Menu

Menderita Preeklampsia, Aku Tidak Bisa Memiliki Anak

Ini kisahku, setelah 2 tahun menikah akhirnya aku hamil. Begitu senang hati ini, rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata karena ini kehamilan pertama buat aku. Saat tes USG aku tersenyum bahagia membayangkan di dalam perut ini ada seorang bayi. Aku jadi tidak sabar menanti buah hatiku lahir.

Preeklampsia, aku tidak bisa memiliki anak

Aku preeklampsia

Saat kandunganku memasuki usia 7 bulan, berat badanku makin hari makin bertambah. Awalnya aku pikir ini adalah hal yang wajar dialami oleh semua ibu hamil.

Tapi pada saat aku periksa kandungan, ternyata tekanan darah aku sangat tinggi dan menurut dokter ada protein yang sangat banyak dalam urin ku.

Akhirnya dokter menyarankan aku untuk dirawat inap, esok harinya kandunganku kembali di USG.

Inallilahiwa’inalilahiroziun, bayi yang ada dalam kandunganku ternyata sudah tidak lagi bernyawa. Rasanya shock, sedih, kecewa jadi campur aduk pada saat itu.

Ingin rasanya marah tapi aku sadar itu adalah takdir yang harus aku jalani dengan ikhlas. Pada saat itu dokter langsung mengambil tindakan agar bayi yang ada dalam kandunganku segera dapat dilahirkan agar rah1mku bersih, dan Alhamdulilah kini aku kembali sehat.

Hamil Kedua

Singkat cerita setelah satu tahun berlalu aku kembali hamil anak yang kedua, kali ini aku benar-benar menjaga kandunganku dengan baik.

Advertisement


Setiap hari aku selalu berdoa agar aku dan bayiku selalu dalam keadaan sehat. Semuanya aku jaga mulai dari asupan makanan sampai sebuah nama pun sudah aku persiapkan dan Alhamdulilah berat badanku kali ini tidak naik.

Aku sempat dirawat di rumah sakit selama satu minggu karena tekanan darah aku naik, katanya untuk jaga-jaga, tapi Alhamdulilah setelah itu aku bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan janinku pun kuat.

Tepat 7 bulan sudah usia kandunganku, kami sekeluarga mengadakan acara syukuran 7 bulanan, semuanya berjalan sesuai dengan harapan, semuanya senang akupun jadi tenang.

Esok harinya tepat jam 04.40 subuh, tiba-tiba perut aku mulas, seperti orang yang mau melahirkan. Pada saat itu juga aku langsung periksa kandunganku di puskesmas terdekat, dan benar kata dokter jaga aku akan melahirkan.

Preeklampsia

Di sinilah awal kegundahan yang aku alami. Aku takut dan cemas karena harus melahirkan sebelum waktunya padahal di puskesmas tersebut tidak alat pendukung untuk bayi yang lahir sebelum waktunya.

Akhirnya aku di bawa ke rumah sakit untuk melahirkan di sana tapi jarak antara puskesmas dengan rumah sakit kurang lebih sekitar 2 jam. Bisa dibayangin 2 jam aku harus menahan rasa mulas yang amat sangat.

Rasanya sudah tidak kuat, tapi melihat suami, orang tua, keluarga semua sangat berharap dan senantiasa berdoa untukku, aku menjadi lebih kuat lagi, aku pasti bisa.

Akhirnya sampai juga di rumah sakit, dan aku langsung dibawa ke ruangan bersalin. Setelah 2 jam aku berkelahi dengan rasa mulas di perjalanan, sekarang aku berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan buah hatiku tercinta.

Baca juga: Hidup Baru Bersama Hemodialisa

Dengan keadaan badan yang lemas dan tak berdaya akhirnya buah hati ku lahir,, tapi betapa sedihnya hati ini melihat buah hatiku lahir tapi tidak menangis,, iya anakku sudah tidak ada lagi. Untuk yang ke dua kalinya aku harus kehilangan putra-putriku.

Akhirnya dokter menjelaskan aku terkena preeklampsia. Untuk semua Ibu hamil, preeklampsia adalah meningkatnya kadar protein dalam urin yang disertai dengan meningkatnya tekanan darah dan terkadang terjadi pembengkakan pada wajah, tangan, dan kaki.

Preeklampsia hanya terjadi pada wanita yang sedang hamil saja dan dapat menyebabkan kematian pada janin.

Demikian sedikit cerita dariku dan aku yakin Allah punya rencana yang indah buatku nanti terimakasih.

***

Seperti dikisahkan kawan Khumaira ke redaksi ceritacurhat.com. Tulis dan kirim cerita anda disini. Jangan lupa beri komentar cerita di atas.

3 Comments
  1. dede
  2. John Smith
  3. Tita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *