Menu

Aku Tidak Bahagia Dengan Keluarga Suamiku

Aku tinggal di Bekasi, terlahir dari keluarga sederhana. Ayah seorang kuli bangunan dan ibuku dagang warung. Aku anak satu-satunya namun walaupun aku seorang wanita aku sangat bercita-cita menjadi orang yang sukses ataupun membanggakan keluargaku. Sampai akhirnya aku lulus kuliah D3 dan bekerja di perkantoran. Sekarang usia ku genap 25 tahun dan aku sudah menikah. Begini kisahku…

Aku tidak bahagia keluarga suami

Aku tidak bahagia keluarga suami

Tahun 2011 aku pacaran dengan seorang pria di perkantoran sampai akhirnya putus di tahun 2014 karena tidak adanya kepastian untuk kedepannya dan kemapanan pun sangat cukup jauh.

Walau begitu dia adalah pria pekerja keras hasil dari gaji ditabung dan dia tidak pelit, apapun yang aku minta pasti dibelikan entah itu jam / tas yang harganya sesuai dengan kemampuan dia.

Soal makan pun dia sangat loyal, tapi memang dia masih tidak punya apa-apa namun aku sangat bahagia dengannya, pacaran seperti teman sendiri. Apa mau dikata kembali lagi ke cita-citaku adalah membanggakan kedua orangtuaku maka akhirnya aku memutuskan untuk pisah.

Tahun 2015 aku pindah bekerja di Jakarta dan aku bertemu dengan seorang pria bernama Nanda di minimarket. Saat itu aku bingung pulang ke Bekasi dan pria itu menawarkan pulang bareng karena satu arah dan inilah awal mula ku bertemu dengan suamiku.

Semenjak sering pulang bareng dan kami telpon-telponan smsan, Nanda pun akhirnya menyatakan cinta kepadaku, awalnya aku menolak karena aku ingin tahu lebih dalam bebet bobot nya, dan akhirnya dia membawaku untuk berkenalan di keluarganya .

Awalnya aku melihat rumah yang cukup besar dengan mobil-mobil dan motor-motor mewah, berkenalan dengan keluarganya pun cukup baik-baik. Setelah itu aku menerima cintanya dan lamarannya kami pun menikah di tahun ini 2017.

Kesadaranku muncul ketika aku telah menikah dengannya, aku belajar bahwa jangan pernah melihat keindahan dari luar saja karena terkadang dalamnya busuk, dan ini aku alami.

Ketika tidak ada Nanda disampingku dan aku berkumpul sendiri dengan keluarganya, mereka seakan tidak menganggap aku ini ada. Aku selalu di cuekin dan diperbudak dan apapun yang aku lakukan selalu salah, selalu dibanding-bandingkan dengan menantu-menantunya yang lain, padahal aku sudah berusaha kuat untuk 1 level dengan mereka.

Mungkin Nanda tau tapi dia diam karena aku berpikir dia jika suruh memilih aku apa keluarganya pasti keluarganya.

Pernikahanku tidak mewah seperti apa yang aku impikan di gedung-gedung, pernikahanku hanya di depan rumah saja karena kelurganya dan Nanda tidak memberikan hantaran uang yang cukup untuk resepsi di gedung padahal aku yakin mereka banyak uang namun apa mau dikata kami ikhlas menerima karena lamaran sudah diterima dan tanggal pernikahan sudah ada.

Aku banting tulang untuk menutupi itu semua walaupun hanya menikah di rumah aku mau pernikahanku tetap meriah. Aku bekerja keras sampai lembur kadang diomeli oleh Nanda jangan pernah memaksakan karena menikah itu ibadah. Walaupun begitu aku ingin membahagiakan orang tua ku dengan pesta yang meriah.

Resepsi itu pun berlangsung dengan meriah hampir 90% tamu undangan datang, aku bahagia walaupun tidak di gedung menurutku menikah di rumah dengan apa yang aku usahakan sudah cukup puas dan orangtuaku senang.

Dua Hari setelah menikah aku berkunjung ke rumah mertuaku. Di sana sedang kumpul keluarga, dan apa yang terjadi aku tidak habis fikir acara pernikahanku di hina oleh mereka sekeluarga, mereka bilang tendanya tidak bagus, makanannya keasinan dan kepanasan karena kipasnya hanya satu, Nanda pun membelaku dan mengajakku pergi dari sana.

Aku menangisi itu semua di belakang suamiku, kenapa apa yang salah denganku apakah mereka tidak sadar hanya kasih uang sedikit hingga aku berusaha sendiri untuk memenuhi acara pesta, tidak ada 1 kata pun yang mereka katakan yang baik-baik buat aku.

Dan harta mereka yang terlihat pun itu hanya menutupi kesedihanku, ya bagai mana tidak setahu orangtuaku, teman-temanku – tetangga-tetanggaku, sekarang aku sudah berubah jadi orang kaya dengan hidup yang lebih baik (padahal tidak).

Tinggal di rumah mertuaku tidak sampai 1 bulan aku rasanya ingin pindah, karena aku merasa adanya ketidak adilan, aku tidak diperhatikan aku sakit pun mereka tidak tahu, karena Nanda hanyalah karyawan di perusahaan orang tua nya kadang dia di perintahkan yang tidak wajar seperti berangkat kerja gelap pulang gelap dan siang Nanda harus mencari customer-customer yang mau join.

Soal gaji pun ternyata hanya sedikit yang di berikan oleh orang tuanya bahkan lebih besar gajiku perbulan. Aku sadar ternyata mertuaku hanya memperkaya dirinya sendiri dan anak-anaknya maupun menantu-menantunya yang bisa ambil hati mertuaku dengan cara-cara yang licik.

Aku dan Nanda tidak bisa seperti itu kami hanya pasrah dan sabar.. 2 bulan kemudian pada akhirnya tabungan kami dikumpulkan untuk DP rumah dan mobil.

Allhamdullillah sekarang kami sudah pindah rumah dan punya mobil sendiri tanpa harus pinjam-pinjam mobil mertua. Walaupun masih kredit cukup bisa bangga sama diri sendiri dan orangtuaku pun senang melihat ku dan suami terlihat sukses.

Namun apa yang terjadi dengan keluarga mertuaku, mereka hanya mengomentari yang jelek-jelek. Ukuran rumah 72 yang sangat kecil, mobil sekenan lah.

Aku pun dan suami berusaha sabar dan tetap tersenyum, mungkin mereka iri dengan kami, tanpa kami harus mengemis ke mereka kami terbukti bisa mandiri dibandingkan yang lainnya rumah besar mobil mewah tapi hasil dari meminta ke mertua dengan cara-cara yang licik.

Dan intinya aku masih bersyukur memiliki suami yang baik menyayangiku, walaupun kadang dia tetap membela keluarganya tapi Allhamdullillah ada usaha dia untuk membahagiakanku.

Jika dibandingkan dengan mantanku yang sebelumnya, mungkin aku akan hidup biasa-biasa aja tapi bahagia dengan kesederhanaan, susah maupun senang tidak ada percekcokan antar keluarga karena aku tahu keluarganya menganggapku sebagai anak sendiri.

Dan sekarang aku harus terima hidup seperti ini dengan keputusan aku yang terdahulu walaupun senyumanku ini adalah kebohongan tapi ini untuk mereka yang aku sayangi. Mungkin jika mereka tahu akan begini, aku tidak akan diijinkan menikah dengan Nanda.

Aku dan Nanda sekarang ingin memiliki anak, semoga kami di berikan kepercayaan oleh Tuhan yang cepat sehingga kami bisa bertambah bahagia, walaupun aku tau pada akhirnya nanti anak aku akan dibanding-bandingkan dengan cucu-cucunya yang lain. Dan kakak-kakak ipar, adik ipar tidak rela jika uang-uang dari usaha keluarganya, aku dan Nanda menikmatinya.

Sekarang kami hanya bisa fokus bekerja, buang-buang jauh omongan jelek mereka dan terima saja yang bagus-bagusnya.

***
Punya pengalaman hidup yang menarik untuk dishare ke pembaca yang lain? tulis dan kirim cerita anda disini.

Loading...
One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *