa lalu istri

Secara tidak sengaja aku menemukan situs ceritacurhat.com ini. Dan entah kenapa aku ingin berbagi cerita masa lalu hidupku kepada para pembaca. Cerita ini tidaklah patut untuk ditiru, tapi apa yang akan aku ungkapkan ini semoga bisa bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi para pembaca.

Aku terlahir di sebuah keluarga yang sederhana. Walaupun begitu aku bersyukur kami semua tidak pernah berkekurangan. Aku adalah sulung dari tiga bersaudara, dan aku satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Ayahku seorang Pegawai Negeri yang cukup disegani bawahannya karena kebetulan beliau menduduki posisi yang cukup penting di kantornya. Sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga biasa.

Cerita dimulai ketika usiaku menginjak 13 tahun, saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Untuk pertama kalinya aku berpacaran dengan kakak kelasku, sebut saja namanya Yudi. Aku begitu menyayanginya karena dia adalah sosok yang sempurna di mataku. Baik, pendiam, sederhana dan juga sangat menyayangi aku. Hubungan kami bertahan selama 2 tahun saja. Karena kesalahpahaman kami akhirnya putus.

Putus dari Yudi aku dekat dengan teman seangkatanku, sebut saja namanya Wirya. Wirya yang awalnya mengejar-ngejar cinta teman sekelasku, entah bagaimana akhirnya berubah menjadi dekat denganku. Kami jadi sering curhat, entah itu masalah pribadi atau masalah sekolah. Tiada hari tanpa dia menelepon aku, entah itu hanya untuk menyakan kabar atau ada hal lain (padahal di sekolah kami selalu bertemu karena kelasnya bersebelahan dengan kelasku). Atas bantuan salah seorang temanku, kami akhirnya jadian. Tidak ada yang berubah meskipun kami sudah berpacaran, semuanya masih sama seperti saat kami masih berteman.

Baca juga cerita menarik lainnya:

Hubunganku dengan Wirya berjalan tanpa ada hambatan, bahkan kedua orang tuanya juga tahu kalau kami berdua sedang berpacaran meskipun saat itu kami masih berstatus pelajar SMP. Aku dan kedua orang tua Wirya juga sangat dekat. Mereka sudah menganggapku seperti anak perempuan mereka karena kebetulan Wirya adalah anak satu satunya di keluarganya. Entah aku tidak ingat berapa lama kami berpacaran. Tahu-tahu kami putus begitu saja. Namun hal itu tidak pernah menghambat hubungan pertemananku dengan Wirya. Kami menjadi sahabat, bahkan bisa dibilang lebih dekat daripada sebelum kami berpacaran. Cerita apapun selalu aku bagi dengannya, baik suka maupun duka.

Advertisement


Setelah putus dari Wirya hingga memasuki kelas 2 SMA, aku sama sekali tidak pernah memiliki pacar. Hingga di pertengahan kelas 2 SMA aku berkenalan dengan adik kelasku, sebut saja namanya Dedy. Kami dipertemukan dalam sebuah acara organisasi. Dan melalui bantuan teman sekelasnya, akhirnya akupun jadian dengan Dedy. Dia mulai rajin mengantarkan aku pulang setiap usai sekolah. Dia juga sering ngapel di malam minggu.

Sebenarnya pada saat itu, teman-teman dekatku tidak ada yang setuju aku pacaran dengan Dedy, bahkan termasuk Wirya. Tapi aku abaikan semuanya karena aku terlanjur sayang dengan Dedy. Setelah 2 atau 3 bulan jadian (aku lupa tepatnya berapa bulan), Dedy tiba tiba meninggalkan aku tanpa alasan yang jelas. Aku pasrah dengan keadaan itu meskipun sebenarnya dalam hati aku marah. Aku juga tidak pernah mau mencari tahu kenapa dia meninggalkan aku meskipun sebenarnya kami satu sekolah.

Aku gengsi karena aku merasa aku adalah kakak kelas, rasanya tidak pantas kalau aku mengejar cinta adik kelasku.

Kuungkapkan perpisahanku dengan Dedy kepada Wirya. Tidak ada komentar apapun yang kuterima darinya atas ceritaku. Dari situ aku mulai dekat lagi dengan Wirya. Aku tahu jika dia sudah punya pacar, tapi entah kenapa aku mau saja menjalani hubungan tanpa status dengannya. Dia mulai kembali sering mengantar jemputku ke sekolah (karena kebetulan SMA kami berbeda). Dan hal itu diketahui oleh pacarnya yang kemudian marah dan cemburu padaku. Bodohnya aku saat itu menurut saja ketika aku dipertemukan dengan pacarnya dan aku diminta menjelaskan jika hubungan kami hanya sebagai sahabat dekat. Dari peristiwa itu akhirnya kami kembali memutuskan bahwa kami hanya cocok menjadi sahabat saja.

Dan cerita cintaku yang sebenarnya hingga awal bencana pun dimulai ketika aku memasuki kelas 3 SMA. Oleh Maya temanku sebangku, aku diberi nomor telepon seseorang. Dia bilang itu adalah nomor telepon seorang laki laki. Iseng aku coba sms nomor itu, aku mengajaknya berkenalan. Tak disangka ternyata pemilik nomor itu menanggapi serius ajakanku. Dia memperkenalkan dirinya bernama Ari dan dia tercatat sebagai seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Jawa Timur.

Singkat cerita, aku dan Ari akhirnya jadian meskipun kami belum pernah saling bertemu. Dia intens sekali menghubungi aku, baik lewat sms atau telepon. Seminggu setelah kami jadian, dia berjanji padaku kalau dia akan pulang ke kota kami untuk menemuiku secara langsung. Dan benar saja, dia membuktikan ucapannya. Dia benar benar pulang ke kota tempat asal kami. Malam itu dia meneleponku mengajak bertemu. Tentu saja aku girang bukan main, karena untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan pacar yang selama seminggu ini sudah mengisi hari hariku. Aku berdebar debar menunggu pertemuan itu. Aku takut jika Ari tidaklah seperti yang ada di dalam bayanganku. Tapi aku menguatkan diri, apapun keadaannya, entah ganteng ataupun jelek aku akan tetap menerima dia.

Dan pertemuan di malam itupun terjadi. Ya Tuhan, aku benar benar terkesima dibuatnya. Wajahnya sangat ganteng dan tutur katanya sangat lembut. Aku benar benar jatuh cinta dengan dia. Malam itu kami berputar putar keliling kota dan berhenti di sebuah tempat yang cukup sepi. Disitu Mas Ari (aku memanggilnya dengan sebutan Mas dan dia memanggilku dengan sebutan Yank) kembali menembak aku. Tentu saja aku mengiyakan ucapannya itu. Dia memelukku dengan mesra dan erat. Jantungku berdetak kencang dibuatnya. Dan yang lebih membuat aku kaget, dia mencium bibirku dengan lembut dan mengucapkan terimakasih padaku karena bersedia menerima cintanya. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku benar benar jatuh cinta pada Mas Ari, dan aku merasa dia adalah cinta pertamaku meskipun dia bukanlah pacar pertamaku.

Hari hariku dipenuhi oleh kebahagiaan,dan aku benar benar dibutakan oleh cinta Ari. Di setiap tarikan nafasku ada nama Ari, dan di setiap langkahku selalu ada bayangannya. Aku bahkan rela membolos dari sekolah hanya agar bisa bermesraan dengan dia. Tentu saja hal itu aku lakukan hanya pada hari Sabtu saja karena hari Sabtu di sekolahku pelajarannya tidak terlalu padat. Dan kebetulan saat itu Mas Ari sedang libur semester, jadi kami bebas bermesraan sepuas hati.

Suatu hari, dia mengajakku kerumahnya yang kebetulan sedang sepi karena orang tuanya pergi keluar kota. Disitulah awal mula peristiwa itu terjadi. Mulanya kami hanya mengobrol biasa, perlahan lahan dia mulai mencium bibirku. Awalnya hanya ciuman bibir yang hangat dan lembut. Tapi lama lama dia semakin menjadi dan bernafsu. Dia menggendongku masuk ke kamarnya, melucuti satu persatu pakaianku dan mulai mencumbuiku.

Aku berontak dan menolak, tapi dia mengiba padaku dan mengatakan jika dia benar benar teramat mencintai aku dan berniat menjadikan aku sebagai istrinya jika aku sudah lulus sekolah nanti.

Dia tidak mau kehilangan diriku. Akupun luluh dengan perkatannya dan membiarkan dia menjangkau setiap inchi dari tubuhku. Tidak munafik karena aku juga menikmatinya. Kuserahkan milikku yang paling berharga kepadanya. Sesudah itu, aku menangis tersedu di pelukannya. Aku merasa kotor dan sangat berdosa, akan tetapi dia menghiburku dan membesarkan hatiku. Disini cerita masa lalu yang begitu kubenci akhirnya terjadi.

Setelah peristiwa itu, setiap kali ada kesempatan bertemu kami selalu melampiaskan kerinduan dengan berhubungan intim layaknya suami istri. Hingga suatu hari aku mendapati sebuah fakta yang begitu mencengangkan. Aku yang selalu beranggapan jika Ari adalah laki laki yang sempurna nyatanya salah. Ternyata di belakangku Ari menyembunyikan kenyataan bahwa dia adalah seorang pecandu alkohol dan pengguna narkoba. Aku shock dengan kenyataan itu, tapi aku berusaha ikhlas menerima dia apa adanya, karena dia juga sudah meminta maaf padaku atas ketidakjujurannya selama ini. Dan dia juga berjanji akan berubah.

Tidak terasa sudah 7 bulan usia hubunganku dengan Ari. Suatu hari, saat dia pulang ke kota kami dia mengajakku bertemu. Seperti biasa akupun datang menemuinya dengan perasaan bahagia. Tapi perasaan bahagiaku berubah menjadi tangis dan amarah saat dia bilang jika dia ingin putus denganku. Dia bilang sejak awal dia tidak pernah mencintaiku. Bullshit!!!!! Alasan yang terlalu dibuat-buat menurutku. Tapi aku hanya bisa pasrah dan menangis.

Saat itu aku bersiap untuk ujian akhir kelulusan. Tentu peristiwa putusnya aku dengan Ari membuatku down. Aku benar benar terpuruk dan pernah mencoba untuk bunuh diri. Tapi Wirya dan seorang temanku yang bernama Gilang selalu menguatkan aku. Aku berusaha kembali bersemangat menjalani hari hariku meskipun sesekali aku masih berusaha untuk menghubungi Ari dengan harapan agar kami bisa kembali bersama. Tapi kenyataannya hal itu tidak pernah terjadi.

Tanpa kusadari aku menjadi sosok yang pendendam terhadap laki laki. Putus dari Ari, aku menjalin hubungan dengan Cahya. Hubungan tanpa status, tapi tidak luput dari hubungan intim layaknya suami istri. Aku jatuh dari pelukan laki laki satu ke pelukan laki laki yang lain.

Hingga semester awal aku kuliah, sudah tidak terhitung berapa laki laki yang pernah aku kencani dan tidur denganku. Aku seperti perempuan murahan yang selalu berganti ganti pasangan, bedanya aku tidak pernah mendapat bayaran.

Aku mengencani para lelaki itu hanya untuk membuat mereka jatuh cinta padaku, kemudian aku campakkan mereka seperti ketika dulu aku dicampakkan oleh Ari. Yaahhh… ini adalah balas dendam akan perlakuan yang dulu pernah aku terima dari Ari.

Hingga suatu ketika aku berpacaran dengan seorang anggota Angkatan Laut, sebut saja namanya Jacky. Tidak ada bedanya dengan yang sebelum sebelumnya, dengan Jacky pun aku pernah 2 kali tidur dengannya selama 4 bulan usia hubungan kami. Aku jarang bertemu Jacky karena seringkali dia bertugas ke luar pulau.

Suatu saat aku berkirim pesan singkat dengan Wirya. Dia memberitahuku jika saat itu dia sedang ada di kota Malang bersama dengan teman temannya waktu SMA. Kebetulan memang cukup banyak dari teman teman Wirya yang juga aku kenal. Salah satunya adalah Christ. Singkat cerita aku dan Christ kemudian intens berhubungan lewat pesan singkat.

Suatu hari, aku menantang dia untuk mencarikan seorang pacar buatku. Tak disangka dia malah menawarkan dirinya sendiri untuk jadi pacarku. Ya sudah, gayungpun bersambut dan aku menerima ajakannya untuk pacaran, meskipun sebenarnya niatku tidak tulus. Aku cuma ingin menjadikan Christ sebagai selingkuhan selama Jacky tidak ada, dan menjadikan dia pacar simpananku di kota Malang.

Ketika kukatakan niatku pada Wirya dia marah dan tidak suka dengan tindakanku. Tapi aku bergeming dan tidak menghiraukan ucapannya. Aku nekad jadian dengan Christ. Dua hari setelah resmi jadian dengan Christ, entah apa yang membuat aku tanpa sadar mengirimkan pesan kepada Jacky dan meminta putus darinya. Jacky menolak permintaanku dan mengatakan bahwa dia akan menemuiku setelah dia kembali dari tugasnya.

Baca juga:

Dua minggu hubunganku dengan Christ, aku nekat menemui dia di kota Malang. Malam pertama aku menginap di tempat kontrakannya dia sudah menyetubuhiku. Sebenarnya aku merasa berdosa, apakah harus terus menerus seperti ini gaya berpacaranku?? Aku sendiri tidak dapat menjawab. Hingga suatu pagi di hari Jumat aku mendapat telepon dari ayahku. Ternyata ayahku tahu jika sudah seminggu aku bolos kuliah dan berada di Malang. Beliau sangat marah dan menyuruhku untuk pulang saat itu juga.

Di luar dugaanku, Christ ternyata bilang dia akan bertanggungjawab dan mengantarku pulang. Segala sesuatunya harus dihadapi bersama. Singkatnya, kedua orang tua kami bertemu membicarakan masalah kami. Bahkan dengan berani Christ mengatakan pada kedua orang tuaku jika memang diminta, maka saat itu juga dia bersedia menikahi aku. Tapi orang tuaku malah tidak berani mengahadapi tantangan Christ tersebut.

Aku semakin yakin jika Christ adalah laki laki yang tepat untukku. Dia bisa menerima segala kekurangan dan kelebihanku. Dia juga bisa mengimbangi emosiku yang meledak ledak. Akupun semakin ingin membuktikan kepada orang tuaku bahwa pilihanku tidak salah. Bahwa tidak selamanya sesuatu yang diawali dari hal yang tidak baik akan berujung tidak baik juga.

Selama 5 tahun aku menjalani hubunganku dengan Christ yang selalu diwarnai suka dan duka. Hingga suatu hari aku mendapati diriku positif hamil. Kebetulan saat itu Christ sudah bekerja di salah satu instansi pemerintahan di sebuah kota yang tidak terlalu jauh dari kota tempat asal kami. Aku memberitahu dia jika aku sedang hamil. Dengan santainya dia menjawab bahwa mungkin sudah waktunya kami menikah agar tidak terus menerus berbuat dosa.

Hari pernikahanpun sudah ditentukan, tapi sayangnya dua minggu menjelang hari pernikahan, aku keguguran. Janin yang kukandung ternyata tidak berkembang sempurna sehingga aku terpaksa harus dikuret. Aku cuma bisa bersedih tapi apa mau dikata… Mungkin ini adalah teguran Tuhan untukku dan juga Christ. Akupun terpaksa meninggalkan bangku kuliah karena aku sudah menikah dan orang tuaku tidak mau lagi membiayai kuliahku, sementara suamiku belum mampu dan siap untuk membiayaiku kuliah.

Kini aku mengikuti Christ tinggal di sebuah kota yang sejak dulu menjadi impianku untuk ditinggali. Disini aku merajut hari hariku bersama suami tercintaku, Christ. Sambil kami terus berusaha dan berdoa agar bisa kembali dikaruniai momongan. Semoga cerita masa lalu ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca. Tapi hingga cerita ini kutulis, aku tidak pernah mengatakan semua tentang masa laluku kepada suamiku. Aku masih terlalu takut untuk jujur tentang semua yang kualami kepada suamiku. Aku harus bersikap bagaimana??

***

Seperti diceritakan kawan Tari ke redaksi ceritacurhat.com via email. Tulis dan kirim cerita anda disini.

8 Comments
  1. arok
  2. Yuli Purniyanto
  3. hamdani
  4. Om Senang Lugu
    • astrid
  5. lia
  6. Aan semarang
  7. Fiddy Feryscho Athar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *