Menu

Bapak, Ibu.. Maafkan Anakmu Ini

Aku dibesarkan dari keluarga berada. Kakekku mempunyai tanah luas di Kota Balikpapan. Aku cucu pertama di keluarga kami jadi tidak heran jika aku dimanja, terutama oleh kakek nenekku. Pada tahun 1999, kondisi ekonomi keluarga kami berubah. Sejak tanteku meninggal kakek-nenekku drop. Semua asetnya dijual, Ayah ibuku terpaksa merantau ke kota Batam.

maafkanAku masih dititipkan ke kakek nenekku, namun karena aku susah diatur dan agak tomboy aku diambil alih oleh orangtuaku. Di kota Batam aku memulai kehidupan baru, hidup dari nol. Orangtuaku tidak punya apa-apa, aku kasihan kepada mereka. Aku mulai giat belajar, sifatku mulai ku ubah.

Perlahan tapi pasti aku dapat rangking dikelas. Lulus SD aku dapat beasiswa. Aku menjadi kuper saat SMP dan sama sekali tidak menarik, tidak ada laki-laki yang melirikku. Masa ABG kulewati tanpa punya pengalaman berpacaran. Lulus SMP, aku kembali dapat beasiswa full di SMA, Aku mulai belajar berdandan untuk menarik lelaki, akhirnya aku dapat pacar.

Tidak tanggung-tanggung, dalam waktu singkat aku bisa punya empat pacar. Ciuman pertama kudapat dari pacar ke empatku yang paling cakep, namanya Agus. Lulus SMA aku melanjutkan ke Akademi kesehatan di Kota Semarang. Aku bergaul dengan siapa saja bahkan ikut organisasi mahasiswa di kampus. Akupun berkenalan dengan pacar kesepuluhku berinisial Endy.

Sejak SMA aku sering gonta ganti pacar. Si Agus mantan pacarku masih sering menggangguku. Sewaktu pacaran dia sering membawakanku apa saja. Mungkin dia kecewa dan sakit hati karena dia kuputuskan makanya dia begitu. Dia juga mengganggu hubunganku dengan Endy. Aku dan Endy satu kelas, dia sering antar jemput aku.

Hubungan kami semakin dekat dan akhirnya kami melakukan hubungan suami istri. Sejak saat itu Endy sangat protektif, aku tidak diperbolehkan bergaul dengan siapa saja, bahkan mantan pacarku si Agus pun dia lawan. Rahasia ini aku simpan, orangtuaku tidak boleh tahu.

Di kota Semarang gaya hidupku mulai berubah, tidak segan aku berbohong kepada orangtua untuk meminta uang. Akhirnya aku tejebak kepada tuntutan gaya hidup borjuis yang kujalani. Aku tidak bisa meminta terus ke orang tua sementara Endy tidak bisa memberikan aku apa-apa. Aku menyadari aku tidak akan bahagia dengannya. Aku meninggalkan Endy walaupun sebenarnya aku sangat menyayanginya.

Endy tidak bisa terima ia bahkan sering mengancamku bahkan memukuliku. Akhirnya aku mengambil jalan untuk pindah kuliah untuk menghindari Endy. Dosen, teman-temanku dan orangtuaku bahkan tidak mengerti keputusanku. Orangtuaku sangat kecewa tapi mereka menyetujuiku kembali kuliah. Aku pindah ke sebuah PTS di Jogjakarta.

Di kota ini, aku bukannya membaik, aku malah bertambah malas dan jarang masuk kuliah. Aku berkenalan dengan Anto yang merupakan keluarga dari temanku. Karena tertarik kedewasaannya, aku ikuti katanya untuk tinggal bersamanya. Aku memutuskan berhenti kuliah. Hubungan kami ditentang keluarganya karena kami kumpul kebo duluan lalu nikah siri.

Keluargaku tidak tahu menahu kalau aku sudah pindah ke kota Jogja bersama Anto. Akhirnya mereka menghubungi keluargaku, keluargaku marah besar. Bahkan mereka menjemputku pulang. Mereka melarang aku berhubungan dengan Anto lagi. Tapi aku tidak bisa lepas dengan Anto karena aku sudah hamil. Keluargaku tahu, dan janinku mulai diaborsi. Aku memberitahukan kepada Anto kalau aku hamil tapi dia tidak percaya.

Upaya aborsi itupun berhasil, aku sering diminumkan jamu peluruh oleh ibuku. Aku dengar ibuku juga pergi kedukun untuk menjauhkan aku dari Anto. Memang pada akhirnya aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Anto sejak peristiwa itu. Aku mulai menata kembali hidupku yang suram.

Sekarang aku kembali ke Batam tinggal bersama orang tuaku. Aku jatuh bangun, aku sangat kasihan kepada orangtuaku yang mulai menua. Mereka masih memaafkanku dalam kondisi seperti itu bahkan menerima semua hujatan tetangga tentang aku. Tiga Tahun berlalu sekarang aku berhasil bekerja sebagai asisten bos di sebuah perusahaan. Orangtuaku tetap memberiku suppor . Aku sudah berdosa banyak dengan orangtuaku. Maafkan Anakmu ini.

***

Seperti diceritakan kawan Rizka kepada redaksi ceritacurhat.com. Punya cerita dan pengalaman hidup untuk dibagi ke pembaca? kirim tulisan anda disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *