Menu

Karma Hidupku Menjadi Istri Kedua

Cerita cinta yang kujalani berubah menjadi sangat kelam ketika aku memilih hidup merantau di Bandung dan berteman dengan banyak orang. Kini aku hanya bisa pasrah menjadi istri kedua setelah mahkota dan harga diriku hilang direbut pacar-pacarku. Mungkin ini adalah karma atas apa yang pernah aku jalani saat masih muda.

cerita cinta istri keduaNama saya Gina (nama samaran), saat ini saya telah berumahtangga dan dikaruniai seorang putri yang cantik. Orang-orang mungkin melihatku bahagia tapi pasti tidak ada yang menyangka jika saya sebenarnya adalah istri kedua.

Wanita mana sih yang bercita-cita menjadi istri kedua? Pastilah tidak ada. Namun hal ini saya jalani karena saya insyaf dan sadar bahwa ini bisa mengangkat kehormatan saya sebagai wanita dan mengubur dalam-dalam masa lalu saya yang hitam.

Cerita cinta yang kelam itu berawal saat saya merantau ke Bandung. Hidup mandiri dan terpisah jauh dari orang tua memang memerlukan tanggungjawab yang besar. Apalagi untuk ‘remaja’ yang baru lepas dari pengawasan orang tua seperti saya waktu itu.

Setelah lulus SMA saya tidak melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Saya pun akhirnya mengadu nasib sebagai buruh pabrik di Bandung.

Pengalaman berorganisasi dan kemampuan otak yang lumayan menempatkan saya di posisi yang lumayan pula di pabrik. Jadi staff administrasinya walaupun gaji tetap pada level minim. Pergaulan dan gengsi di tempat kerja pun ikut-ikutan naik.

Saya sering diajak hangout dan acara-acara lainnya oleh sesama staff. Mulailah saya mengenal pergaulan dunia malam anak-anak Bandung. Cafe, karaoke, diskotik, sampai pernah saya diajak oleh salah seorang teman kerja janjian dengan seorang cowok (dia bilang pacar) padahal teman saya itu sudah punya suami.

Baca juga cerita cinta menarik lainnya:

Advertisement


Jujur saja sebagai anak dari kampung yang baru ‘tahu’ hal-hal seperti itu, batin saya menolak. Tapi lingkungan pergaulan saya terus menyeret saya semakin jauh mengenal itu semua.

Singkat cerita, saya bertemu dengan seorang laki-laki. Sebut saja Hendi. Dia satu kampung dengan saya. Tapi bedanya dia merantau di Bandung untuk kuliah. Kostan kami berdekatan dan dia seumuran dengan saya, hobby kita sama, dan kita mempunyai banyak kesamaan dalam berbagai bidang.

Karena hal tersebut dan banyaknya waktu yang kita habiskan berdua, maka mulai tumbuhlah perasaan suka di hati. Namun sayangnya dia telah memiliki seorang pacar. Mereka LDR karena pacarnya itu kuliah di luar kota pula.

Mungkin karena saya cinta buta atau karena pengaruh lingkungan, saya dan Hendi melakukan hubungan suami istri. Padahal status kami tidak berpacaran dan Hendi jelas-jelas masih berhubungan dengan pacarnya. Ok.. itu kebodohan saya.

Atas nama cinta kami akhirnya berhubungan badan. Lama kami terus melakukan perzinaan itu, saya sadar itu dosa tapi tidak sanggup menolaknya, karena saya juga menikmati hubungan itu.

Walau begitu tetap ada rasa di khianati karena Hendi masih saja tidak mengakui saya sebagai pacarnya dan tetap menjaga hubungan LDR dengan pacarnya yang pertama. Saya yang bodoh tapi saya merasa sakit hati atas tindakan hendi. Ditambah bila Hendi sedang sibuk kuliah atau ngumpul dengan teman-teman kampusnya, saya semakin merasa terabaikan dan sakit.

Hal ini selalu memicu pertengkaran kami. Hingga akhirnya saya bosan dan memutuskan membalas perbuatan Hendi dengan berselingkuh.

Saya dekat dengan berbagai macam lelaki, (tapi tidak sampai ML) hingga saya bertemu kembali dengan teman SD waktu saya berlibur ke Jogja. Kebetulan teman SD saya ini kuliah di Jogja. Namanya Okta. Dengan Okta saya benar-benar melampiaskan dendam saya pada Hendi.

Saya ML dengan Okta karena saya tahu reputasi Okta yang juga tukang main perempuan. Saya berasumsi, saya butuh Okta untuk membalas sakit hati saya pada Hendi, saya tidak butuh cinta darinya. Disisi lain Okta pasti hanya menganggapku sebagai kesenangan saja. Keputusan ini masuk dalam daftar kebodohanku.

Bodoh,, aku sangat bodoh dan emosional!

Akhirnya, saya kembali pulang ke Bandung dan tetap berhubungan dengan Hendi. Sampai akhirnya saya mempunyai masalah di tempat kerja dan memutuskan untuk resign. Hendi saat itu sedang mengambil mata kuliah kerja praktek dan dia ada di luar kota untuk beberapa bulan.

Hidup sebagai pengangguran di Bandung bukanlah hal menyenangkan. Apalagi dengan semua biaya hidup yang harus dikeluarkan setiap hari. Tanpa Hendi pula. Akhirnya saya pulang kampung sambil berharap bisa mendapatkan panggilan kerja lainnya di kampung.

Untunglah tidak lama setelah itu saya mendapat informasi dari seorang teman mengenai lowongan pekerjaan. Karena rekomendasi dia akhirnya saya memperoleh pekerjaan baru di daerah Jakarta Utara. Sayapun pindah domisili ke Jakarta dan mulai merantau lagi.

Hubungan saya dengan Hendi masih berjalan. Walaupun hanya lewat telepon, SMS, atau sekedar chatting di dunia maya. Sesekali saya berkunjung ke Bandung untuk melepas rasa rindu padanya. Namun akhirnya hubungan itu pun tidak bertahan lama.

Mulai banyak percekcokan diantara kami dan lalu Hendi menjadi sangat sulit untuk di hubungi. Disaat itu, maka aku kembali kepelukan Okta untuk melampiaskan kegundahan hatiku.

Demikian cerita cinta yang kujalani. Sekarang aku sudah menikah dan menjadi istri kedua. Aku bahagia dengan kehadiran anak semata wayangku, semoga hidupnya nanti lebih baik dan bahagia, tidak seperti Ibunya ini.

***

Seperti diceritakan kawan Kessya ke redaksi ceritacurhat.com. Punya pengalaman hidup untuk disharing ke pembaca lain? Tulis dan kirim cerita anda disini.

7 Comments
  1. Dony
  2. adim
  3. miemi
  4. evitha
  5. bule
  6. Tety Suhartiop
  7. Zhinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *