Menu

Karena Dendam Akhirnya Aku Menikah Dengan Pria Lain

Entah, apakah dengan menulis kisah ini akan membuat hidupku menjadi lebih baik atau tidak, yang jelas aku hanya ingin kisah ini menjadi pembelajaran bagi banyak orang.

Cerita menikah pria lainPertama, kenalkan dulu namaku Melan (bukan nama sebenarnya). Aku adalah seorang wanita berusia 25 tahun. Sudah menikah dan dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu dan ganteng berusia 3 tahun. Suamiku bekerja di perusahaan BUMN.

Sekilas, hidupku memang terasa biasa saja. Seperti orang normal lainnya. Berkeluarga, mengurus anak, mengurus rumah tangga dan aku memiliki usaha butik di daerahku. Namun, sebenarnya aku menyimpan suatu rahasia. Rahasia yang hanya aku dan dia yang tahu.

Aku menikah tanpa dasar cinta. Saat itu, aku merasa sangat dendam dengan mantanku yang mengkhianatiku, dia bertunangan dengan wanita lain. Kabarnya sih dijodohkan oleh ibunya. Dia tidak bisa menolak keinginan ibunya yang memiliki sakit jantung itu.

Aku mendengar kabar itu dari orang lain, bukan dari dia sendiri. Aku benar-benar tidak bisa menerima itu semua. Bukannya aku berusaha mempertahankan cintaku, karena ego aku pun berjanji akan membalas semua rasa sakit hatiku dengan menikah duluan. Dan mudah saja bagiku untuk melakukan itu.

Karena aku cantik, dengan mudah aku bisa mendapatkan banyak laki-laki. Aku jadi sering gonta ganti pacar. Bukannya karena aku suka mempermainkan perasaan orang, tetapi karena aku mencari yang siap lahir batin untuk segera menikah denganku. Tentu saja karena deadline untuk segera membalas sakit hatiku. Aku ingin dia merasakan juga betapa sakitnya ditinggal menikah duluan.

Dan akhirnya, aku mendapatkan laki-laki yang sangat serius, baik hati, dan tentu saja mapan, paket komplit deh. Namanya mas Rian. Aku pun menikah dengannya meski dalam hati aku tahu sama sekali tak mencintainya.

Setelah menikah perlakuanku terhadap mas Rian, benar-benar jauh dari sikap istri idaman. Aku sering marah-marah, sering berbuat semauku, sering juga ketika aku ada masalah dengan butikku, dia juga yang kena.

Advertisement


Entah kenapa aku tidak bisa menghargai dia. Aku sadar itu salah, tapi aku juga tidak bisa berubah dengan cepat. Sifat pemarahku memang sulit dikendalikan. Selain itu, aku juga gampang sekali menyalahkan orang lain meski itu kesalahanku. Memang keindahan rupa, belum tentu bisa diimbangi dengan keindahan hati.

Dan yang paling parah, aku masih saja memikirkan mantanku itu. Aku masih sangat mencintainya. Dengannya, aku bisa luluh. Dengannya, aku begitu mudah melupakan kesalahannya. Dengannya pula, aku bisa merasa sangat bahagia. Dia lah satu-satunya orang yang bisa aku hargai. Cintaku padanya ternyata tidak pernah berubah sampai dengan detik ini.

Hingga pada suatu hari, kami bertemu secara tidak sengaja di mall. Ternyata gayung bersambut, dia bahkan meminta nomor handphone ku. Karena aku memang sudah mengganti nomorku semenjak awal menikah. Kelihatan sekali dimatanya, bahwa dia sangat merindukan aku. Kamipun hanya mengobrol sebentar.

Pertemuan selanjutnya, kami janjian. Kami karaokean bersama. Sedih rasanya saat melihat dia selalu memilih lagu-lagu yang menggambarkan hubungan yang selalu terpisahkan. Seperti lagunya Judika, Setengah Mati Merindu. Benar-benar tidak bisa kubendung air mataku saat itu.

Sejak itu, hubungan kami semakin dekat. Aku benar-benar masih ingin bersamanya seperti dahulu. Bahagia saat selalu ada disisinya. Ah, andai waktu bisa diputar, aku akan memilih dia sebagai suamiku, apapun konsekuensinya , aku akan mempertahankan dia. Tetapi itu sudah tidak mungkin lagi, kami sudah sama-sama berkeluarga. Akupun menyadari itu.

Hingga suatu saat, kecelakaan menimpaku. Aku jatuh dari motor, dan harus dirawat. Aku patah tulang bagian siku kanan. Mungkin itu terguran dari tuhan. Aku jadi semakin sadar, bahwa kami tidak jodoh. Karena takut azab yang lebih besar lagi, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengakhiri perselingkuhan kami.

Semoga para pembaca sekalian bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Kejarlah cinta kalian jika itu masih memungkinkan. Jangan pernah gengsi untuk mengungkapkan isi hati. Dan jangan pernah mengawali hubungan karena suatu keterpaksaan dan juga dendam.

Dan untuk para orang tua, tugas kalian hanya memberi arahan pada anak kalian, tetapi jangan sampai memaksakan. Sekian cerita dari saya, terimakasih kepada redaksi cerita curhat , karena sudah memuat cerita ini.

***

Seperti dikisahkan kawan Melan ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *