Menu

Aku Tahu, Tuhan Sedang Mengujiku

Cerita ini berawal ketika aku kuliah disalah satu Universitas swasta di Bandung, aku anak perempuan tunggal di keluargaku, aku sangat menyayangi mamah dan ayahku. Singkat cerita aku berkenalan dengan salah satu senior di kampusku bernama Irfa (nama samaran), teman-temanku yang mendekatkan aku dengan Irfa, setelah sekian lama dia menitipkan salam pada akhirnya aku dipertemukan dengan orangnya dikampus. Pada saat itu aku pertama kali melihat sosok Irfa jujur merasa biasa saja terhadapnya dan tidak ada perasaan suka sedikitpun terhadapnya.

ujian dari tuhanTapi hubungan kami berlanjut ketika Irfa mulai meng-add facebookku dan kami mulai bertukar nomor hp dan smsan setiap hari. Hingga pada akhirnya Irfa mengsms aku mengajakku keluar dan ingin menjemputku di kosan. Oh iyaa karna aku jauh dari rumah aku tinggal di kos yang jaraknya dekat dengan kampusku. Aku bertemu dengan Irfa dikosan ku, aku menyuruhnya masuk dan memberi dia minum setelah itu kami pergi untuk makan yang aku tau pada saat itu Irfa adalah sosok laki-laki yang sederhana tapi karena itulah dia menambah nilai plus dimataku ku, mulai pada saat itu aku menyimpan rasa simpatik terhadapnya.

Setelah makan dia mengantarku pulang ke kosan sejak dari itu hubungan kita berlanjut sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk jadian. Aku mulai menyayanginya apalagi setiap hari kami sering bertemu dan akupun merasakan Irfa sangat menyayangiku, pada saat itu aku bersyukur bisa mendapatkan laki-laki sederhana dan baik, akan tetapi……..

Disinilah letak kebodohan yang aku lakukan, karena terlalu sering besama ditambah kondisi tempat kos yang bebas membuat hubunganku dengan Irfa seakan tanpa batas. Siang malam bersama membuat kami sudah seperti suami istri bahkan aku rela memberikan keperawananku kepadanya tanpa ada sedikitpun rasa sesal dihatiku. Aku merasa sudah memberikannya kepada orang yang benar-benar aku sayang walaupun ketakutan sering menghantuiku, aku takut dia meninggalkanku, aku takut dosaku terhadap Tuhan tapi karna kasih sayang yang Irfa berikan aku percaya dia akan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan terhadapku dan Irfa sering mengimamiku dalam sholat aku merasa kehidupanku sempurna, mungkin hanya masalah waktu Irfa akan menikahiku setelah lulus kuliah nanti dan aku terus berdoa untuk itu.

Tapi memang rencana hanya tinggal rencana, Allah lah yang menentukan semuanya, Irfa mulai berubah pelan-pelan meninggalkanku dan ketakutan yang menghantuiku semakin bertambah hingga akhirnya aku berubah menjadi sosok perempuan yang tidak bisa mengontrol emosi, setiap Irfa tidak disampingku aku pasti marah karna aku takut ditinggalkan, hingga akhirnya menjadi bomerang untuk hubunganku dengan Irfa. Aku semakin menjadi sosok perempuan yang posesif terhadap irfa maka tidak heran Irfa mulai takut atas sikapku ini.

Tak ada lagi kebahagiaan tak ada lagi senyuman, sekarang yang ada hanya pertengkaran. Hingga pada akhirnya aku mengancam Irfa kalau dia tidak mau bertanggung jawab maka akan aku laporkan apa yang sudah dia lakukan pada orang tuanya, karena mungkin Irfa takut akhirnya Irfa jujur pada ibunya tentang aku dan apa yang telah kita lakukan, disitu ibunya mengajakku untuk bertemu dirumah pamannya karna ibunya tidak mau ayahnya Irfa sampai mengengetahui hal ini.

Akhirnya aku dipertemukan dengan ibu dan om Irfa disitu, aku takut tapi Irfa menggenggam tanganku dengan erat sekali mungkin dia ingin meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, hal itu membuat aku yakin semua akan baik-baik saja. Ibu Irfa sangat baik dan ramah kepadaku, aku senang mengenalnya. Ibunya mulai membicarakan bagaimana baiknya hubunganku dengan Irfa, hingga pada akhirnya kita semua menyepakati bahwa kita akan menikah NANTI !! Setelah aku dan Irfa lulus kuliah dan Irfa selesai masuk Akmil, memang itu bukan waktu yang cukup singkat tapi aku yakin itu semua akan bisa aku lalui tentunya dengan adanya Irfa disampingku.

Tapi makin lama waktu berlalu, aku merasa semakin tersisih bahkan waktu untuk bertemu Irfa pun tidak sesering dulu, sms pun hanya seadanya, aku makin rapuh menjalani kehidupanku tanpa dia. Setelah pertemuan itu tidak ada lagi pertemuan dengan Irfa. Aku makin tidak sanggup, kesehatanku drop dan kuliahku terganggu. Melihat kondisiku ini, mamahku mulai curiga melihat perubahan yang terjadi padaku. Mamah akhirnya tahu setelah kuceritakan semuanya. Kata mamah sebaiknya aku mengakhiri hubunganku dengan Irfa.

Air mataku jatuh seketika, aku mencium kaki mamah dan aku memohon maaf dan berkata sejujurnya apa yang telah aku lakukan selama ini dengan Irfa, untuk pertama kali aku melihat mamah menangis, kecewa, marah mendengar pernyataanku saat itu aku seakan menjadi sosok perempuan yang hina akan tetapi pelukan mamah lah yang membuat hatiku tenang. Mamah hanya meminta untuk bertemu dengan orang tua Irfa setelah dihubungi akhirnya mamahku dan ibunya Irfa bertemu di rumah om nya karna tidak mau hal ini diketahui oleh ayahnya Irfa.

Ketika bertemu aku hanya berharap keadilan terhadapku, akan tetapi aku sadar ternyata Ibu Irfa yang awalnya aku kenal ramah tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat jahat, perkataan yang keluar dari mulutnya pun mulai menyinggung perasaanku, dia hanya memenangkan hak anaknya tanpa memikirkan aku.

Mamahku hanya bisa menangis, saat itu akhirnya aku bicara kalau aku ikhlas kalaupun Irfa tidak mau bertanggung jawab karena ini sepenuhnya kesalahanku juga telah memberikan keperawananku padanya. Waktu itu aku meminta waktu untuk menenangkan hati karna tidak bisa secepat itu aku bisa mengakihiri semuanya, Aku dibawa pulang kerumah oleh mamahku untuk menenangkan hati dan pikiranku.

Ayahku tidak mengetahui akan hal ini karena aku meminta mamahku untuk tidak menceritakan hal ini kepada ayahku karna pada saat itu melihat kondisi ayahku yang sering sakit-sakitan, aku tidak mau kalau penyakit ayahku bertambah parah setelah mendengar anaknya seperti ini. Ketika aku tidak disengaja membuka fb ku tiba-tiba yang kulihat hubungan antara aku dengan Irfa diakhiri olehnya apakah tidak ada sedikitpun Irfa memberikan waktu untukku menyembuhkan lukanya hingga dia tambah lagi luka nya dengan ini, aku menangis dan aku coba menghubungi ibunya disitu aku hanya mendapatkan kata-kata yang tidak aku lupa sampai saat ini sms ku berisi (tante kenapa Ifra mengakhiri hubungan secara tiba-tiba dan secepat ini aku salah apa tante) dan balasan dari ibunya hanya (kamu tidak salah apa-apa tapi kamu hanya seorang perempuan MURAHAN!!)

Detak jantungku seakan terhenti sejenak, aku seakan dimatikan oleh kata-kata ibunya terhadapku. Ya Allah seorang ibu yang juga perempuan sama sepertiku bisa berkata demikian, mesti nerima semua itu tapi aku bertekad aku mesti bangkit dari semua keterpurukan ini aku ingin menebus dosa-dosaku pada mamah dan ayah terutama pada Allah.

Dengan perasaan yang masih luka aku mencoba untuk berdiri tetapi Allah masih mengujiku. Selang beberapa hari setelah  kepulanganku ke Bandung, aku tiba-tiba diberi kabar agar segera pulang ke rumah mamahku karena penyakit ayahku makin parah dan mulai drop, aku pulang dijemput oleh supi akan tetapi sesampainya di teras depan rumahku aku melihat banyak sekali orang-orang berada dirumahku dan diluar kenapa aku temui bendera kuning? Siapa yang meninggal? Ketika aku berjalan menyusuri rumah ku aku melihat sosok lelaki tua yang kusebut ayah telah berbaring tanpa membuka mata dan bernafas lagi.

Gak bisa aku gambarin perasaan hatiku aku saat itu ya Allah kenapa berat sekali cobaan yang kau beri untukku, hanya itu yang bisa aku ucapkan, kenapa mesti ayahku? Disaat aku mulai bangkit kenapa ada hal lain yang menjatuhkan aku lagi. Tidak hanya itu selang 7 hari meninggalnya ayahku aku liat Irfa sudah memiliki perempuan lain dan tidak perduli sedikitpun tentang kondisi ku saat itu sungguh aku sedih Irfa jahat sekali terhadapku.

Sekarang aku memutuskan untuk pindah kuliah dan memulai hidup baru, aku ingin melupakan masa laluku dengan Irfa. Aku yakin apa yang Allah kasih sekarang itu merupakan hal terbaik untukku, aku selalu bersyukur dan tetap tersenyum, I promise god always in my heart apa yang Irfa dan ibunya lakukan semoga aku bisa memaafkannya.

***

Seperti dikisahkan Bunga (samaran) kepada redaksi ceritacurhat.com. Punya pengalaman hidup untuk dishare kepada pembaca? klik disini untuk kirim cerita.

3 Comments
  1. Abdullah SPsi
  2. bule

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *