Menu

Rindu Ayah

Hai, namaku Adriana. Aku lahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana.Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Meski hidup sederhana, tapi aku selalu bahagia.

Rindu ayah dan Ibuku

Rindu ayah dan Ibuku

Aku sangat senang meski tanpa ibu, ibuku telah meninggal, waktu aku masih berusia 9 tahun. Dua tahun setelah ibu meninggal, ayahku menikah lagi. Sejak saat itu keadaan pun berubah dari kebahagiaan kini hidupku rapuh, sedih dan sepi.

Setelah aku tamat sekolah dasar ayahku jatuh sakit. Dokter mengatakan bahwa hidup ayah tidak lama lagi karena bengkak jantung yang ia alami. Kini hidupku bertambah sedih.

Meski demikian Ayah tetap mendaftarkan aku di sebuah sekolah menengah pertama. Dengan syarat aku harus tinggal bersama pamanku. Sekarang aku memulai hidup baruku, hidup yang begitu kejam, dimana tak ada kasih sayang, tak ada cinta dan tak ada suka.

Aku selalu di pukul oleh pamanku, kalau telat pulang ke rumah, meski hanya 5 menit saja. Tapi semua itu tak pernah menggentarkanku. Aku tetap berjuang dan terus berdoa. Hingga pada suatu hari aku pun berhasil dan lulus dari bangku SMP.

Sekarang kakakku mendaftarkanku di Sebuah Sekolah Menengah Pariwisata. Aku tidak mau, karena keadaan yang tak memungkinkan. Kadang Ayah dan saudaraku hanya makan ubi, ataupun tidak makan sama sekali. Tapi kakakku tetap memaksaku untuk lanjut ke SMA.

Dengan syarat aku harus tinggal dengan pamanku yang lainnya. Hidupku kini baru lagi, keadaan yang selalu membuatku menangis setiap hari. Selain mengerjakan semua pekerjaan rumah, aku juga menjadi seorang babysister dari anaknya yang masih umur 2 bulan. Saat itu keadaan Ayahku sudah sangat parah.

Advertisement


Suatu hari tepatnya tanggal 12 di bulan 12-2012. Hari itu hari terakhir ujian tengah semester tapi entah kenapa hatiku sangat sedih.

Sepulang sekolah Aku mampir di tempat temanku untuk mengerjakan tugas, setiap kali kuketik nama ayah di laptop, selalu saja gagal atau bahkan hilang. Firasatku pun tidak enak. Kukeluarkan hp ku dari saku tas. Lalu tekan tombol hijau.

Aku menelepon ayah. Saat itu ayah masih menjerit kesakitan. Dia terus saja memanggil namaku. Namun kakakku tidak memberitahuku bahwa ayah sedang dalam keadaan kritis. Jam 18.00 aku sudah berada di rumah pamanku. Hatiku terus gelisah, pikiranku tak menentu.

Pukul 22.00 hp pamanku berdering, lalu dia bergegas menjawabnya. Kulihat raut mukanya yang tadinya biasa saja kini jadi merah-merah. Setelah itu dia menyuruhku mengemas pakaian untuk pulang kampung. Dia mengatakan kalau ayah sudah tidak ada harapan lagi.

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ayah. Aku terus melihat fotonya di layar hpku sambil menangis. Ketika sampai di rumahku. Aku melihat sebuah tenda besar depan rumah. Aku berlari, kudapati Ayah sudah terbaring dengan ditutupi kain kafan di pintu rumah. Sambil teriak aku langsung pingsan.

Kini hidupku tiada artinya lagi. Kedua orang yang kucintai telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Wajah manisnya tak akan ku lihat lagi.

Semua sudah hancur hanya kehampaan dan kekosongan hati yang kurasa. Tiada lagi canda, semua tentang dunia kulupakan. Aku berencana untuk mengakhiri hidupku tapi kakakku selalu menguatkanku. Dengan perjuangannya yang gigih aku pun bisa selesaikan SMA dan S1.

Pesan: Kadang Tuhan itu mengambil hal terindah dalam hidupmu,untuk kamu mengerti arti dari sebuah dari perjuangan hidup.

***

Seperti diceritakan oleh kawan Adriana ke redaksi ceritacurhat.com melalui email. Punya kisah serupa? tulis dan kirim ke redaksi disini. Jangan lupa beri komentar cerita di atas di kolom komentar.

Tags:,
One Response
  1. Michael

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *