Menu

Kemana Langkahku Kan Kubawa

Hai para pembaca semua, panggil saja aku Tie. Ini adalah cerita keluarga kami yang sangat miskin. Aku anak ketiga dari 3 bersaudara yang berarti aku anak bungsu. Sejak kecil aku hidup tanpa pernah melihat wajah sang ayah, entah sosok ayahku itu seperti apa, aku tidak tahu.

Cerita keluarga miskinAku dihidupi sang mama, dan sang mama pula yang membesarkan serta menjamin semua keperluan kami bertiga, Kami sekeluargasangat mencintai mama tapi waktu itu kami masih kecil sehingga mamalah yang menjadi tulang punggung keluarga kami.

Mama hanya bekerja sebagai borongan di sebuah perusahaan udang di Kalimantan. Aku dan kakak perempuanku masih bersekolah di sebuah sekolah di Kalimantan. Sementara kakak pertamaku namanya Zul, dia akhirnya berhenti sekolah setelah tamat SMP karna membantu mama mencari nafkah, dia bekerja sebagai kuli bangunan.

Kakak perempuanku namanya Suci. Aku akui Suci memang pintar di sekolah, dan Suci dapat beasiswa karna prestasi, tapi sayang kakak stop sekolah juga. Saya pun bingung, apakah saya harus mengikuti jejak kakak-kakak saya yang hanya lulusan SMP lalu bekerja?

Baca juga cerita keluarga lainnya:

Berhenti Sekolah

Ternyata benar setelah lulus dari SMP, mama saya yang sudah berumur 63 tahun mencoba menasehati saya yang ingin melanjutkan sekolah “Tie mama sudah tidak sanggup biayai kamu sekolah.” Blessssssttttttttt, hatiku kacau dengar kata-kata mama, karna saya kasihan melihat mama yang sudah tua masih bekerja, saya pun berkata “iya mak, Tie juga sudah bosan sekolah.” kata-kata yang keluar dari mulut saya bukanlah keinginan dari hati.

Tapi saya tidak patah semangat untuk mencari jalan agar saya bisa melanjutkan sekolah. Yang pertama saya datangi adalah guru BK saya, saya bercerita tentang keadaan saya yang sudah tidak mampu untuk melanjutkan sekolah lagi. Beliau berjanji akan membantu saya agar saya dapat melanjutkan sekolah. Maklum waktu itu sekolah belum gratis seperti sekarang.

Guru BK saya mendatangi rumah saya ingin membicarakan tentang masalah kelanjutan saya bersekolah, saat itu rumah saya masih gubuk beratapkan daun rumbia, mungkin dalam hati guru saya iba melihat keadaan kami.

Advertisement


Setelah bicara banyak kepada orang tua saya, alhamdulillah mama tergugah hatinya mengizinkan saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Ucapku dalam hati Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah membukakan pintu hati mama.

Setelah kisahku ku beritahukan pada guru BK, ternyata cerita itu di dengar juga oleh guru-guru yang lain. Mereka membantuku mendaftarkan sekolah gratis yang ternyata di luar pulau Kalimantan ini, namaku pun masuk dalam daftar siswa baru di kota Balikpapan.

Saya senang bercampur sedih harus meninggalkan mama dan saudaraku di kalimantan. Disini mulai aku merasa putus asa, ternyata mama tak mengizinkan aku bersekolah di luar pulau Kalimantan, demi mengejar cita-cita saya pun nekad pergi ke bandara dengan berjalan kaki lebih dari 10 kilo, perjalanan aku tempuh menuju bandara tanpa membawa uang 100 rupiah pun.

Mama Sakit

Cerita keluarga kami berlanjut, di bandara telah menunggu teman-teman dan guru yang mengantar ke asrama balikpapan. Seminggu masa mos ku lalui, datang surat dari Kalimantan yang mengabarkan, mama sakit dan terkena stroke. Tanpa kupedulikan guru yang memberiku surat, aku menangis dan merasa sangat berdosa.

Tanpa mempedulikan sekolah dan barang-barang di asrama aku mulai berjalan seperti anak yang terbuang menuju bandara tanpa uang dan ticket, sampai di bandara aku pun bingung, bagaimana cara agar aku dapat pulang kembali ke Kalimantan.

Dua malam tidur di bandara tanpa makan dan hanya minum air mentah di musholla bandara, saya duduk di ruang tunggu bandara, sudah banyak yang bertanya, kenapa gak pulang? rumahnya dimana? tapi hanya sebatas bertanya.

Tibatiba datang dari arah belakang bapak-bapak bertanya, “kemarin saya lihat kamu disini, sekarang ada lagi? kok gak ganti baju? kamu nunggu siapa?, ternyata bapak itu memperhatikan saya dari kemarin. Disitu saya memberanikan diri bercerita panjang lebar tentang masalah yang kuhadapi.

Alhamdulillah bapak ini baik dia membantu saya membelikan ticket yang kalau tidak salah harga ticket pada masa itu masih harga 75 ribu, masih terbilang mahal untuk ukuran keuangan pada masa itu.

Semoga bapak yang menolong saya pada masa itu membaca tulisan ini. Terima kasih bapak. (saya pun tidak tahu nama beliau). Setelah sampai dikalimantan, saya kembali berjalan kaki menuju rumah, sesampai saya dirumah, saya melihat mama yang terbaring lemah dengan tangan yang kaku dan mulut yang miring ke kiri.

Astagfirullah ucapku, akibat ulahku orang tuaku seperti ini. Dengan berbagai omelan yang ku dengar dari kakak tertuaku Zul. Sejak saat itu aku mengambil keputusan yang membuat aku menyesal sampai sekarang yaitu putus sekolah.

Sekolah Paket C

Tahun demi tahun berganti, 4 tahun silam ku lewati dengan bekerja serabutan, dari memulung sampai menjadi pembantu rumah tangga, keinginanku tetap bersekolah masih besar, sampai pada aku di pertemukan dengan teman kerjaku yang menawarkan sekolah paket C atau setara dengan SMA.

Akupun mengambil program pembelajaran paket C, setelah melalui pembelajaran paket C, Alhamdulillah aku lulus dan harus menunggu 1 tahun terbitnya ijazah paket C ku, selama setahun pun aku mengumpulkan uang sebesar Rp.800.000 ribu untuk menebus ijazah paket C ku.

Aku berterima kasih kepada Allah telah di beri jalan hidup yang mudah untukku, walau sulit awalnya tapi aku percaya Tuhan akan memberikan aku kekuatan melewati semua cobaan.

Aku ingin lanjut kuliah, tapi ekonomiku yang pas-pasan tidak bisa membantuku, apa lagi dengan keinginanku yang bercita-cita menjadi dokter. Aku hanya berharap ada dermawan yang mau membantuku mewujudkan cita-citaku dan membantuku mencarikan pekerjaan agar aku dapat membantu orang tuaku dan mewujudkan apa yang menjadi ambisiku menjadi seorang dokter.

Terimakasih sudah mau meluangkan waktu membaca curhatan dan cerita keluarga kami, wassalam.

***

Seperti dikisahkan kawan Anti ke redakasi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini.

3 Comments
  1. ari subekti
  2. bule
  3. Otong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *