Menu

Aku Bertahan Meski Suami Tukang Selingkuh

Dua belas tahun menjalani rumah tangga, tanpa terasa. Aku seorang istri yang tidak lagi mencemaskan apakah suamiku masih sayang, atau apakah suamiku setia. Hatiku sudah kumiliki sendiri. Akulah yang berhak menentukan aku bahagia atau tidak, bukan orang lain.

Aku Bertahan Meski Suamiku Tukang Selingkuh

Aku Bertahan Meski Suamiku Tukang Selingkuh

Sejak awal menikah sudah kurasakan beban hati yang pasti akan terjadi. Kami menikah karena saling mencintai, itu menurutku.

Berpacaran tiga tahun, tabah dengan cobaan, cibiran bahkan penolakan dari saudara, keluarga bahkan orang tua, membuat kami tertantang untuk membuktikan keteguhan kami.

Aku ikhlas menikah meski suamiku, sebut saja Arif, belum bekerja. Aku berusaha tetap menghormati dan menunjukkan rasa hormatku kepada orang lain terhadap suamiku.

Tiada hari tanpa kudoakan agar suamiku bisa memberikan nafkah untuk istrinya, dan menunjukkan kepada orang tuaku, bahwa aku tidak salah memilihnya.

Kucium tangannya saat aku akan pergi, meminta ijinnya jika aku keluar rumah. Aku masakkan makanan kesukaannya, meski aku belum terbiasa dengan seleranya. Tidak perlu kuceritakan satu persatu jeritan hatiku, ketika aku terkaget-kaget dengan sifat asli suamiku, karena aku telah ikhlas menerimanya, dia pilihanku.

Baca juga cerita menarik lainnya:

Advertisement


Akhirnya, dua bulan setelah kelahiran putra pertamaku, suamiku diterima bekerja di sebuah perusahaan otomotif terkenal. Perlahan namun pasti kondisi keuangan kami mulai membaik, bahkan gaji yang diterima suamiku jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan gajiku. Tanah, rumah, bahkan mobil bisa diberikan untuk melengkapi rumah tangga kami.

Suatu hari memasuki tahun ke dua pernikahan kami, aku menemukan sms mesra dari seorang perempuan. Ketika kutanyakan itu adalah teman lamanya ketika kost semasa mahasiswa. Tapi kali ini aku tidak percaya, karena sebelumnya kami pernah bertengkar karena membaca sms dari perempuan yang sama. Hanya saja saat itu aku mempercayai penjelasannya.

Akhirnya aku mengingatkan komitmen kami… “aku tidak melarangmu untuk mencintai perempuan lain, atau menikahi perempuan lain, asal kau ikhlas juga melepasku ketika aku siap untuk lepas darimu. Kau punya hak itu, aku pun punya hak untuk hidup bahagia. Lebih sakit dikhianati, daripada bercerai denganmu. Jika kita bercerai, aku tidak ingin mengenangmu sebagai pengkhianat, tapi memang karena takdir kita untuk bersama sudah sampai pada waktunya.”

Tegar

Akhirnya permohonan maaf suamiku terucap juga. Aku membentengi diri untuk selalu percaya pada suamiku. Tapi yang terjadi di tahun-tahun selanjutnya sungguh menyayat hati. Aku pernah memergokinya tidur bersama perempuan selingkuhannya di rumah kami, saat aku dan anak pertamaku mengunjungi rumah orang tua.

Singkat cerita, setelah perselingkuhannya terungkap entah untuk yang keberapa kali, di tahun pernikahan kami yang keenam suamiku bercerita dengan jujur bahwa ia sering tidur dengan perempuan lain.

Marahkah aku, kecewakah aku? jawabannya sama dengan perempuan-perempuan lain dimanapun. Tapi aku terlalu tegar untuk menahan perih.

Janji-janji untuk memperbaiki diri kuterima dan kudengarkan dengan baik, apalagi kami sudah dikaruniai dua putra. Di tahun ketujuh pernikahan kami, bahkan suamiku pernah bertanya,”aku terlalu banyak salah padamu, gambarkan rasa sakit hatimu.” Aku hanya menjawab.. “rasa sakit hatiku bahkan sampai aku tidak bisa merasakan sakit lagi.”

Tuhan. Aku tidak bisa mencintainya lagi, meskipun kami tidak bercerai. Aku tidak perlu lagi mencari tahu dengan siapa saat ini suamiku selingkuh, dan aku tidak membutuhkan pengakuan atau permohonan maaf lagi, karena sudah tidak ada hati lagi untuknya.

Akhirnya aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dalam dua tahun, karirku meroket, menyibukkan diri bekerja, agar aku selalu siap dengan apa pun prahara rumah tanggaku. Aku tidak pernah meminta uang dari suamiku, bukan karena aku benci, tapi memang aku harus mempersiapkan diri. Aku terima berapa pun yang diberikan ketika ia membayar belanjaan kami, dengan rasa syukur. Kubiayai asuransi jiwaku dan kedua anakku dengan tujuan aku tidak ingin merepotkan suamiku.

Jatuh Cinta

Pembaca bisa bayangkan rumah tanggaku seperti apa, dingin, hambar. Hebatnya, aku tidak pernah menolak hasrat suamiku saat ingin bercinta denganku. Suamiku tahu, hatiku tidak lagi untuknya. Tetapi memang demikian kenyataannya.

Semakin aku tidak lagi mencintainya, semakin aku tenang. Apakah kami bertengkar jika aku menemukan dia berselingkuh lagi? tidak, bagiku biasa saja. Apakah aku membencinya? Tidak, biasa saja. Terpikir untuk membalas perselingkuhannya pun, tidak. Sampai suatu hari memasuki tahun pernikahanku yang kesebelas.

Posisiku sebagai kepala cabang sebuah perusahaan swasta, mengharuskankanku untuk selalu menghadiri acara rutin pertemuan antar kepala cabang di kantor pusat. Tidak ada yang istimewa, selain koordinasi saja.

Namun di bulan Februari 2013, salah seorang manajer di kantor pusat menyatakan perasaan sukanya. Dan… seorang manajer itu berusia sepuluh tahun lebih muda dariku, sebut saja Herdy. Herdy tahu aku telah bersuami dan punya anak, dia hanya tidak bisa memendam rasa sukanya padaku selama ini.

Sebelas bulan komunikasi kami makin dekat, meski jarak kami berjauhan. Penolakan demi penolakanku diterima dengan sabar. Aku pernah merasakan sakitnya dikhianati, akupun tidak ingin mengkhianati. Tapi akhirnya aku tidak berdaya. Kesabarannya, rasa teduh yang kudapatkan darinya.

Akupun tersentak, aku telah jatuh cinta padanya. Aku tidak pernah tidur dengannya. Tapi sehari tanpa sapaan manisnya, bisa membuatku gelisah sepanjang hari. Bagaimana ini.

Herdy ingin memilikiku seutuhnya, tentu saja aku tidak bisa. Aku hanya bisa memberikan hatiku padanya, tapi bukan tubuhku. Herdy tidak pernah tahu derita batinku, tapi aku tidak mau membalas suamiku dengan menerimanya. Dengan pedih harus kujawab, aku hanya bisa menikah lagi jika suamiku melepasku.

Mohon saran pembaca, agar aku tetap tegar.

***

Seperti dikisahkan kawan Azra ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini.

22 Comments
  1. isa
  2. Mas Ton
  3. Lusy
  4. ninj4unyu
  5. StupidWoman
  6. cakil
    • Pussy cat
  7. cakil
    • frankie ann
      • dede
  8. Andara
    • Melinda
  9. Napoleon
  10. Mala
  11. sari
  12. Kabisat
  13. karen
  14. ficky
  15. Hany
  16. bunda vandra
  17. Tifftany Roza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *